Cegah Pikun di Usia Produktif, Deteksi Dini dengan e-Memory Screening

Cegah Pikun di Usia Produktif, Deteksi Dini dengan e-Memory Screening

Pikun bisa dideteksi dini dengan e-Memory Screening. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta- Pikun atau Dimentia Alzaimer sering dianggap lumrah oleh masyarakat karena umumnya dialami oleh mereka yang lanjut usia. Namun, belakangan ini pikun bukan hanya terjadi diusia lanjut, tetapi mereka yang usia produktif juga bisa mengalaminya.

Ketua Umum Pengurus Pusat PERDOSSI Dr , dr Dodik Tugasworo P, SpS (K) mengatakan pada tahun 2013 ada 1 juta orang yang menderita pikun. Diprediksikan jumlah penderita dimentia alzaimer meningkat dua kali lipat pada 2030 dan meningkat menjadi 4 juta penderita pada 2050.

“Dari jumlah tersebut memang belum ada data yang jelas berapa banyak usia produktif yang menderita pikun. Tetapi tren penderita  di Indonesia meningkat. Hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran di masyarakat tentang penyakit tersebut. Masyarakat masih menganggap pikun itu suatu yang wajar, sehingga mengakibatkan stigmanisasi dan lambatnya pengobatan,” papar Dodik pada Digital Media Briefing “Pikun Bukan Hal Normal, Kenali Gejala dan Segera Obati “.

Menurut Ketua Studi Neurobehavior PERDOSSI: dr. Astuti, Sp.S(K), dimentia alzeimer dikenal sebagai penyakit degeneratif yang menyerang otak. “Penyakit ini tidak hanya menyerang usia lanjut, tetapi mereka yang usia produktif juga, Dampaknya, bukan hanya dirasakan oleh penderita dan keluarganya, melainkan juga dirasakan oleh lingkungan,” ujarnya.

Faktor penyebabnya antara lain gaya hidup, dimana sebagian usia produktif sibuk dengan gadgetnya, sehingga malas untuk bergerak, kurang olahraga dan sebagainya. Mereka yang menderita penyakit diabetes, pernah mengalami cidera di kepala dan stres rentan terserang penyakit tersebut.

Astuti menambahkan, ada 10 gejala umum dari pikun yang harus diketahui oleh masyarakat. Kesepuluh gejala umum itu adalah sulit fokus, pelupa, kesulitan melakukan kegiatan familiar, kesasar, disorientasi orang, kesulitan memahami sering lupa taruh barang, salah membuat keputusan, menarik diri dari pergaulan dan sensitif, mudah marah.

“Obat hanya mampu memperlambat prograsifnya. Pikun dapat dicegah sejak dini dengan mengurangi stres, olahraga secara teratur, mengembangkan hobi dan hindari rokok serta alkohol,” ungkap Astuti.

Dokter Spesialis Saraf: dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.S(K) belum lama ini ada inovasi yang diciptakan oleh anak bangsa untuk mendeteksi dini kepikunan yakni aplikasi e-Memory Screening.

“Aplikasi ini karya anak bangsa dan dapat didownload di AppStore. Begitu masuk ke aplikasi ini, kita daftar terlebih dahulu. Kemudian ada 8 pertanyaan yang harus kita jawab. Setelah itu muncul skornya. Bila skornya rendah, maka kita disarankan untuk konsultasi ke dokter syaraf yang terdekat dengan tempat kita berada,” ujarnya.

President Director PT Eisai Indonesia (PTEI): dr. Iskandar Linardi menjelaskan, Eisai merupakan perusahaan farmasi yang berdiri pada 1941 di Jepang. “Kita fokus di neurologi, onkologi, gastrologi dan urologi. Kami memiliki e-MC (electronic clinic) yang bisa mendeteksi dimentia sejak awal. E-MC dapat membantu penurunan dimentia di Indonesia,” tutup Iskandar. (Stevani Elisabeth)