Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto: “Mindset” Berubah, Inovasi Dilakukan, Pendidikan Vokasi...

Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto: “Mindset” Berubah, Inovasi Dilakukan, Pendidikan Vokasi Akan Maju

Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Wikan Sakarinto S.T., M.Sc., Ph.D

SHNet, Jakarta- Pola pikir dan karakter yang ada di semua lini pendidikan vokasi, terutama guru dan dosen, kepala sekolah dan juga pengelola pendidikan tinggi vokasi harus berubah. Inovasi di semua bidang juga harus dilakukan jika kita ingin maju dan tercapai semua program dan tujuan yang telah digariskan. Dua hal itu sangat penting dan mendasar di tengah situasi pandemi dan upaya mensinergikan pendidikan vokasi dan dunia usaha dan dunia industri (DUDI)

Seruan ini disampaikan dalam perbincangan khusus dengan Sinar Harapan (SHNet) dan Majalah Gatra via Zoom di Jakarta, Kamis (7/1/2021). Perbincangan ini juga dihadiri Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Dr. Ir. M. Bakrun, M.M, Direktur Pendidikan Vokasi, Dr. Beny Bandanadjaja, S.T., M.T, dan Direktur Kemitraan dan Penyelarasan Kerja Sama Dunia Usaha dan Dunia Industri, DR Ahmad Saufi, S.Si., M.Sc

Wikan menjelaskan soal mindset dan perubahan karakter serta inovasi ini dalam sebuah slide menarik yang menggambarka bagaimana alur dimulainya kondisi yang memungkinkan berkembanganya pendidikan vokasi di Tanah Air yang berbeda dengan pola manajemen di masa lalu. Ujungnya adalah bagaimana hasil yang dicapai yakni sumber daya manusia atau SDM yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan dunia industri atau dunia kerja. Hasil yang dimaksud adalah lulusan yang memiliki softskill dan hardskills serta karakter yang kuat.

 Dalam konteks perubahan mindset ini, Wikan Sakarinto mengakui, terjadi perubahan mindset dan kapasitas leadership pada pengelola institusi pendidikan vokasi yang lebih terbuka dan lebih berani melakukan terobosan terobosan dan inovasi untuk  mewujudkan link and match yang benar.

“Kami baru saja memberikan penghargaan atau award, seperti kepada Astra, sejumlah BUMN, karena mereka di tahun 2020 telah membina puluhan bahkan rautsan siswa SMK dan mahasiswa vokasi. Mereka melakukan itu karena lulusannya sesuai dengan harapan mereka,” ujar mantan Dekan Sekolah Vokasi UGM Yogyakarta ini.

Dalam wawancara satu jam yang sangat menarik ini, muncul pertanyaan bagaimana respons dunia industri dan masyarakat terhadap proses link and match selama ini . Meski hitungan belum satu tahun Dorektorat Jenderal Vokasi bekerja, terbentuk Desember 2019, dan  mulai bekerja di tengah tahun (Mei 2020), artinya baru 7 bulan  serta beberapa eselon baru bergabung di Juni 2020, namun, Wikan mengungkapkan, dalam enam bukan terakhir terjadi peningkatand dan gairah pihak SMK PT Vokasi, lembaga kursus dan pelatihan (LKP), dan dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja atau Dudika, untuk melakukan link and match  yang diikuti aktivitas yang komprehensif, nyata dan untas.

“Terus terang target kita link anda match yang sesungguhnya saling menguntungkan semua pihak,  tidak hanya tandatangan MoU. Kalo hanya  tandatangan MoU saja, itu namnya bukan link and match tapi itu baru mau ngeling aja. Link and match 8 plus 1  yang kita inginkan, sudah semakin terwujud di ribuan SMK, ratusan PT Vokasi, dan ratusan LKP,” ungkap Wikan.

Wikan yang menyelesaikan pendidikan tinggi di UGM, lanjut ke Belanda dan Jerman untuk meraih master serta ke Jepang untuk menuntaskan gelar doktornya, menyatakan kegembiraannya mengingat pihak industri dan duni kerja semakin meningkat keterbukaan dan insiatifnya untuk melakukan link and match dengan lembaga pendidikan vokasi. “Kita akan terus tingkatkan di tahun 2021 dan tahun-tahun mendatang,” katanya.

Masih dalam kaitan soal ini, Wikan Sakarinto menjelaskan secara komprehensif mengenai apa yang disebutnya “Link and Match 8+1” dan menggambarkannya dalam bagan yang sangat jelas.

“Link and Match 8+1” itu terdiri atas kurikulum, sof sekill, guru tamu DUDI, magang, sertifikasi kompetensi (guru dan dosen), training guru dan dosen oleh industri (leadership dan mindset), riset terapan, menghasilkan produk (dilahirke ke industri/pasar), komitemen serapan  lulusan leh DUDI (akan lebih baik disertai beasiswa/donasi DUDI-ini namanya plus 1)

Merubah Mindset Leadership Vokasi:

Lebih lanjut Dirjen Vokasi Wikan Sakarinto menjelaskan, untuk melakukan perubahan mindset leadership di kalangana pengelola vokasi, pertama butuh tanah yang subur (mindset karakter guru dan dosen, pengelola/kepsek), harus melakukan inovasi dan perubahan.

“Istilahnya tanah dibajak dan disuburkan dahulu, lalu di tanami sehingga subur dan berbuah lulusan yang kompeten,” katanya membuat istilah.

Kedua lanjut Wikan,  funding, program hibah bantuan (fisik dan non fisik, miliaran dan triliunan): bentuknya gedung dan peralatan

Ketiga: buah, hasilnya SDM yang kompeten, unggul sesuai dengan match (hardskill dan sofskill plus karakter yang kuat), du hanya hardskill saja yang diperkuat.

“Dulu tanah tidak dibajak dan disuburkan (guru dan dosen tidak melakukan inovasi dan perubahan), langusng saja menerima bantuan/hibah, pendanaan (fisik dan non fisik), ujungnya hanya menghasilkan gedung dan alat saja pohon dan buah saja), sedangkan lulusannya, atau buahnya dipertanyakan yaitu hanya link but not match (meskipun sudah MoU),” paparnya.

Jadi tegas Dirjen Wikan, untuk mencapai hasil di atas dibutuhkan karakter dan mindset perubahan, jangan cuma harskill. Misanya takut perubahan maka ini semua tidak terjadi. Dengan demikia, untuk menghasilan link and match 8+1, dbutuhakn SDM yang mau berubah.

“Dalam kaitan ini, termasuk juga kita mendirikan Forum Pengarah Vokasi atau Rumah Vokasi yang isinya sekitar 50-59 orang berlatar belakang  manajer dan dunia industri, kawasan industri,  kawasan khusus dan sebagainya,” ujar Wikan. (sur)