Gedung Kantor Rusak Parah, Anggota DPRD Maluku Merasa tak Nyaman

Gedung Kantor Rusak Parah, Anggota DPRD Maluku Merasa tak Nyaman

BANYAK - Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Anos Yeremias mengatakan kalau banyak dari anggota dewan yang belum punya ruangan. (Dok/SHNet)

SHNet, AMBON – Seluruh anggota DPRD Provinsi Maluku merasa tak nyaman untuk melakukan aktivitas. Pasalnya gedung kantor DPRD Provinsi Maluku mengalami kerusakan parah, dan hingga kini tak kunjung direnovasi.

Gedung tersebut cukup parah kerusakannya, dan hampir di semua lantai. Kerusakan yang paling parah ada di lantai III dan IV. Kerusakan ini terjadi lantaran bencana alam gempabumi yang mengguncang Maluku dan sekitarnya pada 26 September 2019. Kemudian diperparah dengan cuaca ekstrim yang mengakibatkan hujan dan merembes masuk kedalam gedung akhir-akhir ini.

“Selama ini kami (anggota DPRD) merasa tidak nyaman dalam bekerja. Bahkan, sampai hari ini ada anggota DPRD Provinsi Maluku yang belum memiliki ruangan untuk bekerja. Rata-rata anggota DPRD itu melakukan aktivitas kerjanya di ruang komisi. Sementara ruang komisi juga sudah kebanjiran,” tegas Ketua Komisi III DPRD Provinsi Maluku, Anos Yeremias kepada wartawan, di Gedung DPRD Provinsi Maluku, Jumat (17/7).

Untuk itu, kata dia, setelah dua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Perseroan Daerah Maluku Energi Abadi kembali dari luar daerah, maka pihaknya akan mengundang Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Maluku, untuk membicarakan masalah dimaksud.

“Jangankan ruang paripurna, ruang komisi III pun banjir. Oleh karena itu, setelah seluruh anggota selesai melaksanakan tugas dari luar daerah, maka kami akan mengundang mitra terkait, untuk membicarakan soal renovasi gedung ini. Kami berharap, renovasinya bias berjalan tahun ini,” harap Anos.

Dinas PUPR Provinsi Maluku telah menghitung estimasi anggaran yang akan digunakan untuk merenovasi pembangunan gedung DPRD Maluku. Total anggaran yang dibutuhkan untuk merehabilitasi kerusakan gedung DPRD ini setelah dihitung mencapai Rp 8,59 miliar. (Nonnie Rering)