Kemensos Beri Bantuan Peralatan Main Anak-anak Korban Bencana Sosial

Kemensos Beri Bantuan Peralatan Main Anak-anak Korban Bencana Sosial

Kemensos berikan bantuan bagi anak-anak korban bencana sosial (Ist)

SHNet, Jakarta –  Bencana sosial selalu menimbulkan gelombang pengungsian. Bencana sosial bisa terjadi karena kebakaran dan konflik sosial.

Mereka yang mengungsi umumnya dari berbagai kalangan, kaya ataupun miskin, anak-anak, muda, ataupun tua. Saat di pengungsian, para pengungsi membutuhkan berbagai bantuan peralatan.

Menurut Kepala Sub Direktorat Penanganan Korban Bencana Sosial Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Wiwik, semua pengungsi mendapatkan bantuan secara merata dan sama.

Namun, ada bantuan yang khusus diberikan kepada anak-anak. Bantuan khusus tersebut berupa seragam sekolah anak, alat permainan anak, dan alat tulis.

Di pengungsian jumlah anak-anak yang mengungsi sangat banyak. “Karena kalau mereka tidak diberikan suatu aktivitas lainnya yang mendukung psikososialnya maka mereka akan main tidak terpantau. Takutnya kemana mana. Kita kasih mainan supaya tidak stres dan trauma,” ujarnya.

Selain anak-anak, para orang tua atau lansia yang ada di pengungsian juga mendapat bantuan khusus. Keperluan lansia tersebut antara lain, kaos lengan panjang, handuk, kaos kaki, sabun dan perlengkapan mandi.

“Sebab kebutuhan antara anak-anak muda ataupun yang dewasa berbeda dengan para lansia ini. Mereka butuh lengan panjang dan kaos kaki supaya tidak mudah kedinginan,” katanya.

Wiwik menjelaskan, sepanjang tahun 2018 setidaknya ada 2000 kejadian dan 2.000.000 pengungsi. Kejadian dan pengungsian paling banyak ada di Kepulauan Riau (Kepri). Mereka umumnya terkena bencana kebakaran.

“Kebakaran pemukiman paling banyak di Kalimantan Selatan terjadi setiap hari. Jakarta juga banyak tetapi yang terlapor tidak banyak,” ujarnya.

Bersifat Masif

Bantuan diberikan kepada korban kebakaran dan konflik yang masif. Dalam memberikan bantuan tersebut, Kemensos punya prosedur khusus yang terkait kewenangan daerah dan pusat. “Tetapi biasanya ter-blow up media,” ujarnya.

Wiwik menjelaskan, dalam setiap bencana sosial yang terjadi, Kemensos akan melakukan pengkajian secara cepat, melihat assesment kejadian bencana. Kemensos juga tidak bisa mengerahkan bantuan secara langsung, melainkan harus berkoordinasi dengan provinsi untuk melaksanakannya.

“Gudang kita di dinas provinsi. Kalau barang habis mereka bisa bersurat ke kita,” ujarnya. Dengan demikian tidak ada bufferstock untuk korban bencana sosial. Penyediaan barang melalui bufferstock terakhir dilakukan pada 2016.

“Sehingga setiap kejadian bencana sosial yang digunakan adalah logistik bencana alam,” ujarnya.

Bagaimana korban suatu peristiwa bisa mendapat bantuan tersebut? Wiwik menjelaskan, keadaan tersebut harus dinyatakan darurat oleh bupati. Peristiwa tersebut harus bersifat masif. Jumlah pengungsi harus di atas 100 jiwa.

“Kalau kebakaran satu atau dua rumah kita tidak turunkan bantuan. Infonya juga ter-blow up,” ujarnya. Tetapi menurut Wiwik, yang utama adalah pemerintah hadir untuk mengurus rakyatnya.  (Ina)