Slamet Rahardjo: Merdeka Belajara Bukan Bebas Belajar

Slamet Rahardjo: Merdeka Belajara Bukan Bebas Belajar

Budayawan Slamet Rahardjo Djarot ketika berbicara dalam acara Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) yang dihadiri oleh 282 Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Hotel BIdakara, Jakarta, Kamis (26/11).

SHNet, Jakarta-Aktor film yang juga budayawan Slamet Rahardjo Djarot menyatakan, konsep merdeka belajar dan juga kampus merdeka yang digaungkan Mendikbud Nadiem Makarim sangat baik untuk pengembangan mutu pendidikan nasional kita. Tetapi perlu diingat hal itu bukan berarti bebas belajar. Konsep Mendikbud Nadiem sesungguhnya memberi kebebasan kita untuk menempuh studi dengan lebih fleksibel dan bertanggungjawab.

“Jadi, merdeka belajar itu beda denga bebas belajar,” katanya ketika memberikan semaca pandanfanbudaya dalam acara Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) yang dihadiri oleh 282 Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri dan Perguruan Tinggi Swasta di Hotel BIdakara, Jakarta, Kamis (26/11).

Dengan gaya dan Bahasa yang udah dimengerti, Slamet yang mengaku tidak memiliki gelar baik sarjana ini mengungkapkan, pentingnya aspek budaya dalam pendidikan nasional, seperti yang diungkapkan tokoh pendidikan nasional, Ki Hajar Dewantara

Slamet Rahardjo mencontihkan bagaimana budaya memakai masker di tengah pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat seharusnya sudah sangat aware, bukan harus dipaksa-paksa. “Di Jepang, memakai masker itu hal biasa, jauh sebelum Covid-19, untuk apa, meindungi diri dari berbagai virus,” kata Slamet yang selama 2 tahun pernah berkeja di media Jepang, NHK.

Dalam seminar yang digelar di tengah pelaksanaan Rakorda PTS ini, tampil juga pimpinan Universitas Katolik Atmajaya, Agustinus yang memaparkan bagaimana Covid -19 memaksa semua perguruan tingi di dunia, dan tentunya banyak sektor kehidupan untuk berubah dnamenyesuaikan diri.

“Dalam konteks perkuliahan, apa yang kita lakukan sekarang yang kuliah dengan sistem daring, seolah dipaksa dan harus dilaksanakan, karena tidak ad acara lain yang lebih aman. Untungnya kita, Universitas Katolik Atmajaya, sudah memulai  memperbaiki dan meningkatakn sistem teknologi pembelajaran online sejak 2016, sehingga saat ini sesungguhnya kami tingga mengkonfirmasi apa kekurangan kami,” katanya.

Diakui Agustinus, perubaham memang harus dilakukan dan ketiak Covid-19 datang, kita mau tidak mau harus melakukan perubahan itu.Masalahnya, karena Atmaya perguruan tinggi cukup tua, 60 tahun,maka banyak kendala di SDM, terutama kalangan pimpinan dan dosen. “Kalau mahasiswa tak masalah, mereka hidup di masa teknologi sudah berkembang pesat,” katanya.

Sementara itu Priof Margianti dari Universitas Gunadharma, membagi pengalaman bagaimana di tengah pandemi Covid-19 ini, terobosan wisuda dengan cara daring dilakukan. Karena dalam setahun, Gunadharma melakukan tiga kali wsuda, dan setiap wisuda jumlah mahasiswanya mencapai 2500 orang.

Dalam paparannya, Margianti mengungkapkan terobosan-terobosan cara wisuda yang dilakukan Gunadharma, mulai dari sosialisasi, petunjuk penggunaan baju dan toga, saat upacara hingga semuanya selesai.(sur)