Kemensos Kerja Sama Dengan Kemenkes Pulihkan Korban Bencana Sosial

Kemensos Kerja Sama Dengan Kemenkes Pulihkan Korban Bencana Sosial

Kasubdit Pemulihan dan Reintegrasi Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial, Johni Pasonda. (SHNet/stevani elisabeth)

SHNet, Jakarta –  Kementerian Sosial melalui Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) tidak hanya menyalurkan bantuan dana dan barang bagi warga korban bencana sosial, tapi juga melakukan pendampingan. Di antaranya mengirimkan tim psikolog untuk memulihkan dari trauma.

“Korban bencana sosial sering mengalami trauma, di mana perilaku sosial mereka terganggu. Karena itu, mereka perlu dilakukan pendampingan termasuk dari tim psikolog,” kata Kasubdit Pemulihan dan Reintegrasi Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kementerian Sosial Johni Pasonda di Jakarta, kemarin.

Johni menjelaskan ada beberapa tahap dalam upaya pendampingan bagi warga korban bencana sosial baik itu korban kebakaran yang kehilangan harta benda maupun konflik sosial.

Penanganan trauma korban bencana sosial akibat kebakaran umumnya tidak sekompleks korban konflik.  Korban konflik sosial biasanya memerlukan waktu yang lebih lama untuk dipulihkan dari rasa trauma dan ketakutan.

Terhadap warga yang menjadi korban bencana sosial, tahap pertama yang dilakukan tim dari Direktorat PSKBS adalah melakukan observasi untuk mengumpulkan data-data awal. Setelah itu, tim melakukan wawancara terkait kronologis dan tahapan kejadian yang membuat korban menjadi trauma.

“Jika hasil dari pendampingan itu, tim menyimpulkan korban mengalami trauma yang parah dan perlu tindak lanjut, tim akan membuat rekomendasi agar korban ditangani Kementerian Kesehatan,” ujar Johni.

Ia menambahkan, dalam menghadapi warga korban bencana sosial terutama konflik, tim yang diturunkan dari Direktorat PSKBS harus lah profesional dan tidak boleh memihak. Tim tidak bisa berpihak kepada salah satu kelompok yang berkonflik.

“Tim harus profesional, jangan cari mana yang benar dan yang salah,” ujarnya.

Pendampingan paska- kejadian umumnya dilakukan secara tatap muka langsung. “Kita tahu persis dan aman betul atau tidak. Sebab kalau tidak aman ketika dipulangkan mereka bikin konflik lagi, ” katanya. (Victor)