Program Hibah Dorong Inovasi Konservasi di Papua Barat

Program Hibah Dorong Inovasi Konservasi di Papua Barat

Inovasi Small Grants Program (ISPG) Menelurkan 32 Konservasi Berbasis Komunitas

sungai remu / flickr.com

SHNet, Jakarta – Pada 4-6 Oktober 2016, Conservation International (CI) Indonesia bersama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat, World Wildlife Fund (WWF), dan The Nature Conservancy (TNC) mengadakan Forum INOVASI Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) di Manokwari, Papua Barat.

Forum ini bertujuan sebagai sarana berbagi dan pembentukan jejaring bagi para penerima hibah Inovasi Small Grants Program (ISGP) yang difasilitasi oleh Conservation International sejak Agustus 2015 silam dan akan berakhir pada bulan Maret 2017.

ISGP merupakan program hibah kecil dan menengah yang diberikan kepada kelompok-kelompok lokal pelaku konservasi di wilayah BLKB sebagai lokasi dengan keanekaragaman hayati yang paling tinggi di dunia. CI, bersama dengan WWF dan TNC, serta bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat, telah melakukan berbagai program konservasi di wilayah tersebut sejak 10 tahun silam.

ISGP merupakan salah satu program untuk memperkuat keterlibatan dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mendukung upaya konservasi di wilayah perairan Bentang Laut Kepala Burung.

Sebanyak 25 dari 27 kelompok penerima hibah yang bertanggung jawab atas 32 inisiatif terpilih dari 63 proposal, hadir dalam Forum INOVASI. Kelompok-kelompok penerima hibah berasal dari kabupaten Kaimana, Sorong, Teluk Wondama, Raja Ampat, Teluk Bintuni, dan Tambrauw, serta Biak, provinsi Papua. Sebanyak 15 kelompok atau hampir 60% dari seluruh kelompok merupakan komunitas akar rumput yang berasal dari masyarakat dan bukan merupakan lembaga berbadan hukum.

Inisiatif-inisiatif yang dilakukan berfokus pada empat tema utama, yakni kesehatan lingkungan, pembangunan kapasitas lokal, penguatan produksi perikanan berkelanjutan, serta perlindungan habitat dan spesies.
“Lewat dana hibah yang dikucurkan oleh ISGP, Kelompok Peduli Sungai Remu bisa melaksanakan berbagai inisiatif konservasi. Lebih jauh lagi, berbagai aktivitas yang dilakukan berhasil mendorong pengesahan sebuah peraturan daerah yang akan menyelamatkan Sungai Remu, yakni Perda Kota Sorong No. 8 tahun 2015 tentang Pengelolaan Hutan Mangrove di Kawasan Muara Sungai dan Pantai”, ujar Syafruddin Sabonnama, pendiri Kelompok Peduli Sungai Remu, salah satu penerima hibah inovasi.

Kelompok Peduli Sungai Remu merupakan kelompok berbasis masyarakat yang berupaya untuk menjaga kebersihan Sungai Remu di Sorong, dan merupakan kelompok pertama yang menggagas gerakan melindungi Sungai Remu, ikon kota Sorong.
Ke depannya, ISGP diharapkan terus berjalan dan memberikan bantuan terhadap kelompok-kelompok lainnya guna menjamin rasa kepemilikan lokal terhadap wilayah konservasi di Papua Barat, baik kawasan perairan maupun darat, yang mendukung inisiatif Pemerintah Papua Barat sebagai Provinsi Konservasi.

Marine Program Director CI Indonesia, Victor Nikijuluw, menyampaikan bahwa program hibah ini telah berjalan sangat baik dan diharapkan ke depan mampu menyasar kelompok-kelompok lokal yang melakukan konservasi darat.

Di sela penandatanganan Nota Kesepahaman tentang Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pembangunan Berkelanjutan di Papua Barat antara Pemerintah Provinsi Papua Barat dan CI yang dilaksanakan pada waktu yang sama, Victor menambahkan “Upaya konservasi darat dan konservasi kelautan yang terintegrasi dari hulu-hilir akan mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi mencapai pembangunan berkelanjutan.”

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Papua Barat, Nataniel D. Mandacan mewakili Pemerintah Provinsi Papua Barat, menunjukkan dukungan terhadap program hibah ini sekaligus menekankan pentingnya konservasi berbasis masyarakat di wilayah Papua Barat. “Kepemilikan lokal merupakan aspek penting bagi keberlanjutan jangka panjang dan keberhasilan pembangunan di Provinsi Papua Barat yang mengedepankan prinsip-prinsip kelestarian sesuai visi Provinsi Konservasi,” tutupnya.

***

Tentang Conservation International Indonesia
Sejak tahun 1987, Conservation International telah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan manusia melalui perlindungan alam. Dengan panduan prinsip bahwa alam tidak butuh manusia, namun manusia yang membutuhkan alam untuk makanan, air, kesehatan, dan mata pencaharian – CI bekerja dengan lebih dari 1.000 mitra di seluruh dunia, untuk memastikan sebuah planet yang sehat dan sejahtera yang dapat mendukung kesejahteraan manusia.
Conservation International telah bekerja di Indonesia sejak tahun 1991, mendukung upaya konservasi dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. CI Indonesia membayangkan Indonesia yang sehat sejahtera dimana masyarakatnya berkomitmen untuk menjaga dan menghargai alam untuk manfaat jangka panjang masyarakat Indonesia dan kehidupan di bumi. CI mencapai tujuan konservasi berdasar tiga pilar fundamental yang terhubung: menjaga kekayaan alam, tata kelola yang produktif, dan produksi berkelanjutan.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi: www.conservation.or.id, dan akun sosial media Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube.

Tentang Inisiatif Bentang Laut Kepala Burung
Sejak 2004, Conservation International telah memimpin sebuah inisiatif dengan 30 mitra internasional dan lokal di wilayah Kepala Burung, Papua Barat, Indonesia untuk membangun dua belas kawasan perlindungan laut. Kolaborasi antara ilmuwan konservasi dengan komunitas lokal telah mengantarkan jejaring ini sebagai salah satu inisiatif konservasi laut paling sukses di dunia dan kini menjadi model konservasi yang berbasis komunitas. Upaya sepanjang 12 tahun ini juga turut menjadi nyata berkat adanya dukungan utama dari Walton Family Foundation serta 70 kontributor lainnya. Pelajari lebih lanjut mengenai wilayah Kepala Burung di: www.birdsheadseascape.com

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
Dewi Nursanti
Marine Grants Coordinator
dnursanti@conservation.org