Ada 4945 Cambukan Untuk Orang Aceh Tahun Ini

Ada 4945 Cambukan Untuk Orang Aceh Tahun Ini

Ilustrasi/SHNet

SHNet, Jakarta – Institute for Criminal Justice Reform (ICJR)menilai, pemerintah sejauh ini telah menyadari dampak buruk hukuman cambuk. Sayangnya, pemerintah lebih memilih upaya untuk menutupi dibandingkan menghapus jenis hukuman ini.

Berdasarkan catatan ICJR sepanjang 2017, praktek hukuman cambuk di Aceh masih relatif tinggi. Hukuman cambuk terus meningkat sejak Qanun Jinayat di gunakan pada tahun 2015. Sepanjang 2016, ICJR mencatat  sedikitnya 339 terpidana  telah di eksekusi cambuk di seluruh wilayah Aceh.

Pada Januari – September 2017, terdapat 188 Orang dihukum cambuk. Mereka tersebar di sembilan wilayah daerah NAD. ICJR menduga angka terpidana yang dieksekusi bisa jadi lebih besar.

“Angka timpang antara 2016 dengan 2017 diakibatkan hanya 9 daerah yang dapat dimonitori oleh ICJR. Dalam penelusuran yang dilakukan ICJR, Mahkamah Syariah Aceh tidak lagi melakukan update statistik perkara qanun jinayat di Aceh,” kata Direktur Eksekutif ICJR Supriyadi Widodo Eddyono. Di Jakarta, Jumat (22/9).

Eddy mengatakan, dengan penelusuran yang terbatas, pada 2017 ini, terdapat 24 kali eksekusi yang dilakukan di muka umum. Banda Aceh merupakan daerah dengan jumlah pelaksanaan eksekusi tertinggi yaitu 6 kali, disusul oleh Sigli/Pidie dan Jantho/Aceh besar dengan jumlah eksekusi sebanyak 4 kali. Lhoksemawe sendiri melakukan eksekusi cambuk pertama sejak qanun jinayat diberlakukan.

Eksekusi dilakukan setiap bulan. Angka tertinggi narapidana yang dieksekusi berada di bulan Juli dengan 34 terpidana dan disusul di awal tahun dengan 32 terpidana yang dieksekusi. Jika melihat angka ini maka setidaknya minimal tiap bulan yang dieksekusi cambuk di Aceh, dengan apabila dirata-ratakan ada 21 orang tiap bulan yang dieksekusi.

Berdasarkan data jenis kelamin terpidana yang dieksekusi, dari 188 orang yang dicambuk sampai dengan September 2017, terdapat  32 Perempuan yang dieksekusi, sedangkan laki laki berjumlah 156 terpidana  cambuk. Jumlah mayoritas laki-laki ini relatif  sama dengan hasil monitoring ICJR di Tahun 2016.

Dari jumlah cambukan dikenakan kepada terpidana, catatan ICJR menunjukkan sedikitnya 4945 cambukan telah dikenakan sepanjang periode tersebut. Jumlah cambukan yang diberikan juga cukup mengkhawatirkan, dalam per bulan eksekusi, angka terkecil ada di bulan Januari dengan 134 kali cambukan.

Angka cambukan terbesar tercatat dilakukan pada Mei 2017 dengan 989 cambukan yang diberikan. Jumlah cambukan tergolong tinggi juga terjadi pada Bulan Maret (758 cambukan), Juni (720 cambukan) dan September (791 cambukan). Apabila dirata-ratakan setidaknya ada 549 cambukan yang diberikan tiap bulannya.

Qanun Jinayat mengatur beberapa tindak pidana baru yang tidak diatur dalam hukum pidana nasional, seperti Khamar (minuman keras), liwath (hubungan sejenis) sampai dengan perluasan zina dalam khalwat. Dalam data yang ditemukan, jenis pidana paling banyak dijatuhkan terkait dengan  dengan pidana maisir (Judi), bermesraan, dan zina. (TH)