Generasi Milenial Perlu Pahami Literasi Digital

Generasi Milenial Perlu Pahami Literasi Digital

Kepala Perpustakaan Nasional Muhammad Syarif Bando dalam Diklat Pemberdayaan Pemuda Bidang Digital Pemuda, di Jakarta, Rabu (29/7). (Ist)

SHNet, Jakarta– Paradigma perpustakaan saat ini tidak lagi bicara tentang deretan buku-buku yang ada di rak, tetapi perpustakaan sudah bergeser menyesuaikan dari waktu ke waktu. Di abad ke-18, perpustakaan bicara tentang management collection, abad ke-19 Perpustakaan bicara tentang management knowledge, sedangkan di abad ke-20 ini seiring dengan canggihnya teknologi maka kita bicara tentang transfer knowledge.

Demikian disampaikan, Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando dalam Diklat Pemberdayaan Pemuda Bidang Digital Pemuda, dengan tema Memperkaya Literasi Digital Sebagai Bekal Pemuda Dalam Berkarya dan Berprestasi, Rabu (29/7).

“Oleh karena itu tantangan untuk Perpustakaan Nasional dan perpustakaan lain di Indonesia saat ini adalah bersaing dengan google atau amazon atau apa saja, untuk bisa sampai kepada masyarakat. Sehingga saat ini kuncinya saat ini perpustakaan menjangkau masyarakat dan semua dalam bentuk digital,” terangnya.

Namun, hal tersebut juga belum cukup mengingat saat ini kita berada pada ledakan informasi. Dan ini pentingnya belajar tentang ilmu perpustakaan untuk memilah dan memilih informasi, informasi mana yang bisa dikembangkan dan dijelajahi terus menerus dengan informasi yang tidak dibutuhkan oleh masyarakat.

Lebih lanjut, Syarif menjelaskan, bicara tentang literasi digital untuk menerima manfaat, yakni bagaimana semua elemen bangsa seperti Kemenpora, Perpustakaan Nasional dan kementerian-kementerian lainnya memperbanyak konten positif yang menjadi tutorial bagi anak muda yang bisa diakses melalui fasilitas gawai.

“Seperti halnya Perpustakaan Nasional yang memiliki satu aplikasi yakni iPusnas, dimana setiap orang bisa berselancar dan kami siapkan ratusan bahkan jutaan buku yang bisa dibaca full text mulai dari buku hiburan, fiksi, novel, ilmu pengetahuan sampai kepada ilmu-ilmu terapan,” jelasnya.

Syarif mengingatkan, ke depan kita akan berhadapan pada persoalan kepemudaan yang tidak memiliki keterampilan untuk menciptakan lapangan kerja atau menjadi bagian dari industrialisasi.

“Penting saat ini dipahami bahwa modal utama generasi milenial dengan selalu belajar dan berusaha untuk memiliki kemampuan digital dan selalu meningkatkan indeks literasi untuk membekali diri dalam persiapan menyongsong masa depan dalam kompetisi global,” pungkasnya. (Stevani Elisabeth)