JM Pattiasina, Permiri dan Perang Kemerdekaan di Palembang (2/habis)

JM Pattiasina, Permiri dan Perang Kemerdekaan di Palembang (2/habis)

Brigjen TNI (purn) Johannes Marcus Pattiasina. (foto: ist)

Oleh: Dr. John R. Saimima

“Pelopor Permina (Pertamina) Brigjen TNI (Purn) Johannes Marcus Pattiasina, bukan tentara yang berkarier di Pertamina, tetapi ‘orang minyak’ yang menjadi tentara”

Setelah melakukan berbagai upaya perbaikan, Shell dan Stanvac mulai beroperasi lagi pada November 1946 dalam skala terbatas, karena harus melihat lagi perkembangan situasi politik di Indonesia. Selain itu, perusahaan minyak dioperasikan dengan memperkerjakan sebagian kecil tenaga kerja, yang dibayar dengan barang, beras dan pakaian.

Meski harus menyingkir, Permiri tetap patuh kepada pimpinan dan mulai mengoperasikan kilang di Kenten. Hanya saja, masa operasional Permiri ini tidak berlangsung lama di Palembang, karena kedatangan tentara sekutu mulai masuk ke Palembang. Sekutu yang di dalamnya juga terdapat Belanda tidak merelakan begitu saja kedua perusahaan minyak itu dikuasai Indonesia.

Situasi di Palembang juga diwarnai berbagai insiden dengan tentara sekutu. Pada tahun 1946, pemuda dan laskar rakyat di Palembang bersikeras untuk merdeka sepenuhnya. Keadaan ini hanya menunggu waktu untuk terjadinya konflik. Laskar Minyak juga bersikeras untuk mempertahankan merebut kembali perusahaan minyak di bawah bendera Permiri. Berbagai konflik  tak terhindarkan. Sedikit provokasi akan menimbulkan konflik bersenjata.

Selepas 14 Oktober 1946, tersiar informasi kalau perundingan Indonesia, Belanda dan Inggris  menyepakati gencatan senjata. Keputusan ini berpengaruh juga di Palembang. Melalui pimpinan Republik di Palembang, A.K. Gani juga menindaklanjuti gencatan senjata. Perundingan mencapai kesepakatan dengan berbagai syarat yang diterima Indonesia dan Belanda.

Sekutu (pasukan Inggris) hanya memiliki wilayah di Sungai Gerong, Plaju, Baguskuning, Talang Semut, Talang Betutu, Benteng, Boom Yetty dan sekitar Rumah Sakit Charitas. Sekutu tidak boleh keluar dari wilayahnya dan sebaliknya, pejuang Indonesia juga tidak boleh memasuki wilayah sekutu. Di sekitar wilayah sekutu, terdapat markas Tentara Keamanan Rakyat/Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan laskar rakyat, seperti Pesindo, Barisan Pelopor Republik Indonesia (BPRI), dan badan perjuangan lainnya. Salah satu tugas tentara Inggris adalah mengevakuasi orang Jepang, sehingga dengan sendirinya meninggalkan asset dan lapangan minyak di pedalaman.

Dalam suasana gencatan senjata, pemuda dan laskar rakyat tetap waspada, karena situasi tidak menentu dan bisa berubah kapan saja. Apalagi, beberapa konflik  yang terjadi bisa memicu pertempuran. Pattiasina juga waspada dan tetap melakukan konsolidasi melalui laskar minyak dalam Permiri dan Laskar Pesindo.

Situasi gencatan senjata tidak berlangsung lama, seiring dengan pergantian tentara Sekutu (Inggris) ke tentara Belanda. Inggris meninggalkan Palembang pada Oktober 1946 yang digantikan pasukan Belanda. Kemudian, tentara Belanda mendarat di Belitung pada November 1946. Pendaratan ini mendapat sambutan dari pasukan F. Manusama di Belitung. Namun, meski berjuang mati-matian, Belanda berhasil mengendalikan suasana di Bangka dan Belitung.

Setelah gencatan senjata, tidak lama berselang, pimpinan nasional di Jawa terlibat dalam perundingan Linggarjati di Jawa Barat pada November 1946. Dalam perjanjian Linggarjati yang terdiri dari 17 pasal, antara lain, menyatakan, Belanda mengakui Republik Indonesia de facto di seluruh Jawa-Madura dan Sumatera. Daerah pendudukan Inggris dan Belanda di Jawa dan Sumatera akan diserahkan secara berangsur kepada Republik; Pemerintah Belanda dan Republik Indonesia akan bersama membentuk Negara Indonesia Serikat, yang meliputi seluruh wilayah Hindia Belanda; Negara Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk uni (persekutuan) yang dikepalai Raja Belanda; Negara Indonesia Serikat dan Uni harus terbentuk sebelum 1 Januari 1949.

Hasil perundingan Linggarjati ini menimbulkan pro dan kontra, karena kalangan pemuda ingin agar merdeka sepenuhnya. Karena Sumatera termasuk yang diakui secara de facto, maka berbagai komponen perjuangan di Sumatera semakin bersemangat, karena merasa Indonesia harus cepat menguasai Sumatera sepenuhnya.

Di saat bersamaan, terjadi pergantian pasukan dari tentara Inggris ke tentara Belanda yang tergabung dalam sekutu. Pasukan Belanda yang kian banyak ini, sering melakukan provokasi karena melanggar batas wilayah yang ditetapkan. Pelanggaran tapal batas ini sering memicu konflik antara pasukan perjuangan dan Belanda.

Dari berbagai insiden kecil-kecil itu akhirnya menemui puncaknya di Desember 1946. Peristiwa bermula ketika Belanda menembak mati seorang laskar rakyat, Dung Cik. Hal ini menimbulkan balasan dari pejuang Republik, pada tanggal 28 dan 29 Desember 1946. Para pejuang melemparkan dua granat tangan kepada truk Belanda yang sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Charitas pada 28 Desember 1946 malam.

Serangan itu menyebabkan dua tantara Belanda meninggal, satu kritis dan dua mengalami luka-luka. Kaum Republikan  melanjutkan dengan mengepung dan menyerang Charitas. Namun, situasi mereda setelah Residen Palembang M. Isa dan Komandan TRI Bambang Oetojo menenangkan kaum Republiken. Tapi, hanya sesaat karena tidak lama setelah itu, serangan dilanjutkan dengan melepaskan rentetan tembakan ke Rumah Sakit Charitas. Korban jatuh dari pihak Belanda dan Laskar Rakyat.

Peristiwa Charitas ini juga dipicu karena tantara Belanda menembak perwira TRI, Letnan Satu Rivai di depan Rumah Sakit Charitas. Untuk membalas ini, pejuang Republik, yang terdiri dari TRI dan laskar rakyat, Pesindo, Napindo dan sebagainya membalas dengan menyerang markas Belanda di RS Charitas.

Peristiwa ini memicu pertempuran di berbagai tempat di Palembang, seperti di dekat Rumah Sakit Charitas, Plaju, Benteng, Talang Semut dan hampir di semua tempat terjadi pertempuran.

Pertempuran yang dikenal dengan perang “Lima Hari Lima Malam” ini, Letkol Pattiasina merupakan Komandan Resimen  II Pesindo Sumatera Selatan dan Laskar Minyak dalam pertempuran di Palembang ini. Pada pertempuran 1 Januari 1947, pejuang Republik menyerang dan mengepung kedudukan Belanda, terutama di Charitas. Namun, menjelang sore, Belanda mengerahkan peralatan perang berat, seperti tank dan kendaraan lapis baja, sehingga Belanda segera menguasai situasi.

Pada hari kedua juga pertempuran masih terus berlanjut. Memang, pejuang Republik kesulitan mengimbangi peralatan Belanda, karena selain serangan darat, Belanda juga mengandalkan serangan udara. Di hari ketiga, Belanda semakin gencar karena menerobos pertahanan  dan memukul mundur pejuang. Markas perjuangan terpaksa mundur ke arah Kenten yang menempati bekas perlindungan Jepang pada masa PD II.

Di hari ketiga ini, Pattiasina yang memimpin dua regu Laskar Pesindo bersama dengan Resimen VII TRI merebut kembali wilayah 16 Ilir di Palembang, yang sekarang tidak jauh dari Jembatan Ampera. Pattiasina bersama pasukannya harus menyeberangi sungai Musi dengan membalik sampan, untuk menghindari pantauan Belanda sebelum melakukan serangan ke Ilir 16. Walau berhasil merebut kembali 16 Ilir, tetapi pada hari keenam peperangan semua pejuang Republik harus meninggalkan Palembang, menyusul kesepakatan gencatan senjata setelah perang Lima Hari Lima Malam.

Kekurangan persenjataan menyebabkan, barisan perjuangan kewalahan, tetapi semangat tempur yang kuat tidak menyurutkan perlawanan. Korban dari pihak Indonesia sangat banyak, baik korban jiwa maupun korban luka-luka. Rumah sakit juga kewalahan melayani korban pertempuran. Selain, pasukan tempur, para bidan, perawat dan tenaga medis juga terlibat langsung dalam penanganan korban perang.

Selain kerugian material, korban jiwa dan luka, Laskar Minyak juga menghancurkan kilang Plaju dan Sungai Gerong dalam pertempuran ini. Hal ini menyebabkan, kilang Plaju dan Sungai Gerong mengalami kerusakan dalam perang awal Januari 1947 ini.

Posisi Pattiasina dan pasukannya di Plaju juga terdesak, karena serbuan tentara Belanda. Dalam posisi terjepit, di malam hari, Pattiasina memerintahkan pasukannya untuk menyeberangi sungai Musi, dengan bersusah payah, guna luput dari penglihatan pasukan Belanda. Sebab, Sungai Musi berada dalam pengendalian dan pengawasan ketat Belanda.

Pasukan Pattiasina berhasil bergabung dengan barisan perjuangan di Kota Palembang, yang juga terlibat dalam pertempuran yang tidak kalah hebat. Pertempuran ini berlangsung sejak 31 Desember 1946 sampai 5 Januari 1947. Ada puluhan korban meninggal dan luka dalam peristiwa ini. Pertempuran yang dikenal dengan perang “Lima Hari Lima Malam” ini berakhir setelah A.K. Gani, M. Isa dan kawan-kawan melakukan perundingan dengan Belanda untuk mengakhiri pertempuran. A.K. Gani Bersama Mayor Jenderal D. Buurman van Vreeden, Dr. J. C. van de Velde secara khusus berangkat ke Palembang dari Batavia.

Gencatan senjata diberlakukan pada 6 Januari 1947. Namun, TRI dan laskar rakyat harus mundur sejauh 20 kilometer dari Palembang. Hal itu merupakan syarat gencatan senjata yang diminta Belanda. Bersama semua pejuang Republik, pasukan Permiri pimpinan Pattiasina juga terpaksa mundur dari Kota Palembang. Pattiasina selain bertanggung jawab kepada pasukan, juga harus membawa keluarga, anak-anak dan isteri. Ketika keluar dari Palembang, pasukan Permiri juga membawa truk-truk Belanda untuk mengangkut barang. Untuk menghindari kesalahpahaman, semua truk Belanda yang dibawa itu ditempeli gambar bintang yang merupakan lambang Permiri.

Selama mundur dari Palembang, pasukan Belanda tetap mengintai dari udara. Iring-iringan truk pasukan Permiri menjadi sasaran Belanda. Sebelum rombongan bergerak, Pattiasina harus memastikan situasi di depan aman dan selalu mendapat laporan posisi pasukan Belanda di belakang rombongan. Untuk menghindari mobilitas pasukan Belanda, Pattiasina selalu berada di belakang rombongan, karena setelah melalui jembatan, Pattiasina akan meledakkan jembatan agar tidak bisa digunakan tentara Belanda.

Pattiasina memiliki pengetahuan untuk meledakkan titik terlemah dari sebuah jembatan. Bukan saja, karena berlatar belakang teknik, tetapi ayah Pattiasina di Makassar juga mengerjakan jembatan dan jalan pada masa Hindia Belanda, semacam kontraktor pada zaman Hindia Belanda.

Setelah mundur dengan berpindah-pindah (gerilya), akhirnya sekitar satu bulan sejak mundur dari Palembang akhirnya, pasukan Permiri tiba di Prabumulih. Di tahun 1947 ini, setelah pejuang Republik mundur 20 kilometer dari Palembang, Belanda mulai memperbaiki kilang di Plaju dan Sungai Gerong. Meski kilang Plaju dan Sungai Gerong ini sudah diperbaiki tapi tidak bisa beroperasi maksimal karena persoalan pasokan minyak mentah yang diproses.(berbagai sumber)

Penulis, Dr. Johan Saimima, Sejarawan Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM)

Catatan: Drs. Johny F. Pattiasina berkontribusi banyak atas artikel ini sebagai narasumber, yang mengikuti langsung pergerakan pejuang/laskar ke luar Kota Palembang. Johny Pattiasina telah meninggal dunia pada 7 Maret 2021.