Kemensos Berkoordinasi Dengan Kepala Daerah Tangani Korban Bencana Sosial

Kemensos Berkoordinasi Dengan Kepala Daerah Tangani Korban Bencana Sosial

Taruna Siaga Bencana (Tagana) ujung tombak saat terjadi bencana. (Ditjen Perlindungan dan Jaminan Sosial - Kementerian Sosial RI)

SHNet, Jakarta –  Kementerian Sosial (Kemensos) selalu berkoordinasi dengan gubernur, bupati dan wali kota dalam mengatasi dan membantu warga yang tertimpa musibah bencana sosial baik berupa kebakaran maupun konflik sosial.

Kepala Sub Direktorat Penanganan Korban Bencana Sosial Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Wiwik menjamin Kemensos selalu berkoordinasi dengan kepala daerah.

“Setiap ada bencana sosial, Kemensos berkoordinasi dengan gubernur, bupati dan wali kota. Hal ini sebagai bentuk dan wujud kehadiran pemerintah untuk mengurus rakyatnya,” ujarnya.

Wiwik menjelaskan, dalam setiap bencana sosial yang terjadi, Kemensos akan melakukan pengkajian secara cepat dan melakukan assesment kejadian bencana. Dalam penyaluran bantuan, Kemensos tidak bisa melakukannya secara langsung, tapi harus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi.

“Gudang kita di dinas provinsi. Kalau barang habis mereka bisa bersurat ke kita,” ujarnya.

Dengan demikian tidak ada bufferstock untuk korban bencana sosial. Penyediaan barang melalui bufferstock terakhir dilakukan pada 2016.

“Setiap kejadian bencana sosial yang digunakan adalah logistik bencana alam,” ujarnya.

Untuk memperoleh bantuan dari Kemensos, kondisi atau keadaan harus dinyatakan darurat oleh  bupati. Salah satu indikatornya, bencana sosial itu bersifat massif dengan jumlah pengungsi di atas 100 jiwa.

“Kalau kebakaran satu atau dua rumah kita tidak turunkan bantuan. Info kejadian bencana sosial itu  juga harus  ter-blow up,” ujarnya.

Wiwik menjamin semua pengungsi mendapatkan bantuan secara merata dan sama. Termasuk bantuan kepada anak-anak berupa seragam sekolah anak, alat permainan anak, dan alat tulis.

Karena kalau mereka tidak diberikan suatu aktivitas lainnya yang mendukung psikososialnya maka mereka akan main tidak terpantau. Takutnya kemana mana. Kita kasih mainan supaya tidak stres dan trauma,” ujarnya.

Selain anak-anak, para orang tua atau lansia yang ada di pengungsian juga mendapat bantuan khusus. Keperluan lansia tersebut antara lain, kaos lengan panjang, handuk, kaos kaki, sabun dan perlengkapan mandi.

“Sebab kebutuhan antara anak-anak muda ataupun yang dewasa berbeda dengan para lansia ini. Mereka butuh lengan panjang dan kaos kaki supaya tidak mudah kedinginan,” katanya.

Wiwik menjelaskan, sepanjang tahun 2018 setidaknya ada 2000 kejadian dan 2.000.000 pengungsi. Kejadian dan pengungsian paling banyak ada di Kepulauan Riau (Kepri). Mereka umumnya terkena bencana kebakaran.

“Kebakaran pemukiman paling banyak di Kalimantan Selatan terjadi setiap hari. Jakarta juga banyak tetapi yang terlapor tidak banyak,” ujarnya.  (Victor)