Militan Maute Kalahkan Kebrutalan Abu Sayyaf di Philipina Selatan

Militan Maute Kalahkan Kebrutalan Abu Sayyaf di Philipina Selatan

philstar.com

SHNet, JAKARTA – Ketua Presidium Konferensi Wali Gereja Philipina, Mgr Socrates Buenaventura  Villegas DD, mencemaskan nasib Pastor Paroki Katedral Our Lady Help Marawi di Kota Marawi, Ibu Kota Provinsi Lanao de Sur, Pulau Mindanao, Philipina Selatan.

Pastor Teresito bersama 200 warga sipil lainnya, diculik militan Omarkhayam Maute atau Omar Maute, usai penyerbuan disertai pembakaran gedung Gereja Katedral Our Lady Help Marawi, Selasa, 23 Mei 2017.

“Semoga kekerasan di Philipina Selatan segera berakhir,” harap Uskup Villegas sebagaimana dilaporkan The Associated Press (AP), Selasa, 27 Juni 2017.

Penculikan Teresito menandai Marawai sepenuhnya dikuasai kelompok Islam radikal di Philipina Selatan, Selasa, 23 Mei 2017. Sejak militer Philipina berhasil merebut kembali Marawi terhitung Senin, 12 Juni 2016, sampai sekarang, nasib Pastor Teresito dan 200 warga sipil lainnya yang diculik militan Omar Maute, tidak diketahui.

Belakangan muncul tawaran militan Maute yang mempermalukan militer Philipina. The Associated Press, melansir, Maute berniat melepaskan Teresito bersama warga sipil lainnya, asal keluarganya yang ditangkap militer segera dibebaskan.

Pada 11 Juni 2017, ayah Omar Maute, Cayamoro, dan istri keduanya ditangkap di Davao. Kemudian, 13 Juni 2017, ibunda dari Maute bersaudara, Ominta Farhana diringkus di Lanao de Sur.

Tanggal 18 Juni 2017, Farida, Abdul Rahman dan Al Jadid Tomato, ditangkap di Iloilo Ibu Kota Provinsi Iloilo, Philipina Barat. Belum ada tanggapan resmi militer Philipina terhadap tawaran militan Maute.

Militan Maute, merupakan kelompok Islam garis keras terbaru di Philipina Selatan. Ada banyak kelompok Islam garis  di Philipina Selatan. The Inguire, melansir, selain Maute, jaringan teroris islam di Mindanao Sulu dan Palawan (Minsupala), Philipina Selatan berafiliasi kepada Islamic State of Indonesia and Philipina (ISIP), terdiri dari  Bangsamoro Islamic Freedom Fighter (BIFF).

Selain itu, menurut Inguire, ada Abu Sayyaf, Ansar Khalifah Philipina (AKP), Moro Islamic Liberation Front (MILF), Moro National Liberation Front (MNLF), Justrice for Islamic Movement (JIM), Mindanao Independent Movement (MIM).

Delapan kelompok Islam garis keras yang ingin memisahkan diri dari Philipina, memiliki jaringan kerjasama lintas negara antara Kelompok Jihad di Asia Tenggara.

Selain negara-negara Islam di Timur Tengah dan Afrika, Indonesia dan Malaysia tidak dapat dikesampingkan dalam hal memberikan kontribusi kepada kelompok pejuang Muslim Moro di Mindanao sejak awal konflik dari tahun 1972.

Kelompok-kelompok Islam di Indonesia sudah mengirimkan sukarelewaannya dalam membantu saudara-saudara mereka di wilayah Minsupala, Philipina Selatan.

Camp militer Mujahidin Indonesia berafiliasi dengan kelompok Islam garis keras di Philipina Selatan, terdiri dari: Camp Solo, Camp Banten, Camp Sulawesi

Camp Ash-Syabab yang berada dibawah kendali kelompok Negara Islam Indonesia (NII)

Camp Al-Fatih (dibawah kendali kelompok Sulawesi).

Kemudian Camp Hudaibiyah didirikanAbdullah Sungkar 1994. Tugas camp Mujahidin Indonesia mendukung kamp-kamp militer Moro lainnya seperti: Camp Abu Bakar As-Siddique, Camp Busrah, Camp Bilal, Camp Omar, Camp Pagalungan, Camp Datuk Piang, dan Camp Balusi. Alumni Moro di Indonesia sejak tahun 1972 mencapai angka 30.000 orang.

Itulah sebabnya, militer Philipina mengalami kesulitan memberantas ISIP, karena pada kenyataan saat merebut Marawi, Selasa, 23 Mei 2017, didukung 9 organisasi militan Islam garis keras, terutama dari militan Maute.

Juru bicara militer Filipina Kolonel Edgard Arevalo, mengaku, dalam perkembangan terakhir, militan Maute mengalahkan kebrutalan Abu Sayyaf. Pertempuran militer Philipina melawan ISIP yang disokong militan Maute di Marawi, telah menyebabkan ada 62 anggota militer, 19 warga sipil  258 anggota milisi Maute.

Dari pihak militer, termasuk di antaranya 13 anggota marinir tewas. Jatuhnya korban jiwa dari marinir Manila menjadi salah satu kerugian terbesar yang dialami negara itu sejak perang melawan kelompok Maute dimulai.

Laporan pecahnya pertempuran sengit bersamaan dengan aksi sniper Maute yang menewaskan remaja 14 tahun yang sedang salat Jumat di sebuah masjid di Marawi. Korban terkena tembakan di kepala dan meninggal seketika.

Korban diketahui Abdillah Masid. Korban sedang salat Jumat bersama ayahnya, Cumacasar, dan kerabatnya yang lain di Masjid Datu Saber sekitar pukul 12.30 waktu setempat, Jumat, 9 Juni 2017. Masjid hanya berjarak beberapa meter dari kamp Brigade 103 Angkatan Darat Filipina di Marawi.

Kamp miiliter di Marawi, sedianya dikunjungi Presiden Philipina Rodrigo Duterte, Kamis, 8 Juni 2017. Duterte batal berkunjung, setelah Pasukan Keamanan Presiden dan pasukan militer melaporkan situasi keamanan belum kondusif.

Kendati demikian, Preside Rodrigo Duterte, menegaskan, tidak akan pernah kompromi dengan kelompok Islam garis keras. Duterte memberlakukan darurat militer di seluruh wilayah Minsupala.

“Saya mohon maaf mesti menghancurkan Marawi lewat serangan udara dibantu Amerika Serikat. Karena jika tidak dibantu serangan udara, militer darat pemerintah tidak mampu melawan kelompok militan Maute yang bersembunyi di gedung dan bunker bawah tanah,” ujar Duterte. (Aju)