Hindari Unggah Data Pribadi di Internet

Hindari Unggah Data Pribadi di Internet

Hindari memasukan data pribadi di media sosial. (Ist)

SHNet, Jakarta- Dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang paham akan literasi digital, Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar acara webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I.

Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021 dan berulang setiap tahunnya hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada tahun 2024. Oleh karena itu, penyelenggaraan kegiatan literasi digital dilakukan secara massif di 514 kabupaten/kota, di 34 provinsi, di Indonesia.

Kegiatan ini bertujuan untuk membangun wawasan dan pengetahuan terkait literasi digital dalam bentuk Seminar dan Diskusi secara online dan offline dengan target penduduk di kabupaten/kota tersebut khususnya ASN, TNI/Polri, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, Ibu Rumah Tangga, petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat meluncurkan Gerakan Nasional Literasi Digital mengungkapkan di antara pengguna internet di Indonesia yang semakin tinggi, saat ini kejahatan di ruang digital pun ikut mengkhawatirkan.

“Tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital,” ujar Presiden Joko Widodo.

Hadir sebagai nara sumber Eko Prasetya, Wakil Ketua Umum Relawan TIK Indonesia yang memberikan pemaparan untuk memahami konten secara utuh sebelum berkomentar dan menebar semangat positif lewat kolom komentar.

“Di Indonesia saat ini belum ada kurikulum bagaimana pentingnya rekam jejak digital sementara di luar sejak usia sekolah pendidikan literasi digital sudah diberikan,” ujar Eko.

Sehingga menurutnya tidak mengherankan kalau sampai hari ini yang terjadi adakah komentar di medsos berseliweran, sementara di masa depan komentar atau perilaku di sosial media tersebut akan menjadi cv digital seseorang.

Membaca kondisi yang terjadi di Indonesia di mana telah melewati masa pandemi di rumah lebih dari setahun. Orang tua bekerja di rumah, anak sekolah di rumah dan kegiatan daring termasuk bermain sosial media di dalamnya membuat penggunaan platform digital semakin lama durasinya.

Diketahui rata-rata orang menggunakan 8 jam 50 menit untuk berada di ruang digital di antaranya untuk livestreaming, podcast, bermain game. Namun yang paling besar dan bisa membawa dampak signifikan adalah durasi di media sosial yaitu 3 jam 14 yang rata-rata dihabiskan tiap orang. Di ruang digital ini seseorang bukan hanya akan menuliskan komentar tapi juga dapat menggunggah sesuatu yang ternyata tak disadari merupakan data pribadi.

“Terkait penyalahgunaan data baru 34,3% orang di Indonesia yang peduli, ini data April 2021. Masalah data ini padahal menjadi penting jika kita tidak hati-hati,” tutur Eko.

Terkait data ini, data pribadi seseorang adalah data bangsa, jika tidak dipedulikan akan mengancam kedaulatan bangsa. Eko pun berpesan bahwa catatan penting bagi semua orang, bahwa apa yang terjadi di dunia maya seharusnya tidak boleh berbeda di dunia nyata.

“Sosmed jangan gunakan untuk impress people tapi untuk memberi impact kepada banyak orang. Mari kita banjiri kanal sosial kita dengan sesuatu yang positif ,” tuturnya lagi.

Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat I, kali ini menghadirkan pula nara sumber lainnya seperti Afif Farhan, Wakil Redaktur Pelaksana Detik.com (sports) dan Dani Indra, Dosen STMIK Sumedang. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Stevani Elisabeth)