Terapkan Semangat Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika di Dunia Digital

Terapkan Semangat Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika di Dunia Digital

Terapkan semagat Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika di dunia digital. (Ist)

SHNet, Jakarta– Kecakapan dalam menggunakan internet dan media digital bukan hanya tentang penguasaan teknologinya saja. Namun bagaimana masyarakat mampu menggunakan media digital dengan penuh tanggung jawab.

Masyarakat perlu mengetahui dampak yang bisa ditimbulkan dari sekadar mengunggah atau mengomentari sesuatu di ranah digital seperti beberapa platform social media yang ada dari Facebook, Whats’App, Twitter, YouTube, hingga Instagram.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat peluncuran Gerakan Nasional Literasi Digital mengungkapkan saat ini kejahatan di ruang digital semakin mengkhawatirkan. Selain itu ada bentuk kekerasan hingga ujaran kebencian dan radikalisme berbasis digital yang harus diwaspadai.

Di samping dampak negatifnya, namun ada juga dampak positif dari penggunaan media digital seperti untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi yang harus diimbangi dengan adanya literasi digital yang bertujuan untuk meningkatkan kecakapan masyarakat dalam menggunakan media berbasis digital.

“Internet harus mampu meningkatkan produktivitas masyarakat, sehingga internet menambah nilai ekonomi masyarakat,” kata Presiden Joko Widodo.

Saat berbicara di Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Ari Budi Wibowo, Kepala Bidang Kemitraan Siberkreasi mengungkapkan ada perubahan interaksi sosial di era digital yang seharusnya bisa sejalan dengan nilai hidup Pancasila dan Bhineka Tungga Ika.

“Bahwa netizen kita cukup ganas, bahwa kita sendiri kadang tidak sadar berkomentar negatif,” ujar Ari.

Ada fakta bahwa rata-rata warga negara Indonesia menghabiskan waktu di media sosial 3 jam 14 menit. Data terbaru juga mengungkap, ternyata dari 274 juta lebih penduduk Indonesia saat ini sebanyak 170 juta yang aktif. Di tahun ini saja jumlah 61,8% pengguna media sosial.

“Sedihnya Indonesia berada di 10 besar negara yang kecanduan media sosial. Indonesia berada di peringkat 9, ini data yang baru saja dirilis,” kata Ari lagi.

Dia pun mengungkapkan di dunia digital yang semakin cepat ini, Indonesia sebagai negara yang multikultural dengan berbagai macam agama, suku bangsa, bahasa, harus kembali menerapkan toleransi dan budaya sesuai semangat Pancasila dan Bhineka Tungga Ika.

Hoax yang terjadi, cyber crime, ujaran kebencian yang terjadi bisa terjadi karena kita tak berbudaya. Alangkah baiknya kita menciptakan konten yang positif, karena kita paham bahwa di era digital tidak ada jarak lagi,” tutur Ari lagi.

Menyambung hal itu, Geri Sugiran, Dosen TIK Stikes Sukabumi mengungkapkan, perubahan interaksi sosial di era digital harus bisa disikapi dengan positif oleh para milenials. Di mana, mereka bisa berperan dalam mendukung literasi digital melalui produksi konten-konten positif.

“Tak kalah menarik, guru-guru mereka lah yang sering berinteraksi, mereka punya waktu untuk berinteraksi program yang dapat menyasar mereka. Anak-anak milenials biasanya butuh sesuatu konten yang ringan-ringan aja,” kata Geri.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah kota Sukabumi, Jawa Barat merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir juga nara sumber lainnya seperti Geri Sugiran, Dosen TIK Stikes Sukabumi yang membawakan materi tentang peran milineals dalam mendukung literasi digital. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Stevani Elisabeth)