Tiga Tersangka, Enam Saksi Kasus Penganiayaan Audrey

Tiga Tersangka, Enam Saksi Kasus Penganiayaan Audrey

SHNet, Jakarta – Polresta Pontianak, Kalimantan Barat kini telah menetapkan tiga siswi SMA berinisial FZ, TP dan NN sebagai tersangka kasus penganiayaan terhadap Audrey (14), seorang pelajar SMP di Kota Pontianak.

“Dari hasil pemeriksaan, akhirnya kami menetapkan tiga orang sebagai tersangka, sementara lainnya sebagai saksi,” kata Kapolresta Pontianak, Kombes Muhammad Anwar Nasir di Pontianak, seperti dikutip dari Antara.

Penanganan khusus diberikan lantaran korban dan pelaku masih berada di bawah umur.”Bantuan untuk korban dan tersangka yang di bawah umur harus ada pendampingan, terhadap anak-anak yang memiliki permasalahan di bidang hukum itu diperlakukan khusus perlakuannya,” tutur Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (10/4).

Pendampingan akan dilakukan oleh psikolog dari Biro SDM Polda Kalbar, KPAI, hingga psikiater.

Dedi menjelaskan kasus Audrey sudah ditingkatkan ke tahap penyidikan. Tiga pelaku dalam kasus tersebut, kata Dedi, telah diidentifikasi oleh penyidik Polresta Pontianak.

Ketiga pelaku masing-masing berinisial F, P, dan N dan berusia 17 tahun.

Dedi menuturkan para pelaku merupakan teman satu sekolah. Ia menyampaikan kemungkinan para pelaku ini melakukan aksi penganiayaan karena mendengar ada temannya yang tengah berselisih dengan korban.

“Secara spontan teman-temannya ini membantu untuk melakukan penganiayaan terhadap korban A,” ucap Dedi.

Dari hasil pemeriksaan sementara, para pelaku menggunakan tangan kosong saat menganiaya Audrey.

Lebih lanjut, disampaikan Dedi bahwa penyidik telah meminta keterangan dari ibu korban. Rencananya, hari ini penyidik juga kembali memeriksa ibu korban serta sejumlah saksi yang melihat langsung peristiwa tersebut.

Untuk korban sendiri, kata Dedi, sampai saat ini belum bisa dimintai keterangan.

Audrey dikeroyok oleh tiga siswi SMA yang dibantu oleh sembilan siswi lainnya dari berbagai sekolah di Pontianak karena masalah saling komentar di media sosial pada 29 Maret lalu. Akibatnya, Audrey mendapat perawatan medis di rumah sakit.

Orang tua korban baru melaporkan kejadian ke pihak berwenang satu pekan kemudian atau pada Jumat, 5 April lalu.

Kasus Audrey sempat viral di media sosial, bahkan jadi salah satu topik terpopuler di twitter pada Selasa (9/4) dengan tagar #JusticeForAudrey.

Seorang warganet juga membuat petisi di laman change.org dengan judul ‘KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey!’.

Ketua Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Eka Nurhayati Ishak mengatakan berdasarkan aduan dari korban yang didampingi langsung oleh ibunya, korban mengalami kekerasan fisik dan psikis, seperti ditendang, dipukul, diseret sampai kepalanya dibenturkan ke aspal.

“Dari pengakuan korban, pelaku utama penganiayaan ada tiga orang, sedangkan sembilan orang lainnya hanya sebagai penonton,” kata Nurhayati seperti dilansir Antara.

Penetapan tersebut, kata Anwar, berdasarkan hasil pemeriksaan polisi. Ketiga pelaku mengakui penganiayaan, tetapi tidak melakukan pengeroyokan dan merusak area sensitif seperti informasi yang beredar di media sosial.

“Terhadap ketiga tersangka dikenakan pasal 80 ayat (1) UU No. 35/2014 tentang perubahan UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman tiga tahun enam bulan penjara, atau kategori penganiayaan ringan sesuai dengan hasil fisum oleh pihak Rumah Sakit Mitra Medika,” katanya.

Kata Anwar, sesuai UU No. 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, maka dilakukanlah diversi (pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana).

“Baik korban dan tersangka sama-sama anak-anak, sehingga semua tahapan harus didampingi oleh pihak orang tua dan KPPAD Kalbar sesuai dengan hak mereka,” katanya.

Anwar menambahkan, dari hasil visum oleh pihak Rumah Sakit Mitra Medika tidak ada luka atau memar terhadap area sensitif korban, dan itu juga diperkuat dari keterangan ketiga tersangka dan sembilan saksi yang diperiksa, yang membantah melakukan hal itu.

“Fakta yang hingga ditetapkan sebagai tersangka, yakni tersangka menjambak rambut korban, mendorong hingga jatuh, dan ada tersangka yang melempar menggunakan sandal,” katanya.

Anwar mengimbau, masyarakat agar tidak mempercayai informasi yang menyesatkan di media sosial.

Sementara itu, Kepala Bidang Dokkes Polda Kalbar, Kombes (Pol) dr Sucipto mengatakan, dari hasil pemeriksaan dokter menyatakan area sensitif masih utuh.

“Tidak ada robekan atau luka, dan tidak ada trauma fisik pada area sensitif tersebut,” katanya.

Audrey mengaku dianiaya oleh siswi SMA di Pontianak pada 29 Maret 2019. Namun, peristiwa itu baru diadukan ke Polsek Pontianak Selatan pada 5 April 2019 dan kemudian dilimpahkan ke Polresta Pontianak. (Maya)