Wahid Supriyadi, Diplomat Rendah Hati dengan Karya Seni Diplomasinya

Wahid Supriyadi, Diplomat Rendah Hati dengan Karya Seni Diplomasinya

Flayer peluncuran buku karya Wahid Supriyadi, "Diplomasi Ringan dan Lucu: Kisah Nyata" di UII Yogyakarta, Jumat (20/11)

SHNet, Yogyakarta– Menjadi seorang diplomat dengan penempatan tugas di negara yang memiliki budaya berbeda dengan Indonesia menjadi tantangan tersendiri yang harus dijalani Wahid Supriyadi.  Selama belasan tahun di Australia dengan beberapa jabatan strategis, lalu menjadi Dubes di Uni Emirat Arab, dan terakhir di Rusia, dilakoni dengan penuh tanggungjawab.

Bahkan, Wahid sekarang boleh bangga, karena rekam jejaknya kini terangkum dalam satu buku yang ditulisnya sendiri di Moskow, beberapa bulan menjelang kembali ke Tanah Air dan dalam situasi pandemi Covid-19. Buku yang lengkap dan menarik itu diberi judul “Diplomasi Ringan dan Lucu:Kisah Nyata”.

Buku yang diterbitkan Litera, Yogyakarta bulan ini, baru saa diluncurkan dan dibedah untuk kali kedua, di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII). Peluncurkan pertama dilakukan di almamaternya, Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) awal bulan November ini. Dua rektor universitas ternaka di Yogya itu membuka peluncuran danbedah buku,  Rektor UGM, Panut Mulyono, dan kali ini pun Rektor UII, Fathul Wahid, PhD, ikut membuka bedah bukunya.

Tujuh pembicara tampil dalam bedah buku dan webinar, Jumat (20/11) yang diberi tajuk ‘Diplomasi di Era Milenial’ ini, termasuk Pak Wahid sendiri. Mereka adalah Bupati Kebumen, KH Yazid Mahfudz, jurnalis dan novelis Indonesia yang tinggal di Australia, Dewi Anggraeni, Gurubesar  Institute Hubungan Internasional di Moskow, Prof.Victor Pogadaev,  Asosiated Profesor UGM, Usmar Salam,  Asisten Profesor UII, Hangga Fathana, dan editor buku “Diplomasi Ringan dan Lucu: Kisah Nyata” Suradi, Msi.

Banyak kalangan yang sering berkomunikasi, berhubungan , dan membina relasi dengan  dengan Wahid, selalu menyimpulkan bahwa sang Dubes seorang yang humble, rendah hati, tak pernah lupa dengan latar belakangnya seorang anak seorang guru SD di  Desa Winong, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen.

Usmar Salam, temen karib Wahid yang dulu sama-sama merintis karir sebagai pengajar bimbingan belajar di Yogya mengaku sangat kagum dengan Wahid, bukan saja sebagai teman yang tak lupa dengan almamater dan sahabatnya di kala susah, tapi sangat rendah hati.

“Setiap Pak Wahid pulang ke Yogya, selalu menyempatkan diri kumpul dengan teman-teman lama, sekadar makan dan saling bercerita. Dia juga selalu ke kampus UGM, memberi kuliah tamu dan  berbagi pengalaman dengan dosen dan mahasiswa,” ujar Usmar.

Bupati Kebumen, KH Yazid Mahfudz juga mengamini apa yang diungkapkan Usmar Salam. Menurutnya, Wahid Supriyadi menjadi salah satu figur warga Kebumen yang membanggakan.

“Saya selalu menjadikan Wahid sebagai contoh inspirasi yang real bagi kaum muda di Kebumen. Saya katakana, mau jadi apapun bisa, kita tidak lagi terkendala dengan latar belakang dan keadaan,” katanya.

Bupati Yazid juga menceritakan potensi wisata yang ada di wilayahnya dan dia meminta bantuan juga kepada Wahid untuk membantu sosialisasi destinasi yangmenarik di Kebumen seperti Geo Park Karang Sambung yang mendapat perhatian dunia internasional.

Punya Kelenturan

Wartawan sednior yang dienal juga sebagai penulis novel, Dewi Anggraeni mengatakan, tidak mudah bagiduplomat muda ketika itu untuk ditempatkan di Australia yang mengkritik pedas kebijakan Indonesia, terutama soal Timor-Timor. Tapi Pak Wahid mampu menjalani dengan baik, bahkan untuk waktu yang lama.

“Saya kenal baik dengan Pak Wahid  dan memperhatikan langkah-langkahnya saat tugas di Australia. Ternyata dia punya kelenturan luar biasa dan ini modal keberhasilan dia,” ungkap Dewi.

Pujian juga datang dari Profesor Victor Pogadaev. Dia mengatakan, buku Wahid ini memperlihatkan siapa dia dan karakternya yang murah hati. Dia selalu menjadikan budaya sebagai pendekatan yang utama dan berhasil.

“Buku ini patut dibaca semua kalangan baik di Indonesia maupun Rusia. Ini karya yang luar biasa, jika perlu diterjemahkan ke dalam Bahasa Rusia,“ ujar Victor.

Saran untuk membaca buku ini, terutama bagi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional dikemukakan Hangga Fathana. Begitu juga mahasiswa jurusan lain  atau mereka yang ingin berhasil dengan ketekunan dan kerja keras.

“Saya melihat hal yang luar bisa dari Pak Wahid, yakni profesionalisme, kemampuan komunikasi interpersonal yang sangat baik, penuh inisiatif, dan konsisten menjalankan apa yang sudah direncanakan,” kata asisten profesor ini.

Bagi Suradi  yang sehari-hari bergerak di dunia jurnalistik dan menulis buku, merasa sangat beruntung karena dipercaya untuk membaca naskah dan menyuntingnya.

“Buku ini meski judulnya ringan dan lucu, tapi mengandung informasi yang sangat penting bagi perkembangan diplomasi, khususnya terkait negara tempat Wahid ditempatkan,” kata Suradi.

Sementara Rektor UII,  Fathul Wahid yang membuka bedah buku ini menganalogikan  diplomasi itu dengan dakwah dan ada 3 poin tentang diplomat menurutnya. Pertama, disebutnya bil hikmah yakni bagaimana menjadi warga negara yang baik di negara orang, kedua discovery relation atau memberi pesan yang baik tentang negara kita di luar, dan ketiga, selalu berbuat dengan niat baik.

Karena bidangnya bukan hubungan internasional, tetapi Rektor UII ini berusah mempelajari dan memahami apa dan bagaimana  dengan dunia diplomasi .

“Saya pelajari dan bahkan saya teliti Kedubes asing di Indonesia yang menggunakan sosial media untuk menjalankan strategi diplomasi, seperti Kedubes Jepang yang banyak pengikutnya, juga Kedubes China, meski yang dimuat di media sosial mereka hal yang ringan seperti makanan Indonesia dan lain-lain,” ungkapnya. (sur)