Covid-19: Ancaman Kesetaran Gender

Covid-19: Ancaman Kesetaran Gender

Rafly Parenta Bano

Oleh: Rafly Parenta Bano

SHNet – Hingga per tanggal 1 Juli 2020, pandemik COVID-19 telah menewaskan lebih dari 500.000 orang di seluruh dunia dan telah menghasilkan krisis ekonomi global yang masif. IMF memproyeksikan ekonomi dunia berkontraksi tajam sebesar 3% pada tahun 2020 dan untuk pertama kalinya, menurut perkiraan Bank Dunia, tingkat kemiskinan akan meningkat sejak tahun 1998, dimana sekitar 40-60 juta orang di seluruh dunia akan terjun bebas ke dalam kemiskinan ekstrim. Namun, tidak seperti krisis ekonomi sebelumnya, krisis ini akan lebih banyak berdampak negatif pada perempuan daripada laki-laki, menciptakan pukulan telak yang signifikan pada permasalahan kesetaraan gender.

Ketidaksetaraan gender telah berkurang di hampir semua negara selama 30 tahun terakhir. Secara khusus di Indonesia, misalkan kesenjangan di pasar kerja, partisipasi kerja antara laki-laki dan perempuan telah menurun sekitar 9 persen sejak 1990, karena peningkatan besar dalam partisipasi angkatan kerja perempuan dan peningkatan tingkat pendidikan perempuan. Kesenjangan capaian pendidikan juga makin menyempit dan rasio kematian ibu juga telah menurun sekitar 35% di Indonesia.

Namun, kemajuan yang membahagiakan ini tampaknya akan mengalami degradasi yang besar selama pandemik COVID-19. Ada berbagai alasan mengapa pandemik saat ini secara tidak proporsional berdampak pada perempuan.

Pertama, perempuan cenderung bekerja di sektor pariwisata dan akomodasi perhotelan dan penyediaan makanan dan minuman (restoran) daripada laki-laki, dimana sektor-sektor tersebut membutuhkan interaksi tatap muka. Sektor-sektor tersebut paling terpukul selama pandemik karena adanya pembatasan sosial (social distancing). Menurut hasil Sakeras Februari 2020, BPS melaporkan bahwa tenaga kerja perempuan yang bekerja di sektor tersebut jumlahnya lebih dari 2 kali lipat dari tenaga kerja laki-laki. Menurut studi yang dilakukan oleh Ippei Shibata (ekonom IMF), dalam empat bulan terakhir ini lapangan pekerjaan di sektor-sektor tersebut telah berkurang sebesar 18%, dibandingkan dengan sektor lain yang berkurang sebesar 10%. Kekhawatiran yang bahkan lebih serius adalah bahwa tenaga kerja perempuan cenderung bekerja di sektor informal dan dengan tingkat upah yang lebih rendah dibandingkan laki-laki, sehingga lebih rentan secara ekonomi. Kedua, perempuan yang cenderung mengurus pekerjaan rumah tangga, mendapat tambahan beban terkait pandemi, yaitu penutupan sekolah dan risiko kesehatan dari anggota keluarga lansia. Ketidakpastian tentang kapan sekolah akan dibuka kembali dan kekhawatiran penularan dapat menyebabkan perempuan keluar dari angkatan kerja untuk waktu yang lama. Hal tersebut akan berpengaruh pada karir mereka dalam jangka panjang. Ketiga, pandemik COVID-19 dapat meningkatkan angka putus sekolah pada anak perempuan. Keluar dari sekolah menciptakan kerugian permanen dalam sumber daya manusia dan mempersempit peluang anak perempuan untuk meningkatkan standar kehidupan mereka.

Pemerintah sebagai pembuat kebijakan, selain berfokus memerangi dampak pandemik yang telah menghancurkan sendi-sendi kehidupan masyarakat dan berusaha untuk mempertahankan stabilitas ekonomi nasional, perlu juga untuk membuat kebijakan yang merencanakan masa depan. Bagaimana dapat kembali ke pertumbuhan ekonomi dan kesetaraan gender yang sustainable, sambil memerangi kemiskinan dan ketimpangan? Tentu merupakan tugas yang sangat berat. Untuk mencapainya memerlukan kebijakan yang tepat, yang responsif terhadap kesetaraan gender. Misalnya, menjaga partisipasi sekolah anak perempuan adalah kunci untuk membangun dan melindungi sumber daya manusia di masa mendatang.

Pandemik COVID-19 dapat menghambat sejumlah kebijakan yang dibuat untuk mengurangi kesenjangan gender dalam pendidikan, karena anak perempuan biasanya yang pertama putus sekolah jika keluarga membutuhkan bantuan tambahan di rumah. Sebaliknya laki-laki yang akan diprioritaskan oleh orang  tua untuk melanjutkan pendidikan. Sehingga laki-laki akan cenderung yang lebih berpendidikan dan lebih tangguh dan fleksibel di masa mendatang. Menutup celah ketidaksetaraan gender melalui investasi dalam pendidikan akan meningkatkan human capital perempuan, meningkatkan tingkat upah yang diharapkan perempuan dan memberi mereka lebih banyak kesempatan untuk mengejar cita-cita mereka. Secara agregat, ini juga akan berdampak positif bagi produktivitas di masa depan, sehingga pertumbuhan ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Misalkan investasi yang cukup besar di sektor pendidikan untuk menutup kesenjangan gender di Senegal dapat meningkatkan output hampir 9%, mengurangi kemiskinan lebih dari 10%, mengurangi tingkat ketimpangan hampir 3%.

Selain itu, untuk sejumlah lapangan pekerjaan, perlu adanya kebijakan penyediaan penitipan anak yang bersubsidi. Terkadang, biaya pelayanan childcare yang tinggi dan sebarannya yang tidak merata merupakan hambatan bagi banyak perempuan untuk berpartisipasi dalam angkatan kerja. Perempuan dari rumah tangga miskin biasanya menghadapi biaya pengasuhan anak yang lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan mereka. Mereka, karena untuk merawat anak mereka, berisiko lebih tinggi kehilangan pekerjaan karena pandemik ini. Adanya subsidi akan merangsang partisipasi angkatan kerja perempuan dan membuka lapangan pekerjaan baru (jasa pelayanan childcare).

Pandemi COVID-19 yang terjadi secara global ini, menghancurkan pekerjaan, meningkatkan kemiskinan, dan membahayakan pencapaian kesetaraan gender dalam beberapa dekade terakhir. Pemerintah perlu secara tepat berfokus pada menanggapi krisis, memerangi dampak pandemi yang menghancurkan sistem kesehatan yang berusaha menjaga ekonomi tetap hidup. Langkah selanjutnya adalah menemukan formula yang tepat untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi, memerangi kemiskinan, dan mendapatkan kembali pijakan untuk mempertahankan kesetaraan gender, yakni melalui kebijakan yang responsif terhadap kesetaraan gender.

Rafly Parenta Bano, Statistisi Muda Badan Pusat Statistik