Putar-putar Monas Mendamaikan Konflik Buton

Putar-putar Monas Mendamaikan Konflik Buton

Kasubdit Pemulihan dan Reintegrasi Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, Johni Pasonda. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta – Apa jadinya jika dua orang yang sedang berkonflik tinggal di dalam satu kamar? Diam-diaman, jotos-jotosan atau baku pukul?

Ternyata tidak semuanya terjadi. Inilah yang dialami dua kepala desa di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, yang berseteru akibat tawuran warganya pada 5 Juni 2019. Mereka adalah Kepala Desa Gunung Jaya dan Desa Sampoabalo.

Kasubdit Pemulihan dan Reintegrasi Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial  (PSKBS) Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Johni Pasonda punya pengalaman menarik saat mendamaikan dua kepala desa itu.

Dia mengatakan, dalam rangka menerima bantuan dari Menteri Sosial di Jakarta, dua kepala desa itu diinapkan dalam satu kamar. “Awalnya mereka kikuk karena mereka kan sedang konflik,” katanya.

Tapi begitu sudah sekamar, kata Johni, benih-benih keakraban justru muncul. Mereka kemudian saling sapa dan saling bercerita. Keesokan harinya, mereka yang berkonflik diajak keliling Monas dan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Di Monas mereka diajak melihat diorama para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka diajak mengenang jasa pahlawan merebut kemerdekaan Indonesia.

Di TMII mereka diajak berkeliling paviliun yang mempertontonkan keanekaragaman suku, agama, dan ras. “Dengan begitu mereka sadar bahwa mereka satu Tanah Air, mengenang bagaimana susahnya para pahlawan memerdekaan bangsa dan negara,” ujarnya.

Usai peristiwa itu, kata Johni, mereka tidak ingin konflik terjadi lagi. “Mereka bilang, kita di sana bunuh-bunuhan, perang-perangan, di sini kita satu kamar,” ujarnya.

Penyebab Bentrokan

Bentrokan antara pemuda Desa Gunung Jaya dan Desa Sampoabalo itu mengakibatkan 87 rumah di Desa Gunung Jaya terbakar. Dua orang meninggal dalam peristiwa itu, sedangkan korban luka delapan orang.

Berdasarkan keterangan polisi, bentrokan dua desa dipicu adanya konvoi sepeda motor saat malam takbiran yang dilakukan oleh pemuda dari Desa Sampoabalo. Saat melintas di Desa Gunung Jaya, mereka ditegur warga setempat, tapi tidak terima.

 

Setelah itu, warga dari Desa Sampoabalo yang melintas di Desa Gunung Jaya terkena anak panah. Keesokan harinya, ratusan warga dari Desa Sampoabalo menyerang dan membakar total 87 rumah di Desa Gunung Jaya.

Polisi menetapkan 38 tersangka atas kejadian bentrokan itu. Para pelaku mempunyai peran yang berbeda-beda. (Ina)