Pencegahan Stunting Harus Dimulai dari Pengenalan Gizi Seimbang pada Remaja

Pencegahan Stunting Harus Dimulai dari Pengenalan Gizi Seimbang pada Remaja

Ist

SHNet, Jakarta-Para remaja di Indonesia harus diberikan edukasi gizi seimbang. Hal itu penting dilakukan agar mereka bisa melahirkan anak-anak yang sehat dan terhindar dari stunting.

Plt. Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan drg. Kartini Rustandi, M.Kes mengungkapkan saat ini banyak remaja di Indonesia yang mengalami masalah gizi atau anemia. Menurutnya, dari 6 remaja putri di Indonesia, 3 di antaranya mengalami anemia. Sementara 1 dari 4 remaja mengalami stunting, dan 1 dari 7 remaja kelebihan berat badan.

Sedang 36,42% perempuan di Indonesia menikah di usia kurang dari 19 tahun, dan 22,77% perempuan hamil pada usia kurang dari 19 tahun. Di sisi lain, masih 96% usia 10-19 tahun kurang mengkonsumsi buah dan sayur, serta 50% usia 10-14 tahun mengkonsumsi makanan manis lebih dari sekali dalam sehari.

“Tentunya ini menjadi permasalahan, mengingat remaja adalah investasi negara kita. Remaja ini strategis karena jumlahnya 18% dari total penduduk Indonesia. Mereka adalah orang-orang yang kelak menjadi calon orangtua,” ujar Kartini dalam webinar “Kecukupan Gizi Remaja Kunci Utama Pencegahan Stunting” yang digelar YAICI dengan PP Aisyiyah, Jumat (9/4).

Kata Kartini, gaya hidup remaja saat ini telah mengubah pola makan mereka yang banyak mengkonsumsi makanan yang manis dan berlemak. Untuk itu, kepada para remaja ini perlu diberikan edukasi yang baik tentang gizi seimbang. Dia mengatakan untuk remaja perempuan usia 12-18 tahun yang merupakan calon-calon ibu, mereka membutuhkan zat besi dan asam folat sebagai upaya penanggulangan anemia. “Kita perlu memberikan suplementasi tablet penambah darah. Dan secara umum, kita perlu memberikan masukan tambahan gizi tertentu seperti besi, Iodium, Vitamin A, dalam produk pangan seperti tepung terigu, minyak goreng, garam, beras melalui program fortifikasi,” tuturnya.

Menurut Kartini, perbaikan gizi pada remaja putri ini penting untuk mencegah terjadinya stunting. Untuk menurunkan anemia pada remaja putri, itu bisa dilakukan dengan meningkatkan kebugaran tubuh, imunitas, produktivitas, dan konsentrasi belajar dengan memberikan tablet tambah darah. “Jika mereka sehat, para remaja ini akan melahirkan anak-anak yang sehat dan bebas dari stunting,” ucapnya.

Selain makan makanan dengan gizi seimbang, para remaja juga harus berolah raga dan memperhatikan berat badan normal.

Untuk itu, Kartini mengajak semua pihak baik masyarakat, puskesmas, dan sekolah untuk melakukan edukasi dan konseling gizi pada anak-anak remaja.

Di acara yang sama, Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK (K), Dokter Spesialis Gizi Klinis UI, menyampaikan hal senada. Menurutnya, kenapa semua pihak perlu fokus pada nutrisi remaja, karena remaja yang mendapat nutrisi yang tidak optimal akan mempengaruhi status gizi dan kesehatan generasi yang akan datang.

Selain itu, kata Fiastuti, remaja itu adalah usia dimana pertumbuhan dan perkembangan itu lebih cepat dibandingkan kelompok usia lain kecuali pada setahun pertama pertumbuhan. “Jadi, kalau remaja ini status kesehatan atau gizinya tidak optimal, mereka akan menghasilkan juga bayi-bayi yang tidak sehat,” ujarnya.

Dia mengatakan bayi yang dilahirkan dengan berat badan kurang akan mengalami tumbuh kembang yang tidak adekuat, berbadan pendek, turunnya kapasitas mental dan menjadi remaja yang pendek. “Nah, untuk memutuskan mata rantai itu, kita harus memperbaiki gizi pada masa remaja. Karena remaja akan dipersiapkan untuk menjadi calon orangtua,” tukasnya.

Dia juga tidak menyarankan pemberian kental manis kepada para bayi dan balita. “Saya sangat tidak setuju jika mulai dari anak dan remaja itu mengkonsumsi kental manis sebagai pengganti susu. Karena kental manis itu sama sekali nggak ada susunya, isinya hanya gula dan tidak ada sumber proteinnya. Padahal untuk mendapatkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik, kita membutuhkan protein yang cukup,” katanya.

Dia menegaskan kental manis itu justru menyebabkan anak tidak mau makan dan merasa kenyang. “Tapi mereka tidak memiliki gizi yang cukup dan akan membahayakan kesehatan mereka hingga remaja nanti. Kental manis itu hanya membikin anak gemuk dan bikin penyakit,” ucapnya.

Hj. Lestari., SST., SH., M.Kes, Ketua Ikatan Bidan Indonesia Jawa Timur, mengutarakan pentingnya memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan (HPK). “Artinya, mulai anak dalam kandungan penting sekali untuk selalu mengontrol gizi yang baik. Karenanya perlu dilakukan pendampingan kepada para remaja, dan mengedukasi mereka mengenai pentingnya asupan gizi yang baik, agar kelak mereka bisa melahirkan anak-anak yang sehat,” katanya.

Arumi Bachsin, Ketua Tim Penggerak PKK Jatim mengutarakan salah satu penyumbang  angka stunting di Jawa Timur adalah usia pernikahan yang terlalu dini. “Karenanya, kami terus memberikan pengertian dan sosialisasi kepada anak-anak remaja mengenai reproduksi dan pentingnya hak-hak anak. Itu bertujuan supaya anak-anak remaja tahu dampak dari pernikahan di usia dini. Selain itu, kami juga mengadakan sekolah orangtua dan mengajarkan masalah-masalah reproduksi dan cara mendidik dan menjaga anak-anaknya dan pola makanan sehat,” katanya.  (Kurnia Sari)