Covid-19  vs Fundamental Ekonomi

Covid-19  vs Fundamental Ekonomi

Infografis (sumber: bps)

Oleh: John Thomas Edward Matulessy

Di balik bencana puluhan bahkan ratusan ribu jiwa yang melayang di seluruh dunia akibat virus covid-19, namun ada satu hikmah yang dibawakan olehnya. Hikmahnya adalah covid-19 menyingkapkan kepada pemerintah setiap negara di dunia seberapa tangguh atau keropos perekonomian yang dimiliki oleh negara mereka masing-masing. Ujian terhadap ketangguhan ekonomi tiap negara mencakup 3 aspek fundamental, yaitu aspek keuangan, aspek ketersediaan pangan dan aspek produksi (basis industri).

Covid-19 menguji kondisi keuangan tiap negara dalam arti apakah negara itu mampu menanggung beban keuangan negara dalam keadaan dimana hampir seluruh bentuk kegiatan perekonomian harus dibatasi bahkan dihentikan sama sekali?

Menguji ketersediaan pangan dalam arti apakah negara itu mampu secara mandiri berdikari memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri tanpa harus mengandalkan impor bahan pangan dari negara lain?

Menguji basis industri dalam pengertian apakah perindustrian di negara tersebut tersebar secara merata di dalam wilayah negara tersebut? Artinya apabila suatu wilayah kaya dengan hasil laut, apakah industri kelautan mulai dari hulu ke hilir dikembangkan di wilayah tersebut ataukah tidak. Apabila tidak demikian maka akan terjadi penambahan waktu dan biaya produksi yang tentu saja membuat sistem ekonomi negara itu sangat tidak efisien.

Dalam bukunya “Wealth of Nations”, Adam Smith menuliskan bahwa tingkat kemakmuran suatu bangsa ditentukan oleh kapasitas produksinya. Bukan oleh tingkat konsumsinya. Dengan demikian indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak seharusnya memakai daya-beli masyarakat atau konsumsi rumah tangga.

Mengapa demikian? Karena apabila menggunakan daya-beli atau konsumsi masyarakat maka dalam situasi krisis seperti sekarang ini akan terlihatlah betapa semu dan menyesatkannya indikator tersebut. Kalaupun tetap memaksakan hendak memakai daya-beli masyarakat sebagai indikatornya maka baiklah. Apakah ada sistem ekonomi yang bisa menjamin hal tersebut?

Jawabannya adalah Ya. Ada. Yaitu sistem Dana Permanen Alaska (Alaska Permanent Fund). Dengan sistem ini, tidak kurang dari 25% pendapatan suatu wilayah harus dialokasikan sebagai dana abadi bagi wilayah tersebut. Dana tersebut kemudian diinvestasikan kembali di berbagai sektor industri yang produktif dan menguntungkan sehingga terus menerus mengalami pertumbuhan.

Sebagian dari keuntungan ditambahkan kepada dana awal untuk diinvestasikan kembali. Sebagian dialokasikan untuk dana bila terjadi krisis dan sebagian lagi disalurkan langsung ke rekening setiap penduduk yang ada di wilayah tersebut setiap bulannya. Dengan demikian setiap penduduk di wilayah tersebut memiliki daya beli yang tangguh melalui pendapatan pasif (passive income) yang diperoleh tiap bulannya dari dana permanen yang mereka miliki ditambah penghasilan dari profesi atau pekerjaan mereka kesehariannya.

Dan apabila krisis terjadi, akan tidak berpengaruh sangat besar mengingat pendapatan pasif mereka akan mampu menopang daya beli bersama.

Perut yang lapar membuat seorang pahlawan yang gagah perkasa sekalipun bertekuk lutut dihadapan musuhnya. Menggantungkan hidup dari pemberian makanan dari orang lain adalah pengemis hina dan budak sahaya. Ini adalah pepatah-pepatah lama yang mengajarkan kepada kita bahwa kita harus mampu menyediakan pangan untuk diri kita sendiri.

Karena apabila kita bergantung kepada orang lain untuk memberi kita makan maka cepat atau lambat kita akan menjadi pengemis atau lebih celaka lagi menjadi budak bagi bangsa lain. Apalah artinya tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang diukur berdasarkan tingkat konsumsi rumah tangga kalau produk-produk yang dikonsumsi tersebut adalah produk-produk yang diimpor dari luar negeri?

Seorang pahlawan harus mampu mengenyangkan perutnya dahulu sebelum ia mampu menghadapi siapapun lawan yang menghadang. Untuk menjamin ketersediaan pangan maka para petani “harus disejahterakan”. Bagaimana caranya? Dengan pemberian subsidi dimana para petani memperoleh pendapatan dari produknya sesuai dengan harga jual dari produknya tersebut di pasar.

Artinya, kalau misalnya petani beras menjual berasnya seharga Rp.4000/kg kepada distributor sementara harga pasar adalah Rp.10.000/kg maka pemerintah memberikan subsidi Rp.6000 (selisih harga jual petani dan harga pasar) kepada petani untuk setiap kilogramnya. Inilah yang dilakukan oleh negara-negara maju seperti AS dan Jepang untuk mempertahankan kesinambungan pasokan pangan dalam negeri. Mengapa? Tanpa para petani yang sejahtera maka jangan bermimpi untuk bisa mencapai ketahanan pangan apalagi kedaulatan pangan.

Sistem produksi yang tepat menentukan bukan hanya tingkat kesejahteraan suatu bangsa tapi juga daya saingnya serta ketangguhan dalam situasi krisis. Sistem produksi yang tepat yang dimaksud adalah basis industri dari hulu ke hilir haruslah dibangun di suatu wilayah berdasarkan keunggulan dari wilayah tersebut. Apabila wilayah A sangat kaya dengan hasil minyak, maka baik pengeboran minyak, penyulingan minyak hingga kepada produk akhir harus dilakukan di wilayah A tersebut.

Mengapa? Karena ini selain mempercepat waktu proses produksi dari hulu hingga ke hilir juga memotong begitu banyak biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut minyak mentah ke tempat lain untuk kemudian di olah, kemudian memakan biaya lagi untuk mendistribusikannya ke seluruh wilayah lainnya.

Suatu wilayah yang unggul dalam hal produksi beras misalnya jangan pula dialihfungsikan untuk hal yang lain sementara produksi beras dialihkan ke wilayah lain yang tidak memilik keunggulan tersebut. Ini sama halnya dengan menantang kodrat. Dan dari perspektif ekonomi adalah praktik yang memakan biaya sangat tinggi.

 

Penulis, John Edward Matulessy, BA, SIP, MA  adalah  lulusa dari Monterey Institute of International Study telah berganti nama menjadi Middlebury Institute of International Study, Monterey, California. Sekarang dosen Ekonomi-Politik di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.