Waspadai Predator Anak di Dunia Internet

Waspadai Predator Anak di Dunia Internet

Waspadai predator anak di internet. (Ist)

SHNet, Jakarta– Kecakapan dalam menggunakan internet dan media digital bukan hanya tentang penguasaan teknologinya saja. Namun bagaimana masyarakat mampu menggunakan media digital dengan penuh tanggung jawab.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat meluncurkan Gerakan Nasional Literasi Digital mengungkapkan di antara pengguna internet di Indonesia yang semakin tinggi, saat ini kejahatan di ruang digital pun ikut mengkhawatirkan.

“Kecakapan digital harus ditingkatkan dalam masyarakat agar mampu menampilkan konten kreatif mendidik yang menyejukkan dan menyerukan perdamaian. Sebab, tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital,” ujar Presiden Joko Widodo.

Diena Haryana, Pendiri Yayasan Semai Jiwa Amini dalam webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, berbagi isu parenting mengenai Keamanan anak lewat pengasuhan di era digital.

Di era digital saat ini, terutama sejak pandemi berlangsung kegiatan yang semula dilakukan offline kini berubah menjadi online termasuk sekolah. Anak-anak pun semakin kenal dengan penggunaan internet, sehingga ada wilayah yang harus diwaspadai orang tua terkait ancaman predator anak di dunia digital.

“Biasanya, anak yang didekati predator adalah mereka yang sering galau di media sosial, jadi mulanya dibuat nyaman, dirayu dan ditenangkan. Cara lainnya para predator anak bisa saja bermula dari main game online bareng, lalu meningkat pada chatting, sexting konten seksual, namanya anak-anak dibujuk pelan-pelan masuk ke hati mereka,” kata Diena.

Hal yang paling bahaya adalah ketika anak beraktivitas online dan sibuk dengan gawai mereka di dalam kamar, wilayah yang rawan anak-anak bisa didekati predator. Sebab kalau di kamar anak lebih punya kebebasan, ini salah satu hal sebagai orang tua untuk menjaga anak dengan mengharuskan kamar jadi wilayah bebas gawai untuk anak dan semua keluarga, sehingga anak paham.

“Wilayah kamar ini, taruh gadget kita di sebuah tempat bareng-bareng jadi sebuah kesepakatan juga, kalau memegang gadget harus bertanggung jawab. Tidak hanya kamar, termasuk meja makan agar jadi tempat bersama keluarga,” tutur Diena.

Bila sudah jadi kebiasaan baik, maka dunia digital harus disikapi hati-hati, orang tua harus menyampaikan bahwa kebiasaan tersebut dilakukan untuk melindungi anak-anak, di mana tugas orang tua sebagai pelindung dan harus konsisten untuk hal itu.

Keamanan anak dan agar tidak larut , agar lebih banyak di ranah kehidupan nyata, anak2 muda paling banyak jadi netizen dan salah satunya anak-anak kita

“Adiksi gawai termasuk bisa terjadi bila anak ingin selalu berharap kontak dengan si predator,” kata Diena lagi.

Dikhawatirkan predator anak ini bisa jadi mengirimkan gambar video tidak baik, mereka pelan-pelan diberikan konten yang ringan, ini tidak selalu laki-laki dengan laki-laki, masalahnya adalah anak pelan-pelan tertarik dan akhirnya menjadi bagian jadi diskusi, mereka mungkin akan mulai video call dan merekam gambar. Ini kenapa kamar harus jadi wilayah bebas gawai.

Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, kali ini menghadirkan pula nara sumber lainnya seperti Maman Suherman seorang penggiat literasi digital. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Stevani Elisabeth)