Kekaguman Nasir Tamara pada Sutan Takdir Alisyahbana dan Rumah-Villa Kayunya...

Kekaguman Nasir Tamara pada Sutan Takdir Alisyahbana dan Rumah-Villa Kayunya di Puncak

Ketua umum Perhimpunan Penulis Indonesia, Satupena,Nasir Tamara dan mantan Pemred Tempo, Bambang Harimurti di bagian belakang rumah atau villa, Pujangga Sutan TakdirAlisyahana di Tugu Selatan, Puncak, Bogor. Tidak jauh dari situ Mochtar Lubis dulu punya villa. Jadi mereka berdua banyak menghasilkan tulisan di Tugu Selatan yang jaraknya sekitar 5Km dari Puncak Pas.

SHNet, Jakarta-Saya pengagum intelektual, sastrawan & budayawan terkemuka Indonesia yg legendaris ini. Beliau pujangga besar yang menulis banyak sekali buku sejak usia remaja. Sutan Takdir Alisyahbana atau STA juga seorang enterpreneur yang sukses. Dekian ungkap Nasir Tamara dalam catatan khusus yang dikirim ke SHNet, Selasa (4/5).

Berkat semua karya-karya besarnya seperti “Layar Terkembang”, “Dian yang Tak Kunjung Padam”,  “Anak Perawan di Sarang Penyamun”,  beliau tetap hidup.  Saya beruntung dapat berziarah di rumah kayu beliau yang indah di Tugu Selatan, Puncak, Bogor, yang  dibelinya dari seorang Prancis tahun 1940.

Kediaman STA ini pernah diduduki oleh Darul Islam ( DI) & dijadikan markas. Di zaman Orde Lama rumah itu dirampas oleh kejaksaan beserta property lain di Jakarta. Hanya rumah di Tugu yang dikembalikan.Villa STA memiliki halaman yang luas. Puluhan jenis tanaman bunga indah yg dipeliharanya mekar memancarkan warna-warna yang sangat indah dalam udara sejuk pegunungan.

Saya beberapa kali bertemu beliau ketika masih menjabat Rektor di Universitas Nasional (Unas) yg didirikannya. Kami biasanya membahas peradaban Barat di Pusat Studi Eropa yang kini mungkin sudah tidak ada lagi.

Berkat sahabat wartawan senior mantan astronot Bambang Harimurti (BHM) yang menjadi menantu STA saya bisa masuk ke dalam rumah pusaka ini. Anak & menantu kini yang merawat rumah tersebut. Sejak pandemi mereka tinggal di wilayah Puncak. Kalau ada keperluan saja baru turun ke Jakarta

Saya diizinkan melihat kamar tidur, kamar kerja & perpustakaan STA. Sebagian besar buku disimpan di perpustakaan Unas. Putra-putri & anak cucu beliau banyak yang sukses. Salah satu usaha mereka adalah grup media Femina.

Siapa yang tidak tahu. Ada pula mantan Rektor ITB, & ada pula yg menjadi Menteri. Seharusnya pemerintah mengabadikan nama beliau dg membuat monumen, nama taman, jalan, perpustakaan dan lain-lain.

Ketika saya pamit Mas BHM & Mbak Marita malah mengantar saya sampai ke rumah. Obrolon yg asyik dilanjutkan. Apalagi kini BHM menjadi anggota Akademi Jakarta. Banyak yang bisa dilakukan bersama untuk memajukan budaya & literasi Indonesia. (sur)