Pemerintah Berikan Penghargaan Ormas 2017

Pemerintah Berikan Penghargaan Ormas 2017

ist

Pemerintah memberikan apresiasi besar kepada Organisasi Kemasyarakatan (Ormas). Ini dibuktikan melalui pemberian penghargaan oleh Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) kepada Ormas dalam acara forum koordinasi nasional organisasi kemasyarakatan tahun 2017, di Hotel Redtop, Jakarta, 30 November 2017.

Penghargaan Ormas 2017 “Dedikasi untuk Indonesia” diberikan kepada delapan Ormas karena dinilai memberikan kontribusi luar biasa pada pemberdayaan masyarakat dan keIndonesiaan. Penghargaan Ormas 2017 diserahkan Sekretaris Jenderal Kemendagri, Hadi Prabowo.

Penghargaan dibagi dalam enam kategori, yakni pendidikan, kesehatan, pemberdayaan perempuan, kebudayaan, sosial kemanusiaan, dan lingkungan hidup. Kemendagri juga memberikan penghargaan Pencapaian Sepanjang Hidup (Long Life Achievement) kepada Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dalam sambutan yang dibacakan Hadi Prabowo mengatakan, Ormas merupakan potensi bangsa yang harus dikelola secara positif. Keberadaan dan keberagaman Ormas di tengah-tengah masyarakat diharapkan dapat menjadi perekat untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Direktur Ormas La Ode Ahmad mengatakan, pemberian penghargaan merupakan sebagian upaya pemberdayaan yang dilakukan pemerintah sebagai mana diatur dalam Undang Undang Ormas. Penilaian atas penghargaan ini dilakukan oleh tim seleksi yang terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, dan media, dengan menggunakan beberapa indikator sebagai tolok ukur. Penilaian dilakukan kepada Ormas yang berbadan hukum maupun yang memiliki Surat Keterangan Terdaftar (SKT).

Berbagai Penghargaan
Penghargaan Ormas 2017 bidang pendidikan diberikan kepada Yayasan Taman Siswa. Taman Siswa adalah nama sekolah yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara pada 1922 di Yogyakarta. Sekolah ini didirikan untuk menghadapi persoalan pendidikan. Pada masa itu, banyak orang ingin sekolah tetapi tempatnya tidak mencukupi. Sementara sekolah yang didirikan pemerintah Hindia Belanda, sistem pengajarannya tidak memuaskan rakyat.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan Barat yang diterapkan oleh pemerintah Hindia Belanda terlalu intelektualistik dan materialistik, sehingga tidak dapat menjawab kebutuhan bangsa. Keberadaan sekolah Taman Siswa saat ini tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Penghargaan bidang kesehatan diberikan kepada Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Organisasi ini berdiri pada 1957. PKBI merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memelopori gerakan Keluarga Berencana di Indonesia. Lahirnya PKBI dilatarbelakangi keprihatinan para pendiri PKBI, yang terdiri dari sekelompok tokoh masyarakat dan ahli kesehatan terhadap berbagai masalah kependudukan dan tingginya angka kematian ibu di Indonesia.

PKBI percaya bahwa keluarga adalah pilar utama untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Keluarga yang dimaksud ialah keluarga yang bertanggung jawab yaitu keluarga yang menunaikan tanggung jawabnya dalam dimensi kelahiran, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan masa depan.

Penghargaan bidang kebudayaan kepada Bentara Budaya. Bentara Budaya adalah lembaga kebudayaan yang didirikan Kompas Gramedia, yang artinya utusan budaya. Diresmikan pertama kali oleh Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia pada 26 September 1982. Bentara Budaya sering mengadakan kerjasama dengan lembaga kebudayaan asing untuk mempresentasikan kegiatan lintas budaya.

Penghargaan bidang sosial kemanusiaan kepada International NGO Forum on Indonesian Development (INFID). Organisasi ini didirikan sejak tahun 1985. Tokoh-tokoh masyarakat sipil yang mendirikan antara lain, Gus Dur, Asmara Nababan, Adnan Buyung Nasution, dan Dawam Rahardjo. INFID terlibat dalam proses demokratisasi di Indonesia. Lembaga ini berkontribusi pada berbagai upaya dan usulan regulasi dalam bidang hak asasi manusia, kebebasan pers, rule of law, hak-hak buruh, partisipasi warga, dan keadilan gender.

Penghargaan bidang pemberdayaan perempuan diberikan kepada Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Organisasi ini didirikan tahun 1998. KPI adalah organisasi perempuan yang berjuang untuk mewujudkan keadilan dan demokrasi dengan berpegang teguh kepada nilai-nilai dan prinsip kejujuran, keterbukaan, persamaan, kesetaraan, persaudarian (sisterhood), kebebasan, kerakyatan, kemandirian, keberagaman, non-sektarian, non- partisan, nir kekerasan, berwawasan lingkungan dan solidaritas pada rakyat kecil dan yang tertindas.

Penghargaan bidang lingkungan hidup diberikan kepada Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI). Yayasan KEHATI berdiri tahun 1994 dimaksudkan untuk menghimpun dan mengelola sumberdaya yang selanjutnya disalurkan dalam bentuk dana hibah, fasilitasi, konsultasi dan berbagai fasilitas lain guna menunjang berbagai program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya secara adil dan berkelanjutan.

Keberadaan Yayasan KEHATI tidak terlepas dari wujud pelaksanaan KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992 dan Deklarasi Tokyo tahun 1993 dimana pimpinan tiga negara yaitu Amerika Serikat, Jepang dan Indonesia sepakat bekerjasama untuk membantu program pelestarian keanekaragaman hayati secara berkelanjutan di Indonesia.

Sementara itu, ada Muhammadiyah yang didirikan tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan. Sedangkan Nahdlatul Ulama (NU) didirikan tahun 1926 dan dipimpin KH. Hasyim Asy’ari. Dua ormas Islam tersebut berkontribusi besar dalam berbagai bidang kegiatan dalam proses kemerdekaan dan pembangunan Indonesia.

La Ode Ahmad menyatakan, dua Ormas besar Islam tersebut menunjukkan pencapaian luar biasa sepanjang hidup dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, keragaman, dan kebersamaan sebagai satu bangsa. NU dan Muhammadiyah ikut memiliki sumbangsih besar dalam melahirkan Indonesia. Dua ormas itu sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. (Adv)