Direktorat PSKBS Kemensos Berikan Bantuan Rp 50 Juta untuk Program Kearifan Lokal

Direktorat PSKBS Kemensos Berikan Bantuan Rp 50 Juta untuk Program Kearifan Lokal

SHNet, Jakarta –  Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kementerian Sosial memberikan bantuan kepada komunitas masyarakat untuk melestarikan gotong-royong dalam bentuk upaya membangkitkan kearifan lokal. Bantuan tersebut diberikan supaya semangat gotong-royong di masyarakat tetap terjaga.

Kasubdit Pencegahan, Keserasian Sosial dan Kearifan Lokal Direktorat Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Kemensos Helmi DT.R Mulya mengatakan, komunitas masyarakat yang melakukan program pelestarian kearifan lokal mendapatkan bantuan Rp 50 juta. Dari jumlah tersebut, Rp 8 juta digunakan untuk biaya operasional pelaksanaan acara.

“Ini seperti membangkitkan batang yang terendam,” ujarnya.

Setelah mendapatkan bantuan mereka wajib mementaskan karya seni yang sesuai dengan proposal yang diajukan. Bantuan yang diberikan itu tidak kena pajak.

Untuk mendapatkan bantuan ini, mereka harus mengajukan proposal yang diketahui oleh dinas sosial kabupaten dan provinsi. Komunitas yang mendapatkan program ini kebanyakan berada di luar Jawa, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Barat (Sumbar), dan Jawa Timur (Jatim).

“Kita juga kerja sama dengan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme). Mereka petakan tempat-tempat tertentu yang rawan,” katanya.

Menurut Helmi, pada tahun 2018, Direktorat PSKBS Kemensos telah memberikan bantuan kepada 200 komunitas untuk program kearifan lokal.

Upaya pemberian bantuan ini dilakukan terus menerus sebagai perwujudan amanat yang diberikan Undang Undang No 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial. Bahkan upaya ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.

Ia menambahkan, semangat menjaga kearifan lokal dan gotong-royong harus terus dipelihara karena kondisi objektif yang ada saat ini memiliki kerawanan sosial yang berujung pada konflik sosial.

“Sekarang ini timbul banyak konflik di masyarakat. Ini akibat nilai-nilai kebijaksanaan lokal (local wisdom) yang ternyata mulai tergerus. Budaya yang dulu perekat tergerus, pudar, dan dilupakan,” ujarnya.

Kondisi ini, menurut Helmi, sangat merugikan karena bentuk pranata adat dan kearifan lokal tidak lagi menjadi rujukan media perdamaian. “Penyebabnya kemajuan teknologi 4.0 berpengaruh besar pada hubungan personal di dalam masyarakat kita. Membuat kohesivitas, toleransi, dan gotong royong ditinggalkan,” katanya.

Salah satu cara membangkitkan kearifan lokal adalah membentuk penguatan kearifan lokal yang sepenuhnya dilakukan masyarakat. “Bentuknya bisa berupa alat seni dan upacara adat,” ujarnya. (Ina)