Awal Patane Kuburan Kayu Berbentuk Rumah di Toraja

Awal Patane Kuburan Kayu Berbentuk Rumah di Toraja

SHNet, Jakarta – Berawal pada tanggal 27 Desember 1917, seorang misionaris asal Belanda bernama Arie van de Loosdrecht, mati terbunuh di Tana Toraja. Dia adalah misionaris pertama yang datang ke sana.

Orang yang dituduh membunuh dan kemudian dijatuhi hukuman oleh pemerintah Belanda adalah Pong Masangka, putra seorang janda bernama Palindatu. Pong Masangka lalu dibuang ke Bogor, sebelum kemudian dipindahkan ke Nusakambangan.

Pada tahun 1920, Palindatu meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian (1930), sebuah kuburan kayu berbentuk rumah ada Toraja, dibangun untuk menjadi makam janda itu. Kuburan kayu itu disebut dengan Patane. Upacara pemakaman Palindatu dilakukan dengan upacara adat tertinggi yang disebut dengan Rapasan Sapu Randanan.

Dilansir dari IndonesiaKaya, di tahun yang sama, atau 13 tahun setelah Pong Masangka menjalani hukumannya, dia dibebaskan dan dikembalikan ke Tana Toraja. Dan 30 tahun kemudian (1960), Pong Masangkameninggal pada usia 120 tahun. Jenazahnya juga disemayamkan di dalam patane itu.

Sementara untuk mengenangnya sebagai “pahlawan” yang dianggap menentang penjajahan Belanda, sebuah tau-tau (patung mirip dirinya) dipahat dari batu dan ditempatkan di Patane.

Patane Pong Masangka berada di Pangli, daerah yang terletak sekitar sembilan kilometer di sebelah utara kota Rantepao, Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Sebuah dusun biasanya memiliki area Patane yang sudah dipersiapkan secara berkelompok.

Satu patane bisa digunakan sebagai tempat persemayaman lebih dari satu jenazah, bahkan ada yang lebih dari 5 jenazah. Hal ini tergantung pada ketentuan yang ditetapkan oleh kelompok dan juga disesuaikan dengan status sosial setiap kelompok. (maya han)