Ini Cara Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok Meraih Harapannya

Ini Cara Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok Meraih Harapannya

SHNet, Jakarta – Balai Besar Karantina Pertanian Tajung Priok diharapkan dapat menjadi etalase karantina pertanian Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Besat Karantina Pertanian Tanjug Priok, Hasru, SP, MP dalam acara Ngobrol Santai dengan tema “penguatan Informasi dan Komunikasi Menuju Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok sebagai Etalase karatina Pertanian Indonesia”, di Jakarta, kemarin.

Ia megatakan, untuk men jadi etalasa karantina pertanian Indonesia ada beberapa hal yang menjadi program Balai Besar Karantina Pertanian Tanjung Priok. “Ada 4 program yang akan dilakukan Balai Besar Karantina Pertaian Tajung Priok menuju etalase karantina pertanian Indonesia. Keempat program tersebut adalah peningkatan kompetensi SDM, penigkatan sarana dan prasarana, regulasi dan asas keterlibatan para entitas seperti masyarakat dan media,” ungkap Hasrul.

Menurutnya, target untuk menjadi etalase karantina pertanian Indonesia butuh waktu 1 tahun. “Target awalnya 6 bulan, tapi tidak bisalah tahun ini. Agak berat, jadi perlu waktu 1 tahun,” lanjutnya.

Pada kesempatan tersebut Hasrul juga meyinggung kasus Covid-19 yang terjadi di India. Kasus penyebaran Covid di India tidak menutup kemungkinan dapat masuk ke Indonesia lewat komunitas-komunitas pertanian.

“Ada kemugkinan masuk lewat pembugkus atau dagingnya. Komunitas pertanian tidak ada batasnya, wilayahnya tidak jelas. Untuk itu Balai Besar Karantina Tanjung Priok melakukan pencegahan sebaik-baiknya. Kalau Tanjung Priok Jebol, satu Indonesia akan tersebar,” kata Hasrul.

Ia menambahkan, Balai Besar Karantina Pertanian Tajug Priok tidak hanya melakuka pencegahan, tetapi juga memberikan solusi terhadap semua masalah yang mucul

“Permasalahan terbesar yang dimiliki instansi pemerintahan adalah kurangnya penyebaran informasi ke masyarakat, apalagi Kementerian Pertanian dalam hal ini Karantina Pertanian yang memiliki berbagai problematika karena ruang lingkup tanggung jawab yang luas dan produk yang beragam sehingga harus mengemas informasi dengan apik, singkat, dan padat agar mudah dimengerti,” ungkap Yesiah Ery Tamalagi, Staf Khusus Meteri Pertanian Bidang Komunikasi Pembangunan Pertanian. (Stevani Elisabeth)