BPOM dan Kemenperin Pastikan Keamanan Produk Air Kemasan Galon Guna Ulang

BPOM dan Kemenperin Pastikan Keamanan Produk Air Kemasan Galon Guna Ulang

Galon/Antara

SHNet, Jakarta – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menepis adanya anggapan bahwa kemasan galon isi ulang bisa mengganggu kesehatan seperti menyebabkan gangguan hormon dan kanker.  Karena, sebelumnya diijinkan beredar, BPOM memiliki serangkaian regulasi terkait keamanan pangan yang harus dipatuhi, dan itu menjadi acuan setiap produsen.

Kepala Badan POM RI, Penny K. Lukito, menegaskan, aspek perlindungan kepada masyarakat tetap menjadi fokus perhatian Badan POM. Apalagi dalam pengawasan pre-market, BPOM juga melibatkan beberapa pihak seperti Lembaga Sertifikasi Produk (LSPRO) sebagai penerbit sertifikat SNI (Standard Nasional Indonesia), UPT Badan POM sebagai penerbit sertifikat PSB (pemeriksaan sarana baru), Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) sebagai penerbit sertifikat halal, serta Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai penerbit sertifikat merek.

Setelah produk beredar, BPOM juga melakukan pengawasan post market yang terdiri dari pemeriksaan sarana produksi, pengawasan di peredaran yang meliputi pemeriksaan sarana distribusi/ritel, sampling dan pengujian, monitoring label dan iklan produk AMDK, serta kegiatan surveilans, termasuk penanganan kejadian luar biasa (KLB) atau keracunan akibat pangan.

“Keseluruhan siklus ini berkesinambungan, untuk memastikan bahwa semua produk makanan dan minuman termasuk AMDK yang beredar, aman untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat sekaligus memperkuat industri makanan,” ucap Penny.

Direktur Standardisasi Pangan Olahan BPOM, Sutanti Siti Namtini, menambahkan semua produk makanan dan minuman dari para produsen itu sudah melalui pemeriksaan secara laboratorium, pengujian dan penilaian mutu produk terapetik, narkotika, psikotropika zat adiktif, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, pangan dan bahan berbahaya.

Jadi, kata Sutanti, produk dengan kemasan apa pun, baik sekali pakai maupun guna ulang seperti air minum kemasan galon, dan sudah memiliki Nomor Izin Edar (NIE), sudah memenuhi semua syarat dalam regulasi dan aman untuk digunakan. “Karena nomor ini menandakan pemenuhan persyaratan pangan terhadap keamanan, mutu, dan gizi,” tuturnya.

Hal senada disampaikan Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Abdul Rochim. Menurutnya, produk AMDK yang berada di pasar dalam negeri sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 3553:2015, SNI 6241:2015, SNI 6242:2015 dan SNI 7812:2013. Apalagi penyusunan SNI untuk produk AMDK ini menggunakan beberapa referensi standar internasional dari Codex Alimentarius Committee dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Pengujian parameter SNI dilakukan oleh laboratorium yang telah ditunjuk. Kemudian telah mendapatkan akreditasi dari Komite Akreditasi Nasional (KAN) untuk metode pengujian dan peralatan pengujian yang digunakan,” ujarnya.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) yang juga Pakar Keamanan Pangan, Ahmad Sulaeman, bahkan menegaskan bahwa air kemasan galon guna ulang sudah terbukti aman dikonsumsi masyarakat. Terbukti galon ini sudah ada dan digunakan masyarakat, baik di rumah, sekolah-sekolah, dan tempat kerja selama puluhan tahun, dan belum ada yang mengalami penyakit kanker hingga kini. “Itu artinya, galon guna ulang ini sudah terbukti kualitasnya dalam melindungi produk air minum kemasan,” ujarnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, menyampaikan, industri yang tergabung dalam asosiasi selalu mengikuti aturan yang diterapkan pemerintah. Menurutnya, produk AMDK tidak akan mendapat izin edar dari Badan POM bila memiliki kandungan cemaran melebihi batas yang ditentukan. “Kami berharap masyarakat bijak terhadap isu-isu mengenai AMDK yang beredar di masyarakat,” ujarnya.

Karenanya, Kepala BPOM Penny pun mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh iklan/promosi, berita, artikel, maupun video di media sosial yang menyesatkan. Apalagi terprovokasi dan turut menyebarkan informasi yang menyesatkan.

“Jadilah konsumen yang cerdas. Laporkan ke Badan POM jika menemukan/melihat informasi yang menyesatkan atau meragukan. Mari bersama kita hentikan peredaran informasi menyesatkan,” katanya. (Kurnia Sari)