Kolaborasi Pecinta Budaya Indonesia di Austria dan Slovenia

Kolaborasi Pecinta Budaya Indonesia di Austria dan Slovenia

Suasana Dialog Virtual ke-2 Diplomasi Kebudayaan Indonesia di Masa Pandemi pada Jumat akhir pekan ini (9/10), di KBRI/PTRI Wina

SHNet, Wina-Promosi budaya Indonesia di luar negeri tidak hanya dilakukan oleh Perwakilan RI, namun juga oleh WNI dan diaspora Indonesia yang berdomisili di luar negeri. Namun demikian, kolaborasi promosi budaya menjadi kurang aktif akibat pandemi Covid-19 yang memberikan banyak batasan bagi penampilan kesenian dan budaya Indonesia.

Dalam Dialog Virtual ke-2 Diplomasi Kebudayaan Indonesia di Masa Pandemi pada Jumat akhir pekan ini (9/10), KBRI/PTRI Wina berbincang santai dengan sepuluh WNI dan diaspora Indonesia di Austria dan Slovenia dengan topik kecintaan dan Promosi Budaya Indonesia di Masa Pandemi. Mereka adalah profesional di bidangnya masing-masing serta seniman dan budayawan yang selalu mempromosikan budaya Indonesia.

“Apresiasi yang tinggi kami sampaikan kepada para WNI dan diaspora Indonesia yang telah membantu Pemerintah Indonesia, dalam hal ini KBRI/PTRI Wina, dalam melaksanakan promosi budaya Indonesia di Austria dan Slovenia,” ungkap Wakil Kepala Perwakilan RI, Witjaksono Adji dalam sambutannya mewakili Duta Besar RI untuk Austria, Slovenia dan Badan PBB di Wina.

Para narasumber aktif mempromosikan budaya Indonesia dengan cara bervariasi. Kegiatan yang mereka lakukan, a.l. adalah membuka sanggar tari, kelas membatik, kelas musik tradisional seperti gamelan, kelas memasak menu Indonesia, mengajar Bahasa Indonesia, melatih olah raga dan mengorganisir kegiatan tari poco-poco bersama, mengasuh perguruan pencak silat, dan mengajarkan lagu-lagu Indonesia di sekolah-sekolah. Dalam bincang-bincang ini, para narasumber sangat antusias mengungkapkan kecintaannya dan kiprahnya dalam mempromosikan budaya Indonesia.

Empat WN Austria yang juga diaspora Indonesia aktif mempromosikan musik Batak, gamelan bali, Pencak Silat dan mendorong kerja sama antar universitas di Indonesia dan Austria untuk pelestarian budaya Indonesia a.l. seni lukis dan puisi-fotografi.

Selain ke-10 narasumber tersebut, masih banyak WNI dan diaspora Indonesia yang aktif mempromosikan budaya Indonesia di Austria dan Slovenia. Pendirian Rumah Joglo di Arboretum, Slovenia pada 23 April 2014 juga merupakan salah satu contoh dukungan para WNI dan diaspora Indonesia di Slovenia dalam mempromosikan budaya Jawa melalui kerja sama dengan KBRI/PTRI Wina dan Pemerintah Provinsi DIY serta pengelola Taman Bunga di Arboretum.

Awal mula para WNI dan diaspora Indonesia terjun mempromosikan budaya Indonesia di Austria dan Slovenia menarik untuk disimak. “Saya pertama kalinya menari bersama dengan kelompok tari saya di salah satu festival dan dari situ saya melihat banyak masyarakat Austria menyenangi tarian Indonesia,” ujar Ida Ayu Nyoman Sawitri Handayani pemilik sanggar tari Shivanata di Wina.

Workshop batik amat diminati di sini”, ungkap Josfiarso, pembatik asal Yogyakarta, Indonesia yang menetap di Klagenfurt, Provinsi Carinthia, Austria. Sementara Sudino yang bekerja di KBRI/PTRI Wina dan ditugasi melatih gamelan Jawa, menceritakan bahwa Tim Kesenian Gamelan Jawa KBRI/PTRI Wina telah melakukan pentas di berbagai kota di Austria dan Slovenia.

Lain cerita, Marisa Meutia Kogovšek yang di sela-sela pekerjaannya sebagai CEO perusahaan baja milik keluarga, sesekali ke sekolah-sekolah di Ljubjana, ibukota Slovenia untuk mengenalkan budaya Indonesia kepada murid-murid SD dan SMP. “Banyak kesempatan bagi para intelektual atau peminat budaya Indonesia untuk memanfaatkan beasiswa atau proyek riset pelestarian budaya yang dibiayai oleh kerja sama antar universitas atau oleh pemerintah Indonesia dan Austria serta Uni Eropa,” tambah Prof A Min Tjoa, Ketua Austria-Indonesia Society yang juga Guru Besar di Technical University (TU Wien), Austria.

Narasumber WNI yang juga cinta budaya Austria dan selalu mempromosikan budaya Indonesia dalam pekerjaannya (sebagai kurator di museum ternama di Kota Wina), Jani Kuhnt-Saptodewo, menceritakan kegiatannya mengenalkan Bahasa Indonesia dalam program Sprachen Kaffee (Bincang-bincang di Kedai Kopi) di Weltmuseum Wien.

Pengalaman Adji Becker-Subowo yang menetap di Tyrol tak kalah menariknya. Mantan olahragawan Ski Salju yang sering membawa nama Indonesia di turnamen Ski Internasional, saat ini bekerja pada perusahaan peralatan ski di Tyrol, sebagai tim penyelamat di pemerintah setempat dan pelatih Sepak Bola U8-U12. Adji selalu mengenalkan budaya Indonesia melalui kuliner, rempah-rempah dan budaya senyum Indonesia dalam pekerjaannya.

WNA Pencinta Budaya Indonesia

Selain masyarakat Indonesia, dialog virtual ke-2 tersebut menghadirkan WN Austria yang memiliki kecintaan terhadap kesenian Indonesia. Mereka adalah Max Lorenz dari Altenberg, Austria, Stefan Taibl dari Wina dan Hermann Delago (mendapat nama marga Batak – Manik) yang tinggal di daerah Tyrol. Max dengan grup gamelan Bali, Stefan dengan sanggar Pencak Silat Anak Harimau dan Hermann dengan grup musiknya bekerjasama dengan KBRI/PRI Wina dalam promosi seni-budaya di berbagai kota di Austria dan Slovenia.

“Ketika saya berwisata ke Bali tahun 1990an, saya mendengar seseorang menyanyikan lagu Batak dan saya langsung jatuh cinta dengan lagu-lagu Batak,” imbuh Hermann. Hermann Delago telah membuat satu video musik berjudul “Butet” yang berkolaborasi dengan penyanyi Vicky Sianipar.

Secara umum diperoleh gambaran bahwa para WNI dan diaspora Indonesia tersebut perlu untuk menyesuaikan dengan peraturan setempat dalam promosi budaya di masa pandemi. Meski beberapa kesempatan pertunjukan dibatalkan, mereka berlatih dalam kelompok kecil atau di tempat terbuka serta membuat video untuk disiarkan secara virtual.

Dalam kesempatan bincang-bincang tersebut, beberapa masukan dan saran untuk lebih mendorong promosi budaya Indonesia di Austria dan Slovenia disampaikan secara langsung oleh para seniman agar dapat dilakukan kolaborasi secara virtual. Saran dan masukan tersebut akan ditindaklanjuti dengan melakukan kolaborasi antara para seniman dan KBRI/PTRI Wina serta juga dengan beberapa institusi pendidikan seni di Indonesia yang turut hadir dalam acara virtual tersebut.

Bincang-bincang budaya pada dialog virtual ke-2 yang dapat disimak kembali melalui Youtube Channel Embassy of Indonesia, Vienna tersebut, diakhiri dengan menyaksikan pemutaran video lagu Butet oleh Hermann Delago. (sur)