Ramai-Ramai Bangkitkan Kembali Pariwisata Bali

Ramai-Ramai Bangkitkan Kembali Pariwisata Bali

SHNet, Bali– Pandemi Covid-19 tak hanya berdampak pada masalah kesehatan saja, tapi ke seluruh sektor termasuk sektor pariwisata.

Terutama daerah-daerah yang menggantungkan perekonomiannya pada pariwisata. Bali, salah satunya. Sejak lama, Pulau Dewata ini terkenal di seluruh dunia.

Bagi wisatawan mancanegara (Wisman), rasanya tak lengkap ke Indonesia, kalau belum ke Bali. Island of Paradise  ini menjadi destinasi favorit mereka

Namun, saat Covid-19 melanda, pariwisata Bali terpuruk. Bali yang biasanya ramai wisatawan, begitu sepi. Pemandangan ini terlihat ketika SHNet mengunjungi kawasan Legian, Kamis siang.

Jalan yang biasa ramai, begitu lengang. Deretan toko di sepanjang jalan masih banyak yang tutup.
“Kawasan Legian ini kalau sore hari kayak kota mati,” ujar Putu, sopir yang mengantar rombongan Familiarization Trip (Famtrip ) dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Ia mengaku, sejak pandemi Covid-19, dirinya kembali ke Gianyar membantu orangtuanya yang berprofesi sebagai petani. “Saya baru dua kali ini mengantar wisatawan selama Covid. Enam bulan kemarin saya bertani aja di kampung,” ujarnya.

Hal senada diutarakan oleh Ketut Jatni. Pemilik warung di kawasan Hidden Canyon Beji Guwang, Gianyar. Menurutnya, selama 6 bulan, ia tidak jualan karena Hidden Canyon ditutup.

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Vinsensius Jemadu mengatakan dampak Covid-19 sangat dirasakan oleh daerah-daerah yang menggantungkan pendapatan daerahnya dari sektor pariwisata.

“Bali salah satunya. Pariwisata sudah menjadi urat nadi Bali. Covid-19 membuat perekonomian Bali minus. Banyak tenaga kerja di sektor pariwisata yang PHK dan dirumahkan,” ujarnya.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah melakukan berbagai upaya untuk membangkitkan kembali pariwisata Bali.

Vinsensius menjelaskan, sejak Juni 2020, pihaknya telah melakukan pendekatan khusus untuk Bali dengan melakukan kerjasama dengan Traveloka, Alibaba, Blibli dan sebagainya untuk menjual paket-paket wisata akhir tahun dengan diskon menarik.

“Sampai saat ini sudah ada 3000 voucher dibeli oleh masyarakat untuk liburan akhir tahun mereka di Bali,” ujarnya.

Selain itu, Kemenparekraf.juga gencar melakukan promosi pariwisata dengan memperhatikan protokol kesehatan. Vinsensius mengatakan, tren ke depan, wisatawan akan mencari akomodasi, restoran dengan memperhatikan protokol kesehatan
yang bertumpu pada 3M yakni Mencuci tangan, Menjaga jarak  aman dan Menggunakan masker.

Upaya lain yang dilakukan adalah pelaku parekraf mendapatkan sertifikasi untuk program CHSE secara gratis.

Rencananya, Bali akan dibuka kembali untuk internasional khususnya untuk negara- negara di Asia dan ASEAN pada akhir Desember 2020 dan awal tahun 2021.

“Kami sudah melakukan pertemuan G to G untuk Asia dan ASEAN. Namun, masing-masing negara punya kebijakan sendiri. Seperti Malaysia, pemerintahnya mengizinkan warganya ke luar negeri, namun ke negara-negara yang low  risk.  Indonesia sendiri masih masuk negara yang medium risk,” ungkap Vinsensius.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Ir Putu Astawa mengatakan, Bali sangat tergantung pada sektor pariwisata.

Covid-19 sangat berdampak pada pariwisata di Bali. Perekonomian di Bali mengalami kontraksi minus 11 persen. Tenaga kerja di sektor pariwisata ada 73.000 yang PHK

Pemerintah Provinsi Bali melakukan upaya membangkitkan kembali pariwisata Bali dengan memberikan sertifikasi CHSE secara gratis.

Di provinsi Bali sudah ada 200 hotel bintang tiga, empat dan lima serta 800 industri pariwisata yang sudah memperoleh sertifikasi dengan menerapkan protokol kesehatan atau CHSE.

“Kita ingin mencepat Covid-19 dengan menekan penularan, disiplinkan masyarakat termasuk denda bagi masyarakat yang tidak menjalankan protokol kesehatan. (Stevani Elisabeth)