Masyarakat Banyak Tak Paham BPA, BPOM perlu Sosialisasi Keamanan BPA pada Kemasan

Masyarakat Banyak Tak Paham BPA, BPOM perlu Sosialisasi Keamanan BPA pada Kemasan

Arist Merdeka Sirait/ Foto: Nicholas Mustamu

SHNet, Jakarta-Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait meminta Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lebih giat lagi mensosialisasikan masalah keamanan Bisfenol A (BPA) yang ada dalam kemasan makanan dan minuman (mamin) kepada masyarakat. Menurutnya, hal itu penting dilakukan agar masyarakat bisa mengetahui produk-produk dalam kemasan mana saja yang aman digunakan bagi kesehatan, terutama anak-anak.

“BPOM harus melakukan itu kepada semua lapisan masyarakat. Karena masyarakat kan nggak mengerti apa itu BPA. Saya saja masih bingung apa itu BPA, masih sulit mengerti. Jadi kalau tidak disosialisasikan dengan baik ke masyarakat apa itu BPA, apa merkuri atau zat kimia, kan saya nggak tahu. Apalagi masyarakat, nggak peduli merek,” ujar Arist, Jumat (16/4).

Komnas Perlindungan Anak, menurut Arist, tugasnya hanya ingin melindungi dampak negatif semua makanan dan minuman berbahaya terhadap anak-anak, khususnya bayi dan balita sebagai konsumen. “Jadi saya hanya ingin BPOM benar-benar memeriksa semua makanan dan minuman di dalam kemasan-kemasannya. Juga plastik-plastik yang digunakan oleh bayi, misalnya sedotan buat bayi, botol-botol, sendok-sendok bubur dan tempat-tempat bubur yang terbuat dari plastik,” katanya.

 

Saat dikonfirmasi mengenai pernyataannya yang seolah menyudutkan galon guna ulang, dia mengatakan tidak mendiskreditkan hanya kepada satu produk tertentu.  “Ibu-ibu kalangan menengah bawah itu mereka kan tidak peduli dengan kemasan-kemasan, sekalipun kemasan-kemasan yang sudah bocor dan mengelupas yang bisa membahayakan kesehatan anak-anak mereka,” tukas Arist.

Begitu juga dengan kemasan-kemasan plastik yang impor. “Bisa jadi itu kemasan plastik dari daur ulang. Itu artinya kan sampah dari negeri-negeri lain dikemas dalam bentuk plastik makanan dan mainan-mainan anak. Jadi BPOM itu harus sama-sama hadir untuk memberikan informasi pada masyarakat,” ucapnya.

Dia menegaskan yang harus diantisipasi itu adalah masyarakat menengah bawah yang tidak peduli tentang kemasan-kemasan yang mereka gunakan.  “Yang mereka peduli itu adalah isi yang dibeli. Misalnya susu, yang dilihat susunya bukan kemasannya, apakah kemasan itu sudah jebol atau sebagainya,” tuturnya.

Jadi, kata Arist, kalau bisa BPOM mensosialisasikan soal keamanan BPA ini melalui iklan-iklan layanan masyarakat di televisi-televisi dan media-media, baik cetak maupun online.  “Nah, di situlah fungsi negara ini,  untuk mengumumkan itu  ke masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Jurnalis Peduli Kesehatan & Lingkungan (JPKL), Roso Daras, mengutip pernyataan Arist Merdeka Sirait mengenai bahaya BPA galon guna ulang. Roso Daras mengutip Komisi Nasional Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengatakan, hasil penelitian BPA tidak layak digunakan karena berdampak pada kesehatan maka harus dihindarkan. Padahal di pemberitaan sebelumnya, Arist sudah pernah membantah pernyataan dari dirinya bahwa galon plastik isi ulang mengandung BPA (Bisphenol A). Arist mengatakan pernyataannya tentang BPA itu adalah omongan lawas. “Itu adalah pernyataan saya tiga tahun yang lalu, bukan baru,” jelas Arist. Dijelaskan Aris, pernyataan mengenai kandungan BPA tersebut adalah dalam konteks plastik secara umum.

Arist juga mengakui diajak JPKL ini untuk berdiskusi secara tematik soal BPA ini di kantornya sebanyak dua kali pada Mei mendatang. Namun, saat diberitahukan bahwa JPKL pernah mencatut beberapa pihak termasuk para anggota DPR, dokter-dokter anak dan juga Jejaring Laboratotium Pengujian Pangan Indonesia (JLPPI) seolah-olah mengatakan bahwa BPA dalam galon guna ulang itu berbahaya, Arist merasa berterimakasih telah diberitahu soal hal itu.  “Terimakasih sudah memberitahukannya kepada saya mengenai hal itu. Nanti akan saya pertimbangkan lagi untuk diskusi itu,” katanya.

Terkait berita-berita yang tidak benar soal Bisfenol A (BPA) pada kemasan galon AMDK akhir-akhir ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memberikan pernyataan resminya kepada publik.

Dijelaskan, berdasarkan hasil pengawasan BPOM terhadap kemasan galon AMDK yang terbuat dari Polikarbonat (PC) selama lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa migrasi BPA di bawah 0.01 bpj (10 mikrogram/kg) atau masih dalam batas aman.

“Untuk memastikan paparan BPA pada tingkat aman, Badan POM telah menetapkan Peraturan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan. Peraturan ini mengatur persyaratan keamanan kemasan pangan termasuk batas maksimal migrasi BPA maksimal 0,6 bpj (600 mikrogram/kg) dari kemasan PC,” demikian rilis BPOM. (Carles)