Benteng Terakhir Lawan Covid 19 di RT dan RW

Benteng Terakhir Lawan Covid 19 di RT dan RW

Oleh Nukila Evanty

Satgas Penanganan Covid- 19 telah menerima laporan kasus positif Covid -19 bertambah sejumlah 1.519 orang atau kumulatif 111.455, sedangkan kasus sembuh bertambah sejumlah 1.056 orang, kumulatif 68.975 dan kasus meninggal bertambah 43  sehingga ditotal menjadi  sejumlah 5.236. Hingga 2 Agustus 2020, dana hibah untuk penanganan Covid-19 mencapai Rp 160,082 miliar.

Disamping itu, tercatat telah disalurkan sebanyak 37.626.475 alat material kesehatan ke 34 provinsi terdampak dan relawan medis dan non medis sebanyak 42.897 telah disebar ke 26 provinsi yang terdampak. Bahkan Gubernur DKI Jakarta telah menyerukan kepada Ketua RT, RW, Kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), dan Kader Desa Wisma untuk melakukan identifikasi dan mendata warga yang berisiko tinggi di RT dan RW dengan menggunakan aplikasi yang telah disiapkan oleh Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi DKI Jakarta.

Banyak yang sudah dilakukan oleh pemerintah, tetapi bagaimana seharusnya menciptakan ruang partisipasi agar seluruh masyarakat terlibat juga dalam menangani pandemi Covid-19?

Solidaritas dan Gotong Royong sebagai Jiwa

Gotong royong adalah nilai yang hidup dalam sanubari bangsa Indonesia saat ini terutama terlihat dalam situasi pandemi Covid-19. Menurut hasil survei lembaga Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018 menempatkan bangsa Indonesia dalam urutan negara pertama sebagai bangsa yang paling dermawan di seluruh dunia. Dari survei tersebut, Indonesia berada diperingkat teratas dengan skor 59. Negara-negara maju berada di urutan selanjutnya, seperti Australia, Selandia Baru, Amerika, dan Irlandia. Hal itu membuktikan bahwa jiwa gotong royong , tolong menolong serta solidaritas sosial bangsa Indonesia adalah jiwa bangsa yang hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia.Dalam solidaritas masyarakat akan muncul tanpa harus diarahkan atau diperintah oleh pemerintah atau lembaga terstruktur lainnya.

Gotong royong paling dapat diamati bagi mereka yang tinggal di pedesaan yang berlaku secara turun temurun. Bintarto (1980) mengemukakan bahwa:Nilai itu dalam sistem budaya orang Indonesia mengandung empat (4) konsep, yaitu: (1) manusia itu tidak sendiri di dunia , tetapi dilingkungi oleh komunitasnya, masyarakatnya dan alam semesta sekitarnya. Di dalam sistem mekrokosmos ia merasakan dirinya hanya sebagai unsur kecil saja yang ikut terbawa oleh proses peredaran alam semesta yang maha besar itu.

(2) Dengan demkian, manusia pada hakikatnya tergantung dalam segala aspek kehidupannya kepada sesamanya, (3) karena itu, ia harus selalu berusaha untuk sedapat mungkin memelihara hubungan baik dengan sesamanya terdorong oleh jiwa sama rata sama rasa, dan (4) selalu berusaha untuk sedapat mungkin bersifat konform, berbuat sama dengan sesamanya dalam komuniti,terdorong oleh jiwa sama tinggi sama rendah.

Seperti yang dikemukakan oleh Bintarto (2014) menyebutkan gotong royong dalam bentuk tolong menolong ini masih menyimpan ciri khas gotong royong yang asli. Jenis gotong royong ini berupa tolong menolong yang terbatas di dalam lingkungan beberapa keluarga tetangga atau satu dukuh, misalnya dalam hal kematian, perkawinan, mendirikan rumah dan sebagainya dengan sifat sukarela dengan tiada campur tangan pamong desa. Gotong royong semacam ini terlihat sepanjang masa, bersifat statis karena merupakan suatu tradisi saja, merupakan suatu hal yang diterima secara turun temurun dari generasi pertama ke generasi berikutnya.

Kalau ditelusuri masyarakat kita sebenarnya telah secara swa atau mandiri melakukan gerakan untuk ikut serta dalam penanganan Covid-19. Ada gereakan trend donasi yang dilakukan secara crowd funding seperti melalui platform Kitabisa.com, berjejaring  misalnya rumah Zakat dengan Dompet Dhuafa, inisiatif beberapa philantropy , perusahaan bahkan secara  individual  dan bahkan dilakukan melalui ranah digital yang tujuannya membantu  dana donasi Covid-19. Sehingga bisa disimpulkan rakyat Indonesia punya kearifan di tengah bencana, yakni nilai solidaritas seta gotong royong.

RT, RW dan Desa dalam Gotong Royong

Dalam memperkuat  Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW) dalam penanganan wabah Covid-19 dapat dilakukan sebagai berikut. Pertama, kepemimpinan ditingkat RT dan RW agar imbauan protokol kesehatan beserta karantina.kesehatan  bisa direalisasikani terhadap semua orang tanpa terkecuali.Pemimpin RT dan RW harus dapat memastikan kelompok -kelompok rentan seperti orang lanjut usia yang hidup sendirian, orang dengan penyakit bawaan (penyakit jantung, kanker, paru-paru, diabetes, tekanan darah tinggi), kelompok masyarakat yang memiliki resiko tinggi bila terpapar Covid -19. Dalam kaitan ini, masyarakat mengawasi dan memastikan  siapa tetangga disebelah  kiri dan kanannya .Jika masyarakat menemukan orang dengan gejala Covid-19 di lingkungan RT RW sehingga harus segera lapor ke camat, lurah, RT dan.RW. Masyarakat pun secara bergantian dapat menyediakan makanan serta minum bagi warga berstatus orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), positif Covid- 19 serta isolasi mandiri.

Kedua, RT/RW aktif memastikan masyarakat di lingkungannya  agar tetap berada dalam rumah, kecuali untuk urusan yang mendesak. RT /RW aktif melakukan kekarantinaan dan pengawasan isolasi diri bagi warganya  sehingga warga yang sedang dikarantina tersebut  tidak menularkan ke warga sekitarnya.RT/ RW dapat dibantu oleh pemuda dan tokoh masyarakat, kader kesehatan dan petugas puskesmas .

Ketiga, RT/RW aktif membantu warga   kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan pokoknya sehari-hari sehingga tercipta  gerakan solidaritas kemanusiaan.yaitu warga yang mampu secara ekonomi  meringankan beban warga yang tidak mampu.

Beberapa kelurahan di Cimanggis Depok bahkan Kota Depok telah membentuk Kampung RW Siaga, setelah Pemerintah Kota (Pemkot)  Depok mengeluarkan Surat Edaran  (SE)Walikota Depok Nomor 443/166-Huk/DPKP yang isinya adalah instruksi  pembentukan Kampung Siaga Covid-19 pada  tingkat RW. Contoh aktivitas yang dilakukan adalah RW memasang spanduk yang  bertuliskan Kampung RW Siaga Covid-19, membuat pengumuman imbauan agar warga tetap berada dikediaman masing-masing,  bahkan warga kampung  membuat titik-titik tempat cuci tangan beserta sabun mulai dari gang sampai di jalan-jalan di wilayah mereka. Contoh RT /RW yang mendirikan dapur umum sejak 22 April 2020 untuk membantu warganya yang kurang mampu dan mendapatkan makanan dan minuman yang cukup yaitu RT 011/RW 014, di Kelurahan Rawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur.

Selain itu, beberapa contoh kampung yang melakukan gotong royong yaitu di kampung Tangguh Narubuk yang ada di Kelurahan Sukun Kecamatan Sukun, Kota Malang. Kampung ini menginisiasi warga kampungnya dengan gerakan tangguh bencana termasuk pandemi COVID-19.

Kampung tersebut memiliki beberapa inovasi yaitu mewujudkan kemandirian pangan dengan mendirikan lumbung pangan tingkat RW yang digerakkan oleh ibu-ibu PKK.Lumbung pangan  tersebut menerima bantuan sembako dari para donatur untuk didistribusikan kepada warga RW yang terdampak serta  menyediakan sembako mulai  dari beras, minyak goreng hingga gula.

Kemudian warga Desa Klagensrampat, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.Warga bergotong royong melakukan tugas yang  mewajibkan warga yang baru datang untuk cuci tangan di tempat yang sudah disediakan dan disemprot di dalam bilik disinfektan. Warga yang bisa menjahit membuat masker dari kain. Nantinya masker itu akan dibagikan ke warga secara gratis.Para pemuda terlihat sigap berjaga-jaga di pintu masuk desa seluas 1,71 kilometer persegi.

Sehingga modal ideologis dan sosiologis bangsa Indonesia dalam bentuk solidaritas dan gotong royong tersebut sangatlah besar untuk dikembangkan menjadi partisipasi sosial sebagai energi bangsa kita saat ini menghadapi pandemi COVID-19 beserta dampak sosial ekonomi yang ditimbulkannya.

Masalahnya sekarang adalah tinggal bagaimana Pemerintah Pusat dan Daerah serta stakeholder lainnya mampu menggerakkan modal sosial yang sudah dimiliki rakyat Indonesia itu menjadi kekuatan kolektif bangsa untuk bersama-sama dan bergotong royong , solidaritas dan bersatu mengatasi pandemi COVID-19 ini.

*Nukila Evanty, Direktur Eksekutif Amcolabora Institute dan member of Permanent Commission of WUSME (World Union Small and Medium Enterprises )yang berpusat di San Marino, Italia