Belajar dari Masa Depan

Belajar dari Masa Depan

Pada 1966, dalam pidato peringatan HUT ke-21 RI, Soekarno mengatakan bangsa Indonesia sebaiknya tak melupakan sejarah. Pidato yang kemudian menjadi pidato terakhir Soekarno, sebelum digulingkan Soeharto, tersebut mengingatkan bahwa sejarah tak boleh ditinggalkan karena sejarah merupakan akumulasi dari dari pencapaian kita hari ini. Jika kita melupakan sejarah maka kita akan “berdiri di atas kekosongan” dan lantas menjadi bingung. Kebingungan tersebut, kata Soekarno, pada akhirnya mendorong terjadinya amuk.

Peringatan Soekarno tepat. Sejarah mirip sebuah peta petunjuk arah jalan. Kegagalan kita memahami sejarah akan menyebabkan kita kehilangan arah. Tapi berpegang terus menerus pada sejarah dan membentengi diri terhadap perubahan yang muncul dari masa depan, jika tak hati-hati, juga akan memelesetkan kita menjadi pecundang. Kita, kata Einstein, tidak dapat memecahkan masalah kita dengan cara berpikir yang biasa kita gunakan saat membuatnya. Kita membutuhkan cara berpikir yang sama sekali berbeda untuk menggerakkan perubahan.

Di hari-hari ini, saat informasi datang bagai air bah dan nyaris melumpuhkan logika kritis kita, maka ide perubahan juga harus berasal dari masa depan. Jika kita hanya belajar dan berpegang pada masa lalu, apalagi dengan cara berpikir yang sudah biasa kita gunakan selama ini, maka sudah pasti kita akan tergilas.

Sikap curiga kita yang cenderung berlebihan terhadap berbagai inisiatif maupun inovasi baru, terutama yang dilahirkan oleh generasi muda, menjadikan kita benar-benar seperti katak dalam tempurung. Resistensi kita terhadap ide dan wacana baru yang dilontarkan anak-anak muda, membuat kita stagnan dan tanpa sadar berkutat pada hal yang itu-itu saja dan tak henti mengunyah-ngunyah sentimentalitas yang sudah usang.

Kita lupa bahwa negeri ini didirikan oleh nyala gairah anak-anak muda usia 20-an. Dari merekalah konsep kebangsaan ditelorkan dan menjadi sebuah gerakan kemerdekaan. Anak-anak muda tersebut menggunakan sejarah sebagai pantulan dari apa yang sudah dan belum dilakukan, tapi mereka sekaligus juga melihat ke dalam mata bocah-bocah yang baru dilahirkan untuk mengetahui jenis masa depan apa yang akan terbentuk jika kita hanya berkutat pada yang dulu dan malas keluar dari zona nyaman hari ini.

SHNet lahir karena keyakinan bahwa memperjuangkan kemerdekaan dan perdamaian, kebenaran dan keadilan yang berdasarkan Kasih, tak hanya bisa dipelajari dari masa lalu, tapi jusru dari masa depan.

Pada generasi-generasi yang lahir hari ini dan tumbuh di masa depan lah, kita harus membaca arah zaman. Jika tidak, maka laju informasi–yang berhasil membuat dunia tungang langgang—akan membuat kita kebingungan menetapkan arah.

Salah satu cara belajar dari masa depan adalah menyiapkan diri untuk “dikejutkan” oleh inovasi-inovasi baru, membuka pikiran kita agar tak gampang berprasangka pada sesuatu yang “berbeda”, membuka hati kita agar bisa memilah mana yang “tulus” dan mana yang “bulus”, dan membuka kehendak kita untuk mencari tahu dan melakukan apa yang mungkin bagi terwujudnya kemerdekaan, perdamaian, kebenaran, dan keadilan dengan berpegang pada solidaritas keamanusiaan.

Di tengah tsunami informasi yang diantarkan oleh media digital, kehadiran SHNet tak berniat membuat kegaduhan baru. SHNet lahir justru hadir untuk memberi udara segar bagi publik yang hampir sesak nafas dengan banjir informasi yang seolah tak memberi ruang dialog. SHNet muncul untuk memberi ruang dialog bagi gairah-gairah muda yang memiliki kerendahan hati untuk belajar dari masa depan.

Gairah yang terbuka terhadap perbedaan, kritis terhadap ketidakadilan, dan menyambut baik inisiatif perubahan. Gairah yang melihat bahwa “jurnalisme” bukanlah “kotbah” atau rentetan “statement” dari para pemegang uang, pengendali kekuasan, maupun elite politik, tapi sebuah ruang yang mengupas fakta lapis demi lapis secara akurat dan menjadi inspirasi bagi kemerdekaan, perdamaian, keadilan, dan kebenaran berdasarkan Kasih. Gairah yang dimiliki oleh generasi muda atau mereka yang berjiwa muda yang menyemai benih perubahan dengan cara yang kerapkali gagal dipahami oleh generasi tua.

SHNet hadir karena kita mempercayai bahwa selalu ada harapan di tengah situasi yang paling buruk sekalipun. Harapan harus dicari, ditemukan, ditebar, ditumbuhkan, dipupuk, dirawat dan dikembangkan terus menerus. Keyakinan tentang harapan ini juga disampaikan oleh wartawan senior Sinar Harapan Aristides Katoppo dalam tulisannya di edisi terakhir media cetak Sinar Harapan pada 31 Desember 2015 lalu yang berjudul Sampai Jumpa Lagi. Kini, SHNet hadir untuk memastikan bahwa kita tak boleh kehilangan harapan, meski dalam situasi tergelap sekalipun, karena masing-masing dari kita adalah penyala obor harapan.***

NO COMMENTS