Krisna Bayu Sikapi Positif Pernyataan Presiden Joko Widodo

Krisna Bayu Sikapi Positif Pernyataan Presiden Joko Widodo

MENILAI - Krisna Bayu yang kini menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sambo Indonesia (PB Persambi) menilai apa yang disampaikan Presiden Jokowi itu adalah fakta yang tak bisa dibantah. (Ist)

SHNet, JAKARTA – Pernyataan Presiden Joko Widodo pada peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas), 9 September 2020 di Gedung POPKI Cibubur Jakarta Timur bahwa tata kelola pembinaan olahraga Indonesia harus dibenahi mendapat tanggapan serius dari Krisna Bayu mantan judoka terbaik Indonesia.

Krisna Bayu yang kini menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sambo Indonesia (PB.Persambi) itu menilai apa yang disampaikan Presiden Jokowi itu adalah fakta yang tak bisa dibantah.

“Pernyataan Bapak Presiden Jokowi itu harus kita sikapi dengan positif, artinya sebagai kepala negara beliau tentu ingin olahraga Indonesia harus mencapai prestasi lebih tinggi. Olahraga Indonesia pernah berjaya dan melahirkan atlet-atlet kaliber dunia. Kalau sekarang mengalami kemunduran berarti ada sesuatu dalam pengelolalaan pembinaan olahraga kita bermasalah,” kata Krisna Bayu kepada media, Kamis (10/9/2020).

Meski begitu, kata Krisna Bayu, dalam tata kelola pembinaan olahraga itu tak bisa lepas dari cabang olahraga itu sendiri. Tak bisa terus menerus inspirasi cabor diwakilkan duta-duta atau lembaga yang tidak paham olahraga itu sendiri. Bagemana bisa meningkat kalau perhatian pemerintah terhadap olahraga masih separoh hati bahkan belum diperhatikan secara serius dalam anggaran.

“Bukan hanya faktor anggaran saja yang menjadi kendala tapi pisikologi organisasi olahraga yang tidak pernah diperhatikan pemerintah secara serius,membuat organisasi separuh hati dalam bekerja meningkatkan prestasi. Serta masih banyaknya pimpinan cabang olahraga yang menganggap olahraga bagian dari eksistensi politik untuk kedekatan terhadap pemerintah dan belum 100% peduli dengan peningkatan prestasi olahraga yang harus dicapai. Lebih baik olahraga dipimpin oleh orang gila olahraga dari pada dipimpin oleh pimpinan yang mempunyai kebutuhan politik didalam olahraga,” ujarnya.

Satu hal lagi yang diingatkan Krisna Bayu adalah kebiasaan bangga berlebihan dengan preatasi di SEA Games harus pelan-pelan kita tinggalkan. Indonesia harus mulai serius membuat program menuju Asia. Tanpa ada perubahan konsep prestasi dari SEA Games ke Asian Games sampai 100 tahun kedepan Indonesia akan selalu kalah bersaing dengan negara Asean lainya.

Dengan Pidato bapak Presiden RI Joko widodo yang mengatakan olahraga Indonesia butuh perombakan total, menurutu Krisna Bayu, sangat tepat. “Saya sanggat mengapresiasi pandangan beliau. Harapan kami jangan hanya berhenti dalam saran atau pidato publik saja, tapi harus terealisasi dengan baik dalam pemerintahan ini. Sering terjadi semua berhenti dalam pidato saja. Untuk tidak selalu melakukan kesalahan yang sama libatkan induk-induk organisasi cabang olahraga untuk terlibat diskusi langsung dengan presiden, karena yang tau akar permaslahanya adalah cabang olahraga itu sendiri,” tambahnya lagi.

Krisna Bayu juga menyoroti masa depan atlet berprestasi harus juga diperhatikan. Masa muda yang disibukan dengan berlatih keras pastinya akan berimbas kepada nilai pendidikan formal. Hingga saat ini belum ada solusi yang nyata diberikan oleh pemerintah.

Bukan hanya bonus diakhir multi even dan juga bukan hanya jaminan ASN saja solusinya. Tapi pemerintah harus lebih serius memperjuangkan masa depan atlet berprestasi dengan jaminan pekerjaan yang standar baik. Banyak keluhan atlet yang merasa kenapa saat juara begitu masuk ASN kok kerjanya hanya seperti masyarakat umum yang tidak pernah berprestasi. Artinya standar yang baik harus dibuat agar jaminan kerja dengan profesional bisa didapat untuk para juara. Masa muda para atlit dikorbankan untk bangsa dan negara guna meraih prestasi tapi belum terapresiasi dengan baik oleh pemerintah.

“Karna prestasi olahraga tidak bisa didapat secara maksimal dalam waktu yang singkat, prestasi olahraga Indonesia harus diraih dalam priode yang sanggat panjang, berkesinambungan dan tidak boleh terputus ditengah jalan. Dengan demikian kita bisa menyelamatkan generasi muda berprestasi bangsa Indonesia,” tutur peraih 5 medali emas di 5 SEA Games berbeda ini.

Yang patut digaris bawahi, seperti dikatakan Krisna Bayu adalah atlit dan pelatih juga butuh kepastian penghasilan, jangan hanya pada saat pelatnas mereka diberi honor tapi pada saat atlit dan official di SK kan sebagai atlit nasional seharusnya jaminan hidupnya bisa d biayai terus sehingga mereka bisa fokus untuk terus berlatih bukan hanya pada saat akan menghadapi even baru mereka diberi honor/penghasilan. (Nonnie Rering)