Strategi PT Tunas Ridean Tbk Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Strategi PT Tunas Ridean Tbk Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

SHNet, Jakarta- Dampak pandemi Covid-19 dirasakan oleh semua bidang usaha termasuk otomotif. Hal ini diakui oleh Direktur Utama PT Tunas Ridean Tbk Rico Adisurja Setiawan dalam public expose PT Tunas Ridean Tbk secara virtual, di Jakarta, Kamis (25/6).

Ia menjelaskan, pendapatan bersih Grup untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2020 sebesar Rp3,2 triliun, turun 11% dari tahun sebelumnya, sementara laba yang diatribusikan kepada pemegang saham Rp125,0 miliar turun 22%.

Laba Grup dari bisnis otomotif turun 17% menjadi Rp79,3 miliar, disebabkan oleh penurunan penjualan. Pasar mobil nasional turun 7% menjadi 237.000 unit, sementara penjualan mobil baru Grup turun 16% menjadi 10.758 unit. Pasar nasional perdagangan motor turun 7% pada kuartal pertama tahun ini menjadi 1,6 juta unit.

Penjualan sepeda motor Grup, yang terutama berlokasi di Sumatra turun 14% menjadi 48.843 unit.
Kontribusi laba dari bisnis rental turun 35% menjadi Rp9,4 miliar, disebabkan oleh keuntungan yang lebih rendah dari penjualan armada dan biaya penyusutan yang lebih tinggi. Jumlah armada rental sedikit turun menjadi 8.066 unit.
Perusahaan asosiasi yang 49% sahamnya dimiliki Grup, Mandiri Tunas Finance, memberikan kontribusi laba sebesar Rp36,3 miliar, 28% lebih rendah dari tahun lalu terutama akibat dari perubahan peraturan seputar praktik penagihan, termasuk relaksasi atas angsuran pinjaman sebagai salah satu tanggapan pemerintah dalam menghadapi pandemi COVID-19. Jumlah pembiayaan baru naik 5% menjadi Rp7,3 triliun

Meski demikian, lanjut Rico, PT Tunas Ridean Tbk punya strategi untuk tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19. “Akibat PSBB, kantor pusat tidak beroperasi. Maka ekspansi capex (capital expenditure/belanja modal) tahun ini kami sesuaikan dengan menurunkan hingga 16 persen. Pengurangan biaya opex (operational expenditure/belanja operasional) juga kami lakukan. Sejalan dengan itu kami juga lakukan investasi digital,” ujarnya.
Ia menambahkan, untuk menjangkau konsumen, perusahaan otomotif ini melakukan penjualan lewat online. “Kami lakukan perubahan cara kerja. Kami berupaya melakukan penjualan secara online bekerjasama dengan Tokopedia. Selain itu, penjualan dilakukan juga lewat instagram dan facebook. Kami juga melakukan booking online dan memperkuat website” tuturnya.

Pada 5 Juni, PT Tunas Ridean Tbk sudah membuka workshop, showroom dan bengkel. Meski demikian, perusahaan otomotif ini tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Kendati demikian, sesuai target revisi Gaikindo untuk penjualan 2020 turun 40% menjadi 600 ribu unit untuk mobil, dan 4 juta unit kendaraan motor, maka Grup Tunas akan menjaga market share dari target tersebut. “Kami berharap situasi segera membaik. Juni kami sudah membuka kembali showroom dan workshop, juga bengkel. Antrian konsumen mulai panjang di bengkel, dan juga permintaan mobil baru mulai naik lagi,” ungkap Rico.

Grup Tunas masih mencatat pendapatan bersih untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 31 Maret 2020 sebesar Rp3,2 triliun. Namun angka tersebut turun 11% dari tahun sebelumnya.

Rico menjelaskan, penurunan laba tersebut disumbang oleh penurunan penjualan bisnis otomotif hinga 17% menjadi Rp79,3 miliar di awal tahun 2020. “Ini karena dampak covid, intensitas persaingan, juga akibat banjir di awal tahun 2020,” jelas Rico.

Dia menyebutkan, pasar mobil nasional turun 7% menjadi 237.000 unit, sementara penjualan mobil baru Grup turun 16% menjadi 10.758 unit. Demikian juga pasar nasional perdagangan motor turun 7% pada kuartal pertama tahun ini menjadi 1,6 juta unit. Penjualan sepeda motor Grup, yang terutama berlokasi di Sumatra turun 14% menjadi 48.843 unit.

“Penurunan penjualan kendaraan bermotor juga diakibatkan adanya aturan baru terkait covid. Ini cukup mempengaruhi karena rata-rata pembelian kendaraan bermotor secara kredit,” tambah Rico.

Kontribusi laba dari bisnis rental turun 35% menjadi Rp9,4 miliar, disebabkan oleh keuntungan yang lebih rendah dari penjualan armada dan biaya penyusutan yang lebih tinggi. Jumlah armada rental sedikit turun menjadi 8.066 unit.

Demikian juga perusahaan asosiasi yang 49% sahamnya dimiliki Grup, Mandiri Tunas Finance, memberikan kontribusi laba sebesar Rp36,3 miliar, 28% lebih rendah dari tahun lalu.

Deviden 2019

Rico lebih lanjut mengungkapkan, untuk tahun buku 2019, Tunas Grup membagikan dividen final tunai sebesar Rp 145,08 miliar kepada 5,58 miliar lembar saham, atau sebesar Rp 26 per saham. Dari angka tersebut, sebesar Rp44, 64 miliar atau Rp8 per saham telah dibayarkan sebagai dividen interim pada tanggal 5 Desember 2019. Sehingga sisanya sebesar Rp100,44 miliar atau Rp18 per saham akan dibayarkan sebagai dividen final tunai.

Pendapatan bersih Grup untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2019 sebesar Rp13,0 triliun turun 3% dari tahun sebelumnya, sementara laba yang diatribusikan kepada pemegang saham Rp582,7 miliar naik 4%. Laba per saham juga naik 4% menjadi Rp104.

Laba Grup dari bisnis otomotif naik 5% menjadi Rp312,9 miliar, walaupun terjadi penurunan penjualan mobil, didukung oleh meningkatnya marjin dari perdagangan kendaraan bermotor.

“Pasar mobil nasional turun 11% menjadi 1.030.126 unit, sementara penjualan mobil Grup turun 10% menjadi 43.704 unit, seiring dengan kondisi pasar. Pasar nasional perdagangan motor meningkat 2% menjadi 6,5 juta unit dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2018. Penjualan sepeda motor Grup, yang terutama berlokasi di Sumatra, turun 3% menjadi 240.597 unit,”jelas Rico.

Kontribusi laba dari bisnis rental turun 21% menjadi Rp51,6 miliar, terutama disebabkan oleh keuntungan yang lebih rendah dari pelepasan/penjualan armada dan biaya penyusutan yang lebih tinggi menghasilkan marjin bersih yang lebih rendah. Jumlah armada rental turun 4% menjadi 8.299 unit.

Perusahaan asosiasi yang 49% sahamnya dimiliki Grup, Mandiri Tunas Finance, memberikan kontribusi laba sebesar Rp 218,2 miliar, 10% lebih tinggi tahun-ke-tahun terutama disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi yang diperoleh dari portofolio pinjaman yang lebih besar. Jumlah pembiayaan baru naik 7% menjadi Rp28,8 triliun. (Stevani Elisabeth)