Banjiri Internet dengan Konten Positif, Ciptakan Budaya Literasi Digital

Banjiri Internet dengan Konten Positif, Ciptakan Budaya Literasi Digital

Banjiri Internet dengan Konten Positif, Ciptakan Budaya Literasi Digital. (Ist)

SHNet, Jakarta– Di tengah konvergensi digital yang membuat arus informasi menjadi semakin cepat dan kemunculan teknologi, lahir profesi baru seperti content creator atau infulencer. Profesi yang makin digemari milenials ini pun bisa menjadi cara untuk menciptakan budaya positif di dunia digital lewat konten yang bermanfaat dan inspiratif.

“Peran serta generasi milenials di sini bisa mendistribusikan konten positif, yang melawan hoax. Sambil membuat konten milenials juga dapat ikut menumbuhkan perekonomian lewat industri kreatif,” ujar Dendy Muris, Dosen Komunikasi dari Instirut Komunikasi dan Bisnis LSPR dalam webinar Literasi Digital untuk wilayahKota Bekasi, Jawa Barat yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Siberkreasi.

Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif sehingga dapat meningkatkan kemampuan kognitifnya untuk mengidentifikasi hoaks serta mencegah terpapar dampak negatif penggunaan internet.

Dalam webinar tersebut, Dendy megagkat topik “Tips and Tricks Membuat Konten yang Menarik Bagi Milenial”,

“Peran serta generasi milenials di sini bisa mendistribusikan konten positif, yang melawan hoax. Sambil membuat konten milenials juga dapat ikut menumbuhkan perekonomian lewat industri kreatif,” ujar Dendy.

Dia pun turut memberikan tips dan trik untuk milenials yang ingin menjadi content creator. Di antaranya dengan memperhatikan pra produksi, proses, hingga pasca produksi. Lalu seorang content creator juga membuat personal branding yang akan memengaruhi bagaimana audiens melihatnya saat tampil di publik.

Saat ini bentuk konten juga sudah semakin spesifik, karena itu seorang content creator harus tahu target audience mereka dan platform yang dipilih. Seorang content creator juga jangan asik sendiri, namun harus memaksimalkan partisipasi dari audiens misalnya dengan membuat kuis, give away, serta jangan lupa untuk membalas komentar.

“Partisipasi audiens menjadi salah satu tolak ukur berhasil tidaknya sebuah konten, jadi maksimalkan,” katanya lagi.

Tak lupa Dendy mengingatkan para milenials untuk bijak saat membuat konten serta memakai sosial media dengan berpedoman pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Sehingga budaya digital yang tercipta adalah lingkungan yang sehat dalam berinternet.

Webinar Literasi Digital di Kota Bekasi, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Asep Kambali, seorang sejarawan dan Eko Prasetya, Ketua Umum Relawan TIK Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital. (Stevani Elisabeth)