JAD Kelompok Teroris Danai Milisi Indonesia ke Marawi

JAD Kelompok Teroris Danai Milisi Indonesia ke Marawi

ist

SHNet, JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyebutkan, organisasi teroris paling aktif di Indonesia, Jamaah Ansharut Daullah (JAD), bertindak sebagai pihak yang selalu menandai milisi asal Indonesia yang akan bergabung dengan Islamic State of Indonesia and Philipina (ISIP) di Marawi, Ibu Kota Provinsi Lanao de Sur, Pulau Mindanao, Philipina Selatan.

Direktur Bidang Pencegahan BNPT, Brigjen Hamidin, Selasa (27/6/2017), menjelaskan, jalur keberangkatan milisi Indonesia ke Philipina Selatan, melewati dua rute, yakni Pulau Miangas, Provinsi Sulawesi Utara.

Di samping itu, Negara Sabah, Federasi Malaysia, dijadikan pintu masuk lain para milisi difasilitasi JAD Indonesia untuk bergabung dengan ISIP di wilayah Mindanao, Sulu dan Palawan (Minsupala), Philipina Selatan.

Khusus keberangkatan lewat Negara Bagian Sabah, milisi Indonesia direkrut kelompok Muhammad Wandi Muhammad Zedi dan Dr Mahmud Ahmad. Mahmud Ahmad ditengarai sudah berada di sana di Minsupala, bersama dengan orang Indonesia yang namanya Aiman Marzuki.

Mengutip sumber Polisi Republik Indonesia (Polri), Hamidin, menyebutkan, milisi Indonesia tergabung di Marawi, di antaranya Anggara Suprayogi, Yayat Hidayat Tarli, Al Ikhwan Yushel, Yoki Pratama Windyarto, Mochammad Jaelani Firdaus, dan Muhammad Gufron.

Muhammad Ilham Syahputra, anggota milisi asal Indonesia lainnya yang dilaporkan sudah tewas dalam pertempuran dengan militer Philipina.

Sejarah pembentukan JAD memang menarik dicermati. The Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC)–lembaga pengamat terorisme Asia Tenggara—membuat analisis berjudul: “Disunity Among Indonesia ISIS Supporters and the Risk of More Violence”.

Dalam analisis diluncurkan tahun 2016, IPAC menyebut organisasi teroris paling aktif di Indonesia, Jamaah Ansharut Daullah (JAD), didirikan di Kota Baru, Malang, Provinsi Jawa Timur tahun 2015, dengan menempatkan Abubakar Ba’asyir sebagai Dewan Penasehat.

Beberapa entitas teroris telah mendeklarasikan bergabung yakni, Mujahidin Indonesia Timur pimpinan almarhum Santoso, alias Abu Wardah, Muhaidin Indonesia Barat pimpinan Abu Jandal, alias Salim At Tamimi, Jamaah Islamiyah (JI), Al Muhajirun (afiliasi Hizbut Tahrir Indonesia), Tim Hisbah, dan Ansharut Daulah Islamiyah (ADI).

Deklarasi ini diyakini sebagai deklarasi Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Ini sebagai buntut dari dicapnya Jemaah Ansharut Tauhid (JAT) yang dibentuk Abu Bakar Ba’asyir sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada 2012, dengan tuduhan sebagai dalang Bom Bali 2002.

Atas itulah, sejak tahun 2015 muncul istilah JAD. Meski tak jelas siapa yang dipastikan sebagai pemimpin, namun JAD sebagai pemasok milisi untuk perang di Suriah dan belakangan aktif menciptakan kekacauan di Philipina Selatan.

“Jemaah Ansharut Daulah hanya sebagai istilah generik untuk menyebut mereka yang mendukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS),” tulis laporan IPAC.

Maka tidak heran apabila pada Rabu, 11 Januari 2017, Pemerintah Amerika Serikat, resmi menyebutkan JAD sebagai jaringan teroris internasioanal.

Sementara itu, Polri telah menetapkan 4 tersangka dari jaringan JAD Medan, dalam insiden pembunuhan Aiptu Martua Singalingging di Markas Polisi Daerah Sumatera Utara, Medan, pukul 03.WIB, Minggu, 25 Juni 2017.

Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Hubungan Masyarakat Polri, Komisaris Besar Polisi Martinus Sitompol, Selasa (27/6), menjelaskan, para tersangka Syawaluddin Pakpahan (43) yang mengalami luka tembak, Boboy (17) bertugas mencari kelemahan Mapolda Sumut.

Kemudian Firmansyah Putra Yudi, perencanan serangan ke Pos Jaga Polda Sumut. Sedangkan tersangka meninggal dunia Ardial Ramadhana yang luka tembak di dada.

Martinus Sitompul menuturkan, tersangka Boboy dan Ardial Ramadhan membantu melakukan survei satu minggu sebelum penyerangan ke Mapolda Sumut. “Para tersangka dijerat dengan pasal UU Pemberantasan tindak pidana terorisme,” kata Martinus Sitompul. (Aju)