MenteriLHK Siti Nurbaya, Puncak Karhutla Oktober Harus Dijaga dan Solusi Permanen Terus...

MenteriLHK Siti Nurbaya, Puncak Karhutla Oktober Harus Dijaga dan Solusi Permanen Terus Diupayakan

Menteri Siti Nurbaya saat memimpin rapat prediksi, evaluasi cuaca, dan iklim untuk antisipasi Karhutla dan banjir di Indonesia, di Jakarta, Jumat (18/9).

SHNet, Jakarta- Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan(LHK),  Siti Nurbaya membahas  prediksi, evaluasi cuaca dan iklim untuk antisipasi Karhutla dan banjir di Indonesia bersama-sama dengan  Kepala BNPB, BMKG, BPPT, BRG, dan ahli Klimatologi  serta pejabat eselon I  lintas kementerian/lembaga.

“Hingga saat ini semua pihak masih melaksanakan kerja lapangan yang terbaik bagi segenap rakyat Indonesia,” ujar Menteri Siti Nurbaya saat memimpin  rapat prediksi, evaluasi cuaca, dan iklim untuk antisipasi Karhutla dan banjir di Indonesia, di Jakarta, Jumat (18/9).

Dari rekomendasi BMKG, Indonesia masih harus terus mewaspadai anomali cuaca. Tantangan yang dihadapi adalah luasnya wilayah, dan berbagai persoalan dinamis di tiap daerah yang berbeda-beda  dengan variabilitas cuaca   atau micro-climate yang juga  dapat berbeda antar wilayah.

Contohnya, bila tahun lalu pada periode ini kita berhadapan dengan ancaman Karhutla, maka tahun ini beberapa wilayah dilaporkan sedang terjadi banjir. Ini semua harus bersama-sama dicermati dan antisipasi.

“Khusus untuk Karhutla, terus diikuti perkembangan hotspot setiap hari. Evaluasi laporan dari lapangan dipantau setiap pagi dan malam. Ini juga penting untuk melihat efektifitas kerja pengendalian Karhutla, terutama di masa pandemi,” ujar Menteri Siti.

Pada saat ini tercatat jumlah hotspots sebanyak 1.651 dari Januari – September saat ini dan tahun 2019 pada periode yang sama tercatat 18.333  hotspots, atau terjadi penurunan hotspots  sebanyak 91 %.

Ada beberapa catatan penting dari diskusi teknis yakti bahwa hingga Oktober, kerja tekhnologi modifikasi cuaca (TMC) untuk membasahi gambut, mengisi kanal dan embung, tetap akan dilakukan.

“ TMC untuk wilayah Riau, Jambi dan Sumsel dan diproyeksikan sudah akan dapat dihentikan pada Akhir Oktober. Kemudian  pada November akan diintensifkan untuk Kalsel dan Kaltim.  Sementara itu secara khusus berdasarkan cuaca, perlu dipantau cuaca sampai dengan  Desember untuk Aceh-Sumut,”  ujar Menteri Siti Nurbaya saat menyimpulkan rapat teknis setelah mencermati laporan  kondisi iklim September 2020 hingga Februari 2021 dari  Kepala BMKG Prof Dwikorita.

Untuk keperluan pencegahan permanen,  sudah dilakukan uji coba modifikasi cuaca tahun ini sejak Februari  2020 di Riau. Telah berhasil diatasi fase krisis  pertama di Riau, maka pada Mei Juni  dilakukan  uji coba modifikasi cuaca di Jambi dan Sumsel serta Riau  dan dilanjutkan ke Kalbar pada bulan Agustus.

Dari kerja teknis tersebut lanjut Menteri Siti, maka perlu dilakukan kajian empirik dari seluruh peristiwa sejak tahun 2015 hingga sekarang. Riset penting dari kerja pengendalian yang telah dilakukan lima tahun terakhir perlu  mulai dilakukan sehingga nantinya bisa ada  satu pedoman bersama untuk pengendalian karhutla yang permanen. Diantara riset tersebut seperti reaksi dan perilaku awan, riset gambut dan  teknik  water management dan water ballance, riset perilaku kubah gambut dan berbagai riset pendukung lainnya.

Menurut Siti Nurbaya, penting juga langkah Pelembagaan data BMKG bagi seluruh daerah, dengan diseminasi kepada Pemda secara bersama BMKG,BNPB dan KLHK. Hal ini penting agar Pemda dapat menggunakan data BMKG untuk mitigasi bencana, terutama untuk prediksi daerah rawan banjir dan upaya pengendalian karhutla.

Hasil Siginifikan

Menteri LHK juga menegaskan bahwa masih ada tugas berat yaituberkaitan dengan kegiatan  pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) ; dan untuk itu juga akan semakin diintensifkan melibatkan lintas Kementerian/Lembaga, tentunya dengan keterlibatan masyarakat.

Sebagai catatan tambahan, berbagai upaya pengendalian karhutla di Indonesia sudah menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Meski tantangan lapangan masih besar, namun mulai terpola dan akan terus dimatangkan di tengah tantangan yang sama sedang dihadapi berbagai negara di dunia.

Pada kesempatan itu, Kepala BNPB Donny Monardo menyatakan  bahwa Indonesia bahkan untuk pertama kali dalam sejarah, telah diminta untuk memberikan bantuan pengendalian Karhutla pada negara tetangga Australia, ketika sedang mengalami karhutla. Ini menunjukkan bahwa Indonesia sudah lebih maju dan terukur dalam pengendalian karhutla.

Menteri Siti  menegaskan bahwa Indonesia sedang dan terus bergerak menuju apa yang diharapkan Bapak Presiden Joko Widodo, mengenai solusi permanen pengendalian Karhutla di Indonesia.

Arahnya sudah tepat dan jelas. Tinggal menjaga konsistensi hingga nantinya terbentuk satu pedoman bersama untuk masa depan lingkungan hidup yang lebih baik. “Terimakasih untuk seluruh tim kerja di manapun berada. Semoga Allah SWT meridhoi langkah ini,” kata Menteri.(sur)