Jelajah Pesona Bumi “Swiss Van Java”

Jelajah Pesona Bumi “Swiss Van Java”

SHNet, Garut– Alam tanah Pasundan julukan untuk Provinsi Jawa Barat tak hanya indah, tetapi memiliki potensi pariwisata yang tak kalah mempesona.

Jawa Barat kaya akan potensi wisata dan budaya. Bahkan beberapa tempat di Jawa Barat punya julukannya masing-masing. Bandung misalnya, punya julukan “Paris Van Java”.

Tak jauh dari Bandung, ada daerah yang dijuluki ‘Swiss Van Java”. Adalah Aktor Charlie Chaplin yang memberikan julukan tersebut pada Kabupaten Garut.

Julukan “Swiss Van Java” karena sejuknya udara di Garut. Dikelilingi oleh banyak gunung, diantaranya Gunung Guntur, Puteri, Cikuray, Papandayan, Galunggung, Garut terlihat seperti katel dengan pusat kotanya di bagian bawah.

Berdasarkan sejarahnya, pusat kota Garut berada di Limbangan. Karena ketersediaan air dan lahan yg tidak mendukung di daerah Limbangan, akhirnya pindah ke lokasi Garut sekarang.

Pada saat pemindahan lokasi tersebut, ada seorang panitia yang bekerja membabat tanaman liar, terluka. Ada seorang Belanda yang
menanyakan, “Mengapa tanganmu terluka?”

Si panitia tersebut menjawab, “kakarut” yang dalam Bahasa Indonesia artinya tergores. Namun, orang Belanda tersebut menyebutkan “gagarut”. Jadilah Garut.

DPR RI bermitra dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif khususnya dengan Deputi Pemasaran, Regional I menggelar Famtrip dari 28-30 Oktober 2020 yang bertujuan untuk menggali lebih banyak lagi potensi wisata di Garut dan mempromosikannya, sehingga mendatangkan wisatawan dan pebisnis dari luar “Swiss Van Java”.

Selama tiga hari, peserta Famtrip menjelajahi bumi “Swiss Van Java” yang mempesona mulai dari wisata alam, budaya hingga kuliner.

Anggota Komisi X DPR RI Ferdiansyah mengatakan, famtrip ini dilakukan untuk memberikan pengalaman berwisata bagi media maupun pelaku wisata saat berada di Garut.

“Ada 9 kegiatan untuk memberikan pengalaman bagi calon wisatawan yakni kuliner dimana kabupaten Garut punya set menu lokal, suasana malam, alam dan budaya serta desa wisata,” ujar Ferdiansyah kepada peserta Famtrip di Kamojang Ecopark, Kamis (29/10).

Harapannya, lanjut Ferdiansyah, kita konsisten lakukan sosialisasi bersama media dan pelaku usaha wisata, sehingga ke depan lakukan B to B serta mengajak pebisnis luar ketemu pebisnis dari Garut.

Ia menambahkan, mempersiapkan Garut menjadi daerah wisata, sudah dilakukan hampir 10 tahun terutama yang terkait akses menuju daerah wisata, amenitas dan atraksi.

“Atraksi yang gampang dijual. ‘Swiss Van Java’ akan buat daya tarik sendiri terutama saat pandemi Covid-19 ada pergeseran perilaku wisatawan. Mereka cenderung mencari ketenangan dan keheningan,” ujarnya.

Oleh sebab itu, potensi yang dimiliki oleh Garut ini harus dikemas dengan baik.

Hal senada juga diutarakan Koordinator Pemasaran Regional I area I Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Taufik Nurhidayat.

Ia mengatakan, potensi pariwisata Garut banyak yang bisa dikembangkan baik alam, kuliner dan budaya.

“Kalau dikemas dengan menarik, saya yakin akan banyak wisatawan ke sini. Garut tidak jauh dari Bandung dan orang yang ingin mencari ketenangan, bisa datang ke sini. Garut sangat potensi untuk digarap. Destinasi wisatanya lengkap mulai dari gunung hingga pantai,” tutur Taufik.

Hari pertama, para peserta Famtrip berkunjung ke Candi Cangkuang dan Kampung Adat Pulo. Kunjungan hari kedua, Kamis (29/10) ke Soto H Achri yang merupakan kuliner legendaris karena berdiri sejak 1943, Kamojang Ecopark dan Desa Wisata Ciburial. (Stevani Elisabeth)