Ijinkan Anak 13 Bulan Konsumsi Kental Manis, Pakar Gizi Sarankan IDAI Surati...

Ijinkan Anak 13 Bulan Konsumsi Kental Manis, Pakar Gizi Sarankan IDAI Surati BPOM

SHNet, Jakarta – Banyak pihak yang mempertanyakan Peraturan Kepala (Perka) BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan yang seakan-akan mengisyaratkan bahwa Susu Kental Manis (SKM) aman untuk dikonsumsi balita dari usia 13 bulan.  Karena dalam peraturan itu disebutkan bahwa produsen wajib mencantumkan kata-kata “tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan” di label SKM. Batasan usia yang hanya 12 bulan itu dinilai banyak pihak, termasuk para dokter anak dan lembaga masyarakat seperti YLKI bisa disalahtafsirkan para ibu saat membacanya.

Untuk menyelesaikan masalah ini, Pakar Gizi yang juga Guru Besar Ilmu Gizi IPB Prof. Dr. Hardiansyah MS menyarankan agar semua pihak yang tidak setuju dengan batasan usia itu segera menyurati BPOM. Hal itu perlu dilakukan mengingat masyarakat atau konsumen biasanya akan mengikuti penggunaan produk sesuai petunjuk yang tertera pada labelnya.

Dia mengutarakan Susu Kental Manis dibuat dengan cara susu yang dikentalkan untuk membuang kadar airnya. Itulah sebabnya SKM itu harus digunakan sesuai dengan penggunaannya, yaitu harus diencerkan terlebih dahulu dan bukan sebagai pengganti ASI dan susu formula. “Jadi harus digunakan sesuai petunjuk yang tertera pada labelnya. Jadi kalau kental-kental begitu saja ditelan itu tidak benar, tapi harus ditambahkan ke berbagai makanan atau mnuman. Gula yang dimakan orang saja dibatasi, apalagi itu susu yang ditambah gula,” ujarnya.

Saat ditanya penafsirannya soal batasan usia bayi yang hanya 0-12 bulan dilarang minum SKM di label produknya, Hardiansyah mengatakan bahwa kata-kata di label itu jelas mengijinkan anak di atas 1 tahun untuk mengkonsumsinya.  “Karenanya saya menyarankan agar IDAI menyurati saja BPOM dengan menyertakan bukti yang kuat bahwa anak di atas usia 12 bulan juga tidak boleh menggunakan SKM. Begitu juga dengan lembaga masyarakat yang keberatan dengan batasan usia itu,” ucapnya.

Dengan adanya surat keluhan itu nantinya, kata Hardiansyah, BPOM seharusnya langsung mengadakan rapat dan mendiskusikan untuk mengambil keputusan apakah akan memperbaiki regulasinya atau tidak.  “Setelah disurati, BPOM biasanya mengundang pakar-pakar untuk mengkajinya. Biasanya begitu kalau di pemerintah. Tapi kalau buktinya tidak kuat, BPOM juga tidak bisa semena-mena mengganti peraturan itu,” katanya.

Menurutnya, regulasi yang baik itu dirumuskan berdasarkan stakeholder, engagement  dan enforcement, serta berbasis bukti terkini dan kuat . “Ketiga, tidak akan menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat tapi justru berdampak positif. Artinya, peraturan itu harus yang bermanfaat buat masyarakat,” ujarnya.

Mengenai sosialisasi peraturan Susu Kental Manis di masyarakat, menurut Hardiansyah, itu menjadi tanggung jawab lembaga yang mengeluarkan peraturan, dalam hal ini BPOM, dengan mengajak kelompok-kelompok yang bisa menjadi influencer. “Penanggungjawab utamanya adalah lembaga yang mengeluarkan aturan.  Dia harus mengajak mitra-mitranya di Kementerian/Lembaga terkait. BPOM juga seharusnya bekerjasama dengan Kemenkominfo sebagai ujung tombak untuk menyampaikan pesan-pesan pemerintah,” tukasnya.

Mengutip dari situs resminya, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan tegas  melarang pemberian Susu Kental Manis untuk bayi dan anak. Alasannya, susu kental manis  memiliki kadar gula yang tinggi, dan kadar protein yang rendah. Menurut IDAI, pertimbangan orangtua memilih susu kental manis adalah harga yang relatif lebih murah, mudah disimpan dan tidak cepat basi dibandingkan dengan susu formula.

IDAI juga tidak merekomendasikan balita untuk mengkonsumsi SKM. Alasannya, SKM yang dijual secara komersil menuliskan dalam satu takar porsi (4 sendok makan) memasok 130 kkal, dengan komposisi  gula tambahan 19 gram dan protein 1 gram. Jika dikonversikan dalam kalori, 19 gram gula sama dengan 76 kkal. “Kandungan gula dalam satu porsi susu kental manis tersebut lebih dari 50% total kalorinya, jauh melebihi nilai rekomendasi gula tambahan yang dikeluarkan oleh WHO, yaitu kurang dari 10% total kebutuhan kalori,” tulis IDAI.

Hal senada disampaikan YLKI. “Rekomendasi menyusui  yang diwajibkan itu adalah dua tahun bukan setahun. Waktu itu dalam pertemuan dengan BPOM di uji publik dan rekomendasi  peraturan itu, YLKI sudah memberikan masukan agar itu dibuat jangan setahun tapi dua tahun. Banyak juga yang menentang waktu itu, tidak hanya YLKI saja,” tutur Peneliti YLKI Natalya Kurniawati, beberapa waktu lalu.

Memang, kata Natalya, bayi yang sudah berusia di atas 12 bulan itu sudah bisa diberikan makan makanan keluarga. “Tapi kalaupun setelah setahun anak bisa dibantu susu lain, itu bukan Susu Kental Manis. SKM ini tidak bisa diberikan sebagai pengganti susu. Tapi kalau mau makan puding dicampur SKM itu baru boleh,” kata Natalya yang juga lulusan Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia ini. (Carles)