Mahasiswa UI Protes Kekejaman Di Pakistan Timur

Mahasiswa UI Protes Kekejaman Di Pakistan Timur

Jakarta, 7 April 1971 – Suatu delegasi besar mahasiswa Universitas Indonesia yang diikuti pula oleh sejumlah alumni dan staf pengajarnya, Rabu siang mendatangi Kedutaan Besar Pakistan di jalan Teuku Umar, Jakarta, untuk menyampaikan “Pernyataan Protes Kemanusian” sehubungan dengan terjadinya kekerasan senjata atas manusia yang terjadi di Pakistan Timur.

Pernyataan protes yang terdiri atas 3 point berintikan : protes terhadap cara penyelesaian yang tidak sesuai dengan nilai kemanusiaan dan sebagai suatu cetusan, solidaritas Universitas terhadap pelanggaran kekebalan ilmiah lembaga pendidikan untuk mencari nilai kebenaran.

Bahwa kekerasan tanpa perikemanusiaan apapun alasannya tidak pernah dibenarkan untuk dianggap sepi oleh siapapun dan dimanapun ia berada. Kekerasan selalu meniadakan hak dasar dari masyarakat di dunia ini.

Tiadanya kemerdekaan untuk menyuarakan suara hati serta lenyapnya kemerdekaan untuk bebas dari rasa takut adalah sebagian dari akibat a-sosial yang dilakukan di Pakistan Timur dimana rakyat dibunuh, Universitas diserbu, dirusak dan para mahasiswa serta profesornya ditembaki, alasan bagi misi kemanusiaan Universitas ini untuk menganggap bahwa pemerintah pakistan tidak berhak menjadikan hal ini sebagai masalah dalam negerinya.

Karena yang ada kini ialah bagaian dari masalah seluruh umat manusia yang menginginkan jaminan atas nilai dasar mereka.
Delegasi juga menuntut dihentikannya kekerasan senjata terhdaap seluruh rakyat dan segera ditempuh cara damai menuju kearah penyelesain.

Kedubes Pakistan Didemontrasi
Para demonstran yang mendatangi Kedutaan Besar Pakistan berjumlah kira-kira 100 orang mahasiswa dengan membawa spanduk bertuliskan “General Jahya Khan Stop ! Murder And, Slaughter In East Pakistan !”.

Duta Besar Pakistan, Abdul Gajur, hanya menerima 5 orang wakil mahasiswa, dimana pembicaraan berlangsung selama ½ jam di ruang kerja duta besar.
Wakil mahasiswa tersebut terdiri dari Chaidir Makarim, Juwoo Soedarsono MA (dosen UI), Wiladi Budilarga, Widija Soedojo dan Poernama.

Dubes menolak permintaan untuk bertemu dengan massa mahasiswa yang sedang berkumpul di luar dengan alasan hal tersebut di luar wewenangnya sebagai duta besar.
Abdul Gajur berjanji akan menyampaikan perasaan para mahasiswa tersebut kepada pemerintahnya di Pakistan tapi dalam percakapan selanjutnya, dubes menyatakan untuk meg-clear-kan suasana, dianjurkan agar mahasiswa sebaliknya juga datang ke Kedubes India karena menurut Abdul Gajur semua keributan yang timbul itu terjadi karena adanya intervensi dari India. (SH)