Tani Pekarangan, Inovasi Menjawab Kesulitan kerja  

Tani Pekarangan, Inovasi Menjawab Kesulitan kerja  

SHNet, BANDUNG – Kesulitan nafkah mendera jutaan penduduk Indonesia. Tak hanya di kota. Di desa-desa juga banyak orang yang kesulitan pekerjaan akibat badai Covid-19. Mencari solusi usaha baru juga tidak mudah karena setiap usaha dibutuhkan modal finansial yang besar. Tetapi Irmawati (21 tahun), seorang ibu rumah tangga muda punya pengalaman menarik dengan kegiatan berkebun di pekarangannya. Hebanya lagi, ia mampu menarik banyak tetangganya ikut serta berkegiatan produktif di sekitar rumahnya.

“Beberapa bulan lalu Yayasan Odesa Indonesia memberikan bantuan polybag dan benih sayuran agar saya menjalankan usaha tani di dekat rumah. Saya menerima 100 buah polybag dan dalam 2 bulan bisa panen. Sekarangan saya punya 600 polybag. Setiap minggu selalu ada panen,” kata Irma, Senin 30 November 2020 di rumahnya, Kampung Tareptep, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung.

Empat bulan menjalankan kegiatan tani pekarangan, tetangga Irma mulai tertarik mengikuti kegiatannya. Ia pun menyampaikan kepada pengurus Odesa agar tetangganya diberikan bantuan modal polybag dan benih sayuran. Jadilah kini Irma dengan 10 tetangganya yang kebanyakan ibu rumah tangga buruh tani mulai menjalankan kegiatan produksi sayuran tersebut. Tak hanya di Waas, di beberapa kampung di Desa Mekarmanik, seperti di Pamoyanan, Waas, Pondok Buah Batu, juga di Desa-Desa Cikadut Kecamatan Cimenyan gerakan Tani Pekarangan yang difasilitasi Odesa Indonesia tersebut bergulir dan menarik banyak peminat.

“Mulanya orang tidak tertarik karena beralasan menambah pekerjaan yang belum tentu hasil uangnya. Tetapi saya bilang, kalau punya sayuran kita tidak lagi mengeluarkan uang belanja. Orang belum menerima penjelasan saya. Tapi sejak saya sering menjual hasil panen, mereka jadi mau ikut,”tutur Irma.

Bagi Irma, berani pekarangan itu menguntungkan karena waktu menganggurnya berganti dengan kegiatan yang menghasilkan. Ia bisa menggarapnya di tengah waktu luang. Suaminya juga mendukung karena selalu punya waktu. Keuntungan kedua, hasil panen dari sayuran bisa didapatkan secara rutin dalam waktu mingguan.  Hal ini jauh berbeda dengan model pertanian ladang yang panennya hanya 2 kali dalam satu tahun.

“Dari sisi hasil memang kecil, tapi saya bisa rutin dapat uang setiap minggu. Lagi pula saya tidak perlu belanja sayuran lagi karena bisa langsung memasak dari halaman,” katanya.

Menurut Irma, biasanya ia harus mengeluarkan uang Rp 10.000 setiap hari untuk sayuran. Tetapi sekarang ia tidak lagi belanja. Ia sadar kemudian dalam setiap bulan bisa menghemat belanja Rp 300.000.

Inovasi Pertanian

Pendamping Ekonomi dari Yayasan Odesa Indonesia, Basuki Suhardiman, penerapan program tani pekarangan merupakan inovasi yang paling realitis diterapkan pada keluarga petani yang memiliki lahan pekarangan. Sekalipun kegiatannya berskala kecil, namun mampu menjadi solusi perbaikan tradisi kerja dalam masyarakat. Etos hidup untuk tekun dan kebersihan di sekitar rumahnya juga terbentuk.

“Ekonomi yang efektif itu kalau lahir dari tradisi. Para petani sebelumnya sudah punya modal karena pekerjaannya menanam. Hanya saja mereka akan terus kekurangan karena panen satu tahun hanya dua kali. Dengan kebiasaan baru ini,  mereka bisa memanen secara rutin,” kata pegawai Teknologi Informatika Institut Teknologi Bandung yang lebih 4 tahun mendampingi para buruh tani di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung tersebut.

Basuki berharap gerakan pertanian pekarangan ini menjadi bagian penting perubahan sosial di masyarakat. Kegiatan berkebun di pekarangan juga praktis untuk menjawab kemiskinan karena banyak orang miskin dibebani untuk pengeluaran hidup yang besar. Dengan tani pekarangan perubahan dari konsumen menjadi produsen terjadi.

“Sebelumnya kami juga membangun model bisnis pertanian dengan pembibitan kelor. Ada belasan pembibit kelor yang ekonominya meningkat setiap bulan hanya dengan memanfaatkan halaman rumahnya. Mengatasi kemiskinan dengan target pendapatan Rp 300 hingga 700ribu perbulan merupakan langkah penting yang harus dilakukan untuk penduduk Indonesia saat ini.” katanya. (vy)