Jakarta Coffee, Kopi dengan Segudang Story dan History

Jakarta Coffee, Kopi dengan Segudang Story dan History

SHNet, Jakarta – Jika negara adi daya Amerika Serikat (AS) punya merk dagang kopi yang sangat terkenal seperti Starbucks, maka Indonesia punya Jakarta Coffee. Jakarta Coffee menghadirkan kopi-kopi dari daerah seluruh pelosok negeri Indonesia, sekaligus story (cerita) dan history (sejarah).

Jakarta coffee menghadirkan biji kopi yang telah di roasting dan dikemas dalam kemasan yang apik dan bernilai seni. Selain itu, Jakarta Coffee juga menghadirkan minuman kopi panas dan dingin dengan cita rasa otentik, yang memadukan antara kopi, gula aren, dan krim. Meski begitu, harganya tak sampai menguras kantong. Minuman kopi di Jakarta Coffee dibandrol dengan harga Rp 15.000 – Rp 20.000-an.

Menurut sang pendiri, Arie Aripin, Jakarta Coffee hadir sebagai “Kopi Perekat Persahabatan”. “Di sini orang bisa bertukar pikiran, bertemu teman-teman baru dan peluang-peluang baru,” katanya ketika ditemui SHNet di Thamrin 10, akhir Agustus lalu.

Jakarta Coffee memiliki logo monas dan pohon kopi. Arie sangaja menghadirkan logo tersebut karena memiliki filosofi, budaya, dan perjuangan. “Monas adalah simbol perjuangan Jakarta dan Jakarta adalah tempat kopi pertama kali ditanam di Indonesia,” katanya.

Pada 1696, Walikota Amsterdam Nicholas Witsen memerintahkan komandan VOC di Pantai Malabar, Adrian van ommen untuk membawa bibit kopi ke Batavia. Bibit kopi ini kemudian diujicoba pertama kali di lahan pribadi Gubernur Jenderal VOC Willem van Outhoorn di kawasan yang sekarang dikenal sebagai Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Bibit kopi ini kemudian tumbuh subur dan menghasilkan buah yang bisa dipanen. Biji kopi dari hasil panen pertama kebun ini kemudian dibawa ke Hortus Botanicus Amsterdam. Sayangnya penanaman kopi di kawasan Pondok Kopi ini tak berjalan mulus karena kebun kopi dilanda banjir yang akhirnya merusak tanaman. Kemudian pada 1699, bibit kopi kembali didatangkan namun penanamannya diperluas ke Jawa Barat.

Mulai dari sini, kebun kopi semakin luas dan menjelajah ke banyak daerah di Indonesia. Tak disangka, ternyata para biolog di Hortus Botanicus Amsterdam kagum dengan kualitas kopi Jawa.

Para biolog ini mengatakan kalau kopi Jawa punya kualitas dan cita rasa yang unik dan berbeda dengan kopi yang pernah mereka coba. Mengetahui hal ini, kemudian para ilmuwan mengirim contoh kopi Jawa ke berbagai kebun raya yang ada di Eropa.

“Seiring berjalannya waktu, istilah a Cup of Java muncul di dunia barat, hal ini mengesankan kopi Indonesia identik dengan Kopi Jawa, meskipun masih terdapat kopi nikmat lainnya seperti kopi Sumatera dan kopi Sulawesi. Kopi yang ditanam di Pulau Jawa pada umumnya adalah kopi Arabika,” tulis akun ini.

Setelah dilanda banjir hebat yang merusak kebun kopi, kawasan ini kemudian tak pernah lagi ditanami kopi. Bibit kopi kemudian dibudidayakan di wilayah Priangan, Jawa Barat.

Pondok Kopi dulunya dikenal dengan sebutan Desa Kopi, saat itu desa ini masuk dalam bagian Desa Malaka. Karena sulit membedakan antara Desa Kopi dan Desa Malaka, akhirnya warga sepakat mengganti nama Desa Kopi dengan sebutan Pondok Kopi. Nama ini masih digunakan sampai sekarang.

Dari daerah-daerah

Arie mengatakan, Jakarta Coffee juga menyuguhkan story dan history. Ini karena semua kopi yang ditanam dan tumbuh di Indonesia memiliki cerita dan sejarah sendiri-sendiri. “Saya ingin memperkenalkan kopi Indonesia lewat story dan history-nya. Saat kita menikmati kopi, kita bukan hanya tahu ini robusta atau arabika, tapi juga tahu cerita dan sejarah kopi yang diminumnya, ” katanya.

Saat ini, Jakarta Coffee sudah melebarkan sayapnya hingga ke daerah-daerah melalui kemitraan dengan para stakeholder. Bahkan, Jakarta Coffee telah memberikan pelatihan barista gratis kepada 174 orang dari seluruh Indonesia. Mereka umumnya dilatih selama 15 hari.

“3 hari basic, 7 hari sudah mengerti, dan 15 hari latihan art. Arti ini penting karena nilainya akan lebih mahal,” katanya. Kata Arie, setelah dilatih secara gratis, barista-barista ini kemudian bisa pulang ke kampung halamannya masing-masing dan mereka menjadi enterpreneur baru dengan cara membuka usaha kopi.

“Dengan begitu akan muncul kopi-kopi yang punya keunikan sendiri di berbagai daerah. Orang nantinya kalau minum kopi tidak lagi ke cafe-cafe besar, tapi justru ke warung kopi yang menyuguhkan kopi asli daerah itu. Setiap daerah punya story-nya sendiri,” katanya.

Dengan begitu, lapangan-lapangan kerja akan tumbuh di pedesaan dan ekonomi desa semakin meningkat. “Daerah pun akan punya kopi unggulan dan kebanggaan,” ujarnya. (Tutut Herlina)