Atasi Stunting, Gubernur Jatim Pastikan Kental Manis tidak Masuk di Bansos

Atasi Stunting, Gubernur Jatim Pastikan Kental Manis tidak Masuk di Bansos

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur

SHNet, Jakarta Guna mengatasi stunting di Jawa Timur, gubernur Hj Khofifah Indar Parawansa memastikan tidak ada kental manis dalam setiap bantuan sosial (bansos). Hal itu dikatakan Khofifah pada webinar nasional yang diselenggarakan  oleh YAICI-PP Muslimat NU dengan tema Mencetak Ibu Milenial Pembangun Generasi Emas 2045 di Era Pandemi Covid -19, Selasa (11/8).

Dalam kesempatan itu, Khofifah juga mengakui masih tingginya angka stunting di Jawa Timur. “Karena itu, selama masa pandemi ini, yang saya pesankan didalam bantuan sosial adalah telur,” jelas Khofifah. Ia memastikan didalam bantuan sosial tidak ada produk-produk yang tidak mendukung kebutuhan gizi anak seperti kental manis.

Perlu diketahui, generasi milenial sebagai generasi yang lahir di antara tahun 1995 – 2010. Mengingat saat ini generasi ini tengah berada pada usia produktif serta berperan sebagai orang tua, sehingga melahirkan istilah ibu milenial. Ibu milenial diyakini memiliki gaya pengasuhan anak yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Sesuai dengan karakteristiknya yang melek teknologi dan aktif mencari informasi. Kalangan ibu milenial ini juga cenderung tidak ingin terpengaruh oleh gaya pengasuhan generasi sebelumnya. Namun, kelebihan ini ternyata tidak lantas menyelesaikan permasalahan stunting di Indonesia yang masih berada pada angka 30,8%. Merujuk pada ambang batas yang ditetapkan WHO (20%), maka Indonesia masih tergolong sebagai negara dengan prevalensi stunting yang tinggi.

Salah satu penyebabnya adalah, mudahnya terpengaruh iklan, promosi, ataupun gaya hidup yang cenderung instan dan praktis. Maka tidak heran bila akhirnya ibu milenial cenderung menjadi konsumtif, instan tanpa mempertimbangkan kebutuhan dasar anak.

Khofifah mengatakan, ibu milenial sangat berperan dalam menentukan masa depan bangsa, terutama saat Indonesia memasuki 1 abad kemerdekaan, pada tahun 2045 nanti. Pada masa itu, Indonesia diprediksi akan menjadi 7 kekuatan dunia. Namun, untuk mewujudkan hal itu, diperlukan peran ibu milenial untuk menyiapkan anak-anak agar tumbuh dengan kuat.

“Karakteristik ibu milenial itu melek teknologi dan memiliki pola asuh sesuai zamannya,” ujar Khofifah Indar Parawansa, yang juga menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur ini. Namun, persoalannya adalah minat baca masih rendah, yang tentu saja akan berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.

Meski sejak 2018 yang lalu BPOM telah melarang penggunaan kental manis untuk anak dan juga mengatur tentang label dan promosinya melalui PerBPOM NO 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan, namun masih banyak masyarakat yang mengaku tidak terinformasi mengenai hal ini. Maka tidak heran masih ditemukan balita-balita dengan gizi buruk yang juga mengkonsumsi kental manis.

Karena itu, PP Muslimat NU sebagai organisasi perempuan memiliki kewajiban untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat melalui edukasi gizi.

“Karena kurangnya pengetahuan dan tingkat ekonomi menjadi alasan anak-anak diberikan kental manis. Seperti kejadian yang kami temukan saat turun ke masyarakat, anak dari umur 2 bulan dikasih susu kental manis dan jadi ketergantungan. Kalau nggak dikasih marah dan ngamuk-ngamuk,” papar dr. Hj Erna Soefihara – Ketua VII PP Muslimat NU.

Lebih lanjut, Erna mengakui dimasa pandemi ini, edukasi gizi utnuk masyarakat jelas terganggu. Sebab sebagian besar edukasi dan sosialisasi harus dilaksanakan secara online atau virtual. Sementara tidak semua masyarakat memiliki kemudahan akses terhadap perangkat teknologi. Karena itu, ia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah dan juga pihak-pihak terkait terutama produsen, untuk dapat berperan memberikan edukasi gizi dan informasi produk yang tepat kepada masyarakat luas. (Kurnia Sari)