IGI: Ketimbang Potong Anggaran, Mending untuk Peningkatan Kompetensi Guru

IGI: Ketimbang Potong Anggaran, Mending untuk Peningkatan Kompetensi Guru

Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia Muhammad Ramli Rahim. {SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Ikatan Guru Indonesia (IGI) memprotes langkah pemerintah memotong tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun lewat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020. Ketua Umum IGI Muhammad Ramli Rahim menyampaikan hal ini dalam keterangannya kepada media, Minggu (19/4).

“Setelah melihat secara utuh, IGI memprotes langkah pemerintah yang memotong tunjangan guru hingga Rp3,3 triliun lewat Perpres No 54 Tahun 2020 tentang Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020,” kata Ramli.

Baca juga:
IGI Meminta “Pasal Titipan” pada Permendikbud Diawasi
IGI Berterima Kasih Atas Revisi Dana BOS
IGI: Jangan Cabut Jalinan Pembelajaran Siswa dan Guru karena Corona!

Ia menjelaskan, dalam lampiran Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020, tunjangan guru setidaknya dipotong pada tiga komponen, yakni tunjangan profesi guru pegawai negeri sipil (PNS) daerah. Pemotongan itu dari yang semula Rp53,8 triliun menjadi Rp50,8 triliun.

“Kemudian, penghasilan guru PNS daerah dipotong dari semula Rp698,3 triliun menjadi Rp454,2 triliun,” ujar Ramli.

Terakhir, pemotongan dilakukan terhadap tunjangan khusus guru PNS daerah di daerah khusus, dari semula Rp 2,06 triliun menjadi Rp1,98 triliun.

Merugikan Sejumlah Pihak
Ia berpendapat, Perpres Perubahan Postur dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2020 merugikan sejumlah pihak, yang justru sebetulnya membutuhkan dukungan lebih dari pemerintah di tengah situasi penyebaran virus corona (Covid-19).

Ia mencontohkan, pemotongan anggaran di sektor pendidikan juga dilakukan pemerintah terhadap dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD, Bantuan Operasional Pendidikan Kesetaraan, serta Bantuan Operasional Museum dan Taman Budaya.

Baca juga:
IGI: Guru Anggota Siap Hadapi Kondisi Belajar di Rumah
IGI: Harus Dipastikan RS yang Jadi Rujukan Sekolah
IGI: Ini Dia, Hal Negatif dari Konsep Merdeka Belajar

Dana BOS dipotong dari yang semula Rp54,3 triliun menjadi Rp53,4 triliun, BOP PAUD dipotong dari Rp4,475 triliun menjadi Rp4,014 triliun, lalu Bantuan Operasional Pendidikan Kesetaraan dipotong dari Rp1,477 triliun menjadi Rp1,195 triliun.

Di sisi lain, anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang lebih dari Rp70,7 triliun tidak banyak berubah.

Kemendikbud Agar Miliki Empati pada Guru
“Oleh karena itu, kami berharap Kemendikbud memiliki rasa empati yang tinggi terhadap guru-guru kita yang mengalami dampak dari pandemi Covid-19 ini, jangan sampai ada yang berkurang pendapatannya,” imbau Ramli.

Menurutnya, justru guru-guru yang harus dijaga pendapatannya karena tidak jarang kita menemui guru yang membantu anak didiknya yang tidak mampu, apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini.

“Bahkan, kami menemukan guru-guru yang dengan penuh kerelaan membeli kuota data atau pulsa untuk anak didik mereka, meskipun sekarang Permendikbud membolehkan Dana BOS untuk membeli kuota data, baik untuk guru maupun siswa. Namun, rasa empati guru terhadap anak didiknya tidak akan hilang begitu saja. Apalagi, jika melihat keluarga anak didiknya dalam kesulitan,” kata Ramli.

Menurutnya, IGI cenderung sepakat apabila anggaran-anggaran tak bermanfaat dan tak mengubah keadaan yang ada di Kemendikbud yang dialihkan untuk Covid-19.

Anggaran “Tak Bermanfaat” Saja yang Dialihkan
“Kami lebih cenderung agar anggaran-anggaran tak bermanfaat dan tak mengubah keadaan yang ada di Kemendikbud, itu yang dialihkan untuk Corona,” ujar Ramli.

Menurutnya, anggaran peningkatan kompetensi guru di Direktorat Jenderal Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud tak banyak bermanfaat.

Baca juga:
IGI Dukung Seluruh Sekolah Bertahap “Bebas Guru Honorer”
IGI: Dana Bos “Merdeka Belajar” Lahirkan Masalah Baru
IGI: Jika Ingin Cepat Ubah Indonesia, Mendikbud Harus Buat Revolusi Pendidikan

“Seperti anggaran Organisasi Penggerak yang lebih dari setengah triliun dan anggaran lain terkait peningkatan kompetensi guru oleh Kemendikbud, dialihkan saja untuk Corona,” ujar Ramli.

“Mengapa tak bermanfaat? Karena puluhan tahun Kemendikbud menghabiskan dana triliunan untuk peningkatan kompetensi guru, tapi kompetensi guru tak beranjak membaik,” ujarnya menjelaskan.

“Dan kami pun sepenuhnya yakin, Organisasi Penggerak tak akan mengubah banyak hal terkait kompetensi guru,” lanjut Ramli. (whm/sp)