Greenpeace: Galon Sekali Pakai Menambah Masalah Timbulan Sampah

Greenpeace: Galon Sekali Pakai Menambah Masalah Timbulan Sampah

Muharram Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia

SHNet, Jakarta-Pada tahun ini, publik ingin melihat upaya pengurangan sampah oleh produsen yang telah diatur oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) nomor 75 tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah Oleh Produsen. Dalam Permen itu produsen diharuskan menyusun maupun menyampaikan laporan pelaksanaan pengurangan pelaksanaan pengurangan sampah kepada KLHK. Laporan itu salah satunya memuat jenis dan jumlah bahan baku produk dan kemasan produk yang telah dikurangi.

“Jadi bukan malah menambah masalah dan timbulan sampah dengan mengeluarkan berbagai kemasan plastik sekali pakai yang baru seperti yang dilakukan produsen air minum dalam kemasan (AMDK) galon sekali pakai yang malah memproduksi berbagai ukuran,” ujar Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, Selasa (16/2).

Jadi, kata Atta, produsen termasuk industri air mineral, seharusnya berupaya untuk mengeluarkan terobosan dalam model bisnis yang tidak lagi mengandalkan plastik sekali pakai. “Mengemasnya dengan galon plastik sekali pakai merupakan suatu kemunduran dan bukanlah inovasi,” ucapnya.

Dia menegaskan produk AMDK galon sekali pakai itu jelas akan menjadi masalah baru bagi timbulan sampah mengingat dampak pada lingkungan yang selama ini ditimbulkan sampah plastik sekali pakai ini. Produk ini juga tidak sejalan dengan target pemerintah mengurangi sampah di laut sebesar 70% di tahun 2025. “Produksi plastik sekali pakai yang begitu masif tanpa adanya tanggung jawab perusahaan justru akan mempersulit capaian dari target ini,” kata Atha.

Atha mengatakan dengan keluarnya Permen Permen LHK mengenai peta jalan pengurangan sampah oleh produsen yang dikeluarkan pada akhir tahun lalu, seharusnya sektor industri mulai berbenah bagaimana mereka dapat menyusun rencana strategis dalam mengurangi timbulan sampah mereka. “Bukan malah meningkatkan produksi kemasan produk sekali pakai. Selama dalam kemasan sekali pakai, masalah kita terhadap sampah tentu akan semakin besar,” tegas Atha.

Seharusnya, kata Atta, bisnis dengan model refill dan reuse yang lebih ramah lingkungan harus diperbesar skalanya dibandingkan mengeluarkan produk sekali pakai yang baru. “Konsumen di Indonesia telah mengenal AMDK galon guna ulang selama lebih dari 35 tahun dan telah terjamin keamanannya karena sudah mendapatkan izin BPOM. Apalagi kemasan galon ini sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, baik di rumah, kantor, restoran bahkan di fasilitas-fasilitas kesehatan,” tuturnya.

Menurut Atta, galon model yang dikenal selama ini lebih ramah lingkungan karena setelah dikonsumsi konsumen akan diambil kembali oleh produsen, dibawa ke pabrik untuk dibersihkan dan diisi kembali dengan air minum baru yang bersih dan higienis. “Jadi dengan pembiaran kehadiran air minum kemasan galon sekali pakai, itu artinya masalah plastik dalam negeri akan makin berada di tahap yang lebih krisis, dan target pengurangan pemakaian sampah plastik sekali pakai ini akan sulit tercapai,” kata Atha.

Sebelumnya, Abdul Ghofar, Co-Coordinator Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), juga menyesalkan kehadiran kemasan air minum galon sekali pakai ini. Memang, kata Ghofar, galon sekali pakai ini bisa didaur ulang. Tapi, kendalanya selama ini terkait sampah plastik sekali pakai adalah soal pengumpulannya.

Karena, menurut dia, terlalu kecil jumlahnya kalau hanya mengandalkan pemulung yang voluntary saja untuk mengumpulkan semua sampah plastik sekali pakai ini. Yang dibutuhkan adalah adanya tanggungjawab perusahaan yang seharusnya mau mendirikan fasilitas untuk pengumpulan sampahnya. 

“Jadi dengan adanya galon sekali pakai ditambah dengan pengumpulan yang belum maksimal, dimana produsen tidak bertanggungjawab dan hanya menyerahkan ke pemulung saja, target pemerintah melalui Permen 75 tahun 2019 itu mustahil bisa terealisasi. Padahal sudah ada galon guna ulang yang lebih ramah lingkungan dan bisa dipakai berkali-kali,” tukasnya.

Aktivis lingkungan lainnya, yaitu Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) juga menyampaikan kecaman yang sama terhadap produk galon sekali pakai ini. Peneliti organisasi lingkungan Ecoton, Andreas Agus Kristanto Nugroho, mengatakan akan mengajak masyarakat untuk melakukan gugatan hukum berupa citizen law suit terhadap produsen air kemasan galon sekali pakai ini. (Carles)