Belajar Sederhana dari VB Dacosta

Belajar Sederhana dari VB Dacosta

Ilustrasi/Its

Tokoh legislator 3 zaman VB. Da Costa telah meninggal. Tokoh asal Paga, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu meninggal akibat serangan jantung dalam usia 89 tahun. Semua yang mengenalnya secara dekat pasti mengagumi sosok ini. Senyumnya manis, berwibawa, tetapi setiap kata dan kalimat yang diucapkannya selalu dengan tutur yang sederhana dan santun.

Di balik kesederhanaan dan kesantunan itu sesunguhnya tersimpan watak keras, gigih dan cerdas ketika ia harus mempertahankan argumentasinya. Terlebih lagi ketika memperjuangkan sebuah nilai kebenaran untuk kepentingan bangsa ini.

Saya megenal secara dekat almarhum pada 980, ketika saya masih kuliah di smester akhir Fakultas Hukum. Saat itu saya masih magang di Kantor Advokat R.O. Tambunan, seorang Advokat dan Politisi mantan kader Golkar. Hubungan antara Da Costa dan R.O. Tambunan sangat dekat. Mereka pernah sama-sama cukup lama di Komisi III DPR RI dari Fraksi berbeda.

Da Costa dari Fraksi PDI sedangkan R.O. Tambunan dari Fraksi Golkar. Kita tahu dalam banyak hal dua partai ini sering bertolak belakang ketika berada dalam satu forum guna membahas RUU atau masalah lainnya menyangkut kepentingan bangsa ini. Kedua pribadi ini saling mengagumi bahkan saling memuji.

Dari pertemuan yang berkali-kali dilakukan antara Da Costa dan R.O. Tambunan yang selalu saya ikuti, tidak pernah saya dengar mereka berbicara tentang proyek atau komisi atau hal-hal yang sifatnya aji mumpung. Berbeda sekali dengan kondisi saat ini. Pembicaraan komisi melanda hampir seluruh Anggota DPR RI.

Dengan kata lain tokoh sekaliber Da Costa sepanjang hidupnya lebih memikirkan dan memperjuangkan nasib bangsa ini ketimbang persoalan pribadi atau mencari-cari masalah untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Banyak peristiwa politik di DPR yang menampilkan kegigihannya yang saat itu hampir tiap hari menghiasi Surat Khabar Nasional.

Saya beberapa kali saksikan sendiri ketika tahun 1980 terjadi pembahasan RUU KUHAP. Pro dan kontra tentang berbagai hal menyangkut materi KUHAP sangat kental antara ketiga Fraksi di DPR, yaitu Golkar di satu pihak dan PDI, PPP di pihak lain. Perbedaan terkait masuknya Hak Asasi Manusia/HAM di dalam KUHAP.

Polemik tentang masuknya HAM di dalam KUHAP, secara gigih diperjuangkan Da Costa dari FPDI dan berhasil menunda atau menggagalkan pengesahan RUU KUHAP pada tahun 1980. Penundaan itu menjadi berkah bagi bangsa ini, karena dengan penundaan itu perjuangan memasukan HAM dalam KUHAP berhasil digolkan oleh Da Costa dkk dari FPDI. Baru pada 1981 dibahas kembali dan disahkan pada 1981.

Hasilnya, bangsa ini pertama kali memiliki KUHAP nasional sebagai sebuah karya agung bangsa sendiri. Semua Fraksi akhirnya medapatkan pemahaman yang sama tentang perlunya HAM diatur secara jelas dan tegas dalam KUHAP, seperti perlunya tersangka didampingi Penesahat Hukum, soal Bantuan Hukum, pembatasan masa penahanan tersangka, hak tersangka untuk mendapatkan penangguhan penahanan, SP3 dan praperadilan.

Inilah yang secara gigih dipertahankan oleh karena masuknya HAM di dalam KUHAP tidak sejalan dengan konsep Polri dan Kejaksaan melalui Golkar di DPR RI. Kegigihan mempertahankan ideologi yang diamanatkan konstitusi bukan dilakukan secara asal-asalan atau asal bunyi. Tetapi betul-betul dipersiapkan secara baik. Apalagi VB. Da Costa sejak tahun 1955 – 1959 menjadi anggota Dewan Konstituante.

Jika dilihat dari kekuatan Fraksi PDI dalam konteks perpolitikan masa itu, mustahil FPDI bisa menggolkan keinginannya mempertahankan masuknya HAM dalam KUHAP. Namun, karena kekuatan individu dengan kharisma dan kecerdasan yang ditopang keberanian tanpa menyerah, mayoritas DPR setuju konsep HAM di dalam KUHAP dimasukkan.

Saat ini tokoh legislator nasional 3 zaman sejak Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi yang menghabiskan waktunya selama tidak kurang dari 50 tahun di DPR RI, telah tiada. Namun kepergiannya itu tidak menghilangkan ingatan pada sepak terjangnya sebagai tokoh dengan sosok yang pikiran, hati, dan ucapan menyatu dalam satu sikap : mempertahankan kepentingan bangsa dengan nilai kebangsaan yang dianut oleh UUD’45.

Pasca ia meninggalkan paggung di Komisi III DPR RI, kita sudah kehilangan warna PDI di Komisi III. Dulu meskipun kekuatannya sangat kecil, tetapi mampu berjuang mepertahankan ideologi kebangsaan dan nilai-nilai konstitusi yang dituangkan dalam Pembukaan UUD’45.

Kesederhanaan dalam hidup sehari-hari memberi kesan sosok ini tidak mengejar materi selama 50 tahun di DPR RI. Padahal siapa yang tidak megenal Da Costa dalam jagat perpolitikan Indonesia?Ini satu hal yang luar biasa dan harus dijadikan teladan bagi semua.

Selama jalan Bapak kit VB. Da Costa! Semoga akan lahir Da Costa-Da Costa baru dari NTT di tengah maraknya polah tingkah generasi muda yang mengedepankan perilaku pragmatisme, koncoisme dan kroniisme. Kepergiannya tidak hanya membuat NTT kehilangan seorang tokoh panutan, tetapi bangsa Indonesiapun kehilangan tokoh dengan kriteria khusus (3 in one) yang langka ini.

PETRUS-SELESTINUSPetrus Selestinus.
Penulis adalah Advokat Peradi dan Koordinator TPDI

NO COMMENTS