Kirab Jathilan, Sakral yang “Disamunkan” (2)

Kirab Jathilan, Sakral yang “Disamunkan” (2)

Seniman Padepokan Tjipta Boedaja melaksanakan ritual Kirab Jathilan dalam Suran di Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (16/10). Peserta membawa properti Kirab, seperti tampah dan linggis. [SHNet/Anang Christian]

SHNet, Magelang –  Hari dan bulan terus berjalan. Bulan Suro 1438 Hijriyah pun memasuki hari terakhirnya hari ini. Begitu pula perayaan-perayaan Suran di kalangan masyarakat Jawa, kemeriahannya berakhir sementara, dan baru akan kita lihat sekitar setahun lagi. Di antara kemeriahan yang tersaji selama Suran tahun 2016 ini, ada catatan mengenai tradisi Kirab Jathilan oleh Padepokan Tjipta Boedaja yang menarik untuk kita cermati, berikut ini.

Baca Juga: Kirab Jathilan, Sakral yang “Disamunkan” (1)

Padepokan Tjipta Boedaja memperingati tradisi Suran dengan cara yang berbeda dengan dusun-dusun lainnya. Selain tetap melaksanakan acara–ada ataupun tidak ada penontonnya–, Kirab di Dusun Tutup Ngisor, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini juga menggunakan benda-benda pusaka dan properti-properti tertentu untuk menyamunkan (menyamarkan) makna kesakralan yang terkandung dalam tradisi Suran.

“Masing-masing properti dalam Kirab Jathilan menyiratkan makna kesakralannya tersendiri,” kata Bambang, sesepuh Padepokan Tjipta Boedaja di tengah-tengah masa perayaan bulan Suro di kawasan Merapi, medio Oktober 2016 ini.

Seniman Padepokan Tjipta Boedaja melaksanakan ritual Kirab Jathilan dalam Suran di Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (16/10). Peserta membawa properti Kirab, seperti tampah dan linggis. [SHNet/Anang Cristian]
Seniman Padepokan Tjipta Boedaja melaksanakan ritual Kirab Jathilan dalam Suran di Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (16/10). Peserta membawa properti Kirab, seperti tampah dan linggis. [SHNet/Anang Christian]
Ia menjelaskan, properti Kirab Jathilan di Padepokan Tjipta Boedaja selama ini berupa sapu lidi, linggis, munthu atau ulegan, tampah, dan centhong nasi. Sapu lidi melambangkan alat membersihkan segala sesuatu yang kotor (rereget), atau yang biasa disebut dengan sukerto. Sedangkan linggis melambangkan senjata kaum petani yang memiliki keunggulan dan kekuatan, karena dapat dipergunakan untuk menggali tanah hingga mendongkrak benda-benda keras.

“Linggis biasa digunakan untuk menggali tanah dan me-njugil batu. Bagi orang Jawa, linggis juga dianggap sebagai alat pertanian yang “berani” menghadapi benda-benda keras, misalnya batu,” kata Bambang.

Alat Dapur
Munthu atau ulegan yang merupakan alat rumah tangga di dapur juga menjadi salah satu properti Kirab Jathilan. Munthu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa, digunakan para ibu rumah tangga untuk menghaluskan bumbu dapur. Bumbu dapur memiliki banyak sekali jenisnya dan bermacam-macam pula rasanya. Ada rasa manis, asin, gurih, pedas, pahit, getir dan seterusnya.

“Keberadaan  munthu dalam kirab menggambarkan keberanian seseorang untuk menghadapi segala rasa kehidupan baik manis, ‘gurih’, ‘pedas’, pahit, bahkan yang getir sekalipun,” kata Bambang.

Tampah sehari-hari merupakan alat  pertanian dan peralatan dapur. Warga menggunakan tampah untuk menampi beras sebelum dimasak. Kegiatan menampi bertujuan memisahkan beras dengan kotorannya, seperti gabah, kerikil, dan kotoran lainnya. Keberadaan tampah dalam kirab, menurut Bambang, melambangkan pentingnya pemisahan sifat manusia, antara sifat yang baik dengan yang buruk, dan juga antara energi positif dengan yang negatif.

Di kalangan masyarakat Jawa, centhong merupakan alat dapur yang biasa digunakan untuk mengaduk dan mengambil nasi dari dandang. Nasi yang diambil dari dandang tersebut umumnya bisa dalam kondisi panas atau dingin. Keberadaan centhong dalam Kirab Jathilan menurut Bambang dipakai untuk menggambarkan upaya keteguhan manusia yang harus siap menghadapi segala kondisi dalam kehidupan sehari-hari, baik “panas” maupun “dingin”.

Tetabuhan Tolak Bala
Bambang menjelaskan dalam Kirab Jathilan, beberapa alat tersebut umumnya ditempatkan berpasangan. Linggis berpasangan dengan munthu dan tampah dipasangkan dengan centhong.  Semua alat tersebut menurutnya juga difungsikan sebagai alat perkusi dengan nada tertentu yang dapat menjadi tetabuhan pengiring perjalanan kirab.

“Bunyi yang dihasilkan alat ini dipercaya juga dapat menjadi tulak balak (tolak bala) untuk mengusir begasakan atau energi negatif,” kata Bambang.

Selain itu, menurutnya, masih ada beberapa properti lainnya yang mempunyai nilai filosofi-filosofi tersendiri.

 

Peserta pementasan dalam ritual Kirab Jathilan di halaman Pendopo Padepokan Tjipta Boedaja, Minggu (16/10). [SHNet/Anang Cristian]
Peserta pementasan dalam ritual Kirab Jathilan di halaman Pendopo Padepokan Tjipta Boedaja, Minggu (16/10). [SHNet/Anang Christian]

Acara Kirab Jathilan di Dusun Tutup Ngisor merupakan bagian dari rangkaian acara Suran kelompok seniman Padepokan Tjipta Boedaja. Ritual ini sudah menjadi kegiatan wajib dan rutin bagi keluarga Padepokan. Selain untuk memperingati bulan Suro, acara ini juga telah menjadi tradisi turun-temurun yang dilakukan pertama kali sejak tahun 1937 oleh pendiri Padepokan, Eyang Romo Yoso Sudarmo.  Pada tahun ini Padepokan Tjipta Boedaya melaksanakan Suran pada 13 sampai dengan 16 Oktober 2016, atau tanggal 11 sampai dengan 15 Muharram 1438 Hijriyah. Saat ini Padepokan Tjipta Boedaja diketuai Sitras Anjilin, salah seorang anak Romo Yoso Sudarmo. (Penulis Yoko Masturrait, warga Lereng Merapi, Magelang, Jawa Tengah)

Baca juga: Suran dan Ulang Tahun Padepokan Tjipta Boedaja ; Yenny Wahid Ajak Desa Gaungkan Perdamaian ; 19 Pondok Pesantren Peringati Hari Santri ; Kenduri dan Kirab Agung 1 Suro 1950/ 1 Muharam 1438 H di TMII