Warisi Watu Kenong, Kampung Budaya Polowijen Pikat Komunitas Pengrajin Bambu Lamongan

Warisi Watu Kenong, Kampung Budaya Polowijen Pikat Komunitas Pengrajin Bambu Lamongan

SHNet, MALANG – Berkunjung ke kota Malang tak lengkap jika tak menyambangi Kampung Budaya Polowijen (KBP). Salah satu kampung tematik budaya di bumi Arema itu dikenal unik dan memiliki karakter tersendiri.

Bagi para pegiat seni dan budaya di KBP, membangun kampung wisata itu harus memiliki kekhasan dan keunikan tersendiri. Sehingga mempunyai daya tarik untuk di kunjungi para pelancong.

Ketika memasuki area KBP, pengunjung akan disuguhi deretan rumah berbahan bambu dengan beragam ornamen yang menarik.

Menurut penggagas KBP, Ki Demang, rumah-rumah warga berdinding bambu itu mengingat di Polowijen ada tinggalan benda bersejarah, yaitu Watu Kenong yang merupakan Objek Diduga Cagar Budaya yang diduga sebagai umpak rumah bambu jaman itu.

“Sehingga, sederetan rumah warga di KBP disulap menjadi rumah beratapkan bambu dan di depannya banyak gazebo bambu. Selain hiasan beragam topeng, juga terpampang hiasan ornamen bambu yang digantung di rumah dan gazebo,” kata Ki Demang di KBP, kelurahan Polowijen, kecamatan Blimbing, kota Malang, Minggu (22/11).

Ki Demang mengatakan, wabah pandemi Covid-19 tak menyurutkan semangat pengurus KBP untuk terus menjalankan aktivitas rutinnya. Bahkan, jadwal kunjungan dari para pegiat seni budaya dan stakeholders dari beberapa daerah mulai berdatangan untuk keperluan, mulai studi banding, riset, dan lainnya.

Pekan lalu, KBP kedatangan 40 orang pengrajin dari sentra kerajinan anyaman bambu dari desa Sukolilo, Kec. Sukodadi, Kab. Lamongan.

“Kami berkunjung ke KBP tujuannya tidak lain melakukan studi banding pemanfaatan bambu dan sentra kerajinan bambu yang sudah dijalankan oleh para pegiat KBP,” kata kepala desa Sukolilo, Lasmiran.

Pihaknya ingin membuat desa wisata di Sukolilo seperti di kampung budaya yang ornamennya berbahan bambu sebagaimana produk tersebut ada di desa Sukolilo.

“Kami akan meningkatkan sentra kerajinan anyaman bambu di desa kami menjadi sentra edukasi sepeti di kampung ini,” ujarnya.

Ide tentang desa wisata bambu sebenarnya sudah lama bergulir dan konsepnya dipakai di desa wisata lain.

Ketua sentra kerajinan bambu, Asan Sutanto mengatakan, pihaknya tidak menyangka bahwa di Kampung Budaya Polowijen ini pemanfaatan kerajinan bambu Sukolilo sangat maksimal mulai ekterior rumah sampai interior.

“Kami belajar betul dari kampung ini dan tinggal mereplikasi,” ujar mentor Asosiasi Pengrajin Bambu Jawa Timur itu.

Sementara itu, perupa KBP, Anang Rudi Hermanto mempraktekan beberapa contoh pemanfaatan kerajinan bambu yang bukan hanya untuk kebutuhan sehari hari.
Bahkan, ke depan kerajinan bambu akan dikembangkan untuk media terapi dan seni.

“Di KBP, kerajinan bambu sebagai sarana untuk seni rupa, keperluan fashion show, bahkan untuk pengembangan alat musik,” kata Anang.

Dalam kunjungan itu, rombongan juga disuguhi tari Topeng Malang. Tampak rombongan dari Sukolilo menirukan gerak tari. Tak hanya itu, KBP juga menyuguhkan makanan minuman tradisional serta jajanan polo pendem. Rombongan juga diajak praktek melukis bersama dengan medium caping yang sengaja mereka bawa sebagai cinderamata untuk KBP. (cj)