Memastikan CSR Tepat Guna, Sebuah Catatan Pengalaman

Memastikan CSR Tepat Guna, Sebuah Catatan Pengalaman

Oleh :Indra Pradana Singawinata Ph.D

SHNet – Masih teringat saat diberikan sebuah buku tulisan dari seorang sahabat. Saya anggap sebagai salah satu Tokoh CSR Nasional, La Tofi. Judulnya, “Kill CSR : Lakukan 7 Terobosan (2014)”. Di dalamnya, ia menawarkan sebuah gagasan terobosan untuk membangun dan memperkuat sebuah program CSR perusahaan yang lebih sustain dan berdampak jangka panjang mengikuti life cycle dari perusahaan itu sendiri.

Saya mengenal beliau cukup lama. Wakti itu, saya bekerja selama 8 tahun pada sebuah yayasan pendidikan Indonesia berkaliber internasional (2007 – 2015) yang memang didirikan oleh sang pemilik untuk fokus bergerak dalam sebuah misi membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan nasional di Indonesia. Khususnya bagi anak-anak yang berpotensi tinggi, namun tidak mampu secara ekonomi.

Di yayasan pendidikan ini saya menimba berbagai ilmu dan diberikan kesempatan untuk mengimplementasikan secara langsung misi serta strategi utama yayasan yang pada akhirnya diwujudkan dalam sebuah sistem pendidikan yang holistic. Mulai dari level taman kanak-kanak hingga universitas dalam satu ekosistem pendidikan yang berkesinambungan pada tahun 2014.

Pertengahan 2015 – sekarang saya bergabung di tempat yang baru, PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia – Persero (PT PII), sebuah Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang bergerak pada bidang penjaminan investasi di bidang infrastruktur berskema “Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha” atau yang resmi disingkat dengan skema KPBU (berdasarkan Perpres no 38 / 2015).

Sebuah SMV Kemenkeu yang memiliki peranan cukup unik dan sangat penting. Sebagai penjamin keamanan dan kenyamanan pihak swasta/badan usaha yang menginvestasikan dananya di dalam sebuah proyek infrastruktur yang sifatnya jangka panjang.

Dua Pilar

Nah, saya ingin berbagi pengalaman mengenai transformasi sebuah program CSR dalam perusahaan yang terjadi dalam kurun waktu 3 tahun sejak 2017 – sekarang, yang pada akhirnya berdampak cukup signifikan pada masyarakat terdampak proyek, serta bagi kelangsungan kegiatan perusahaan sendiri. Hal yang dilakukan adalah dengan menggunakan 7 terobosan yang ditawarkan oleh La Tofi (2014).

Program CSR jangka menengah – panjang (6 bulan – 2 tahun) yang telah dan masih kami laksanakan sementara ini terdiri dari 2 pilar besar di luar beberapa pilar lain. Pendidikan dan Pemberdayaan UKM.

Program ini khusus dirancang untuk selalu berjalan seiring dengan lamanya kegiatan sebuah proyek infratruktur; sehingga masyarakat terdampak proyek dapat ikut merasakan manfaat dari kehadiran proyek tersebut. Namun disebabkan situasi wabah Covid-19, akhirnya beberapa program jangka menengah- panjang tersebut ada yang diubah menjadi program ad-hoc bidang Penanggulangan Bencana dan Kesehatan.

Bagi Program Pendidikan, PT PII jarang memberikan bantuan fisik, tapi fokus pada software dari dunia pendidikan itu sendiri. Fokus pada SDM dengan memberikan pelatihan bagi kepala sekolah, guru, murid serta orang tua murid. Demikian juga dengan Pemberdayaan UKM, fokus pelatihan para anggota kelompok UKM dalam mulai merencanakan usaha, membuat produk UKM hingga akuntansi sederhana untuk pengelolaan keuangan UKM.

Bersama-sama dengan pemilik proyek infrastruktur dan stakeholders setempat (pemda, masyarakat, LSM, tokoh, dll) program CSR dirancang berdasarkan kesepakatan bersama. Sehingga self of belonging dari grass roots tercipta dengan kuat karena aspirasi datang dari bawah.

Sampai saat ini, Program Pendidikan telah berhasil mendidik dan meningkatkan kualitas guru-guru di daerah terdampak proyek sebanyak lebih dari 100 guru tingkat SD-SMA di 5 daerah (Manado – Sulut, Bekasi – Jabar, DKI Jakarta, Natuna – Kepri dan Sorong – Papua Barat). Guru-guru tersebut dididik dan dilatih untuk mendapatkan sertifikasi keahlian (serifikasi guru) di bidang mereka masing-masing yang dapat berguna bagi karier mereka dan pastinya bagi para murid.

Para murid berkesempatan memperoleh pengajaran dengan menggunakan metodologi, pedagogi dan sistem sekolah yang lebih baik. Hasilnya, tahun 2020 semua sekolah yang mengikuti program CSR pelatihan guru ini memperoleh tingkat kelulusan murid 100% dengan nilai cukup tinggi di daerahnya.

Pemberdayaan UKM dilakukan di dua daerah dengan memberikan manfaat kepada sekitar 100 anggota UKM binaan. Di Bitung, Sulut dibentuk kelompok usaha bengkel motor kecil yang dimiliki oleh para pemuda yang desanya terkena dampak proyek jalan tol Manado – Bitung.

Sedangkan di Mandalika – Lombok dibentuk empat kelompok usaha pembuatan produk snacks asli desa setempat dengan mempergunakan bahan baku asli dari desa tersebut. Keempat kelompok usaha UKM tersebut beranggotakan para pelaku usaha (hampir semuanya ibu-ibu) yang desanya terkena dampak dari pembangunan proyek kawasan pariwisata Mandalika yang telah dimulai proses pembangunanya.

Saat ini, baik kelompok usaha bengkel motor kecil di Manado dan UKM produk snack di Mandalika masih berjalan dengan baik dan secara konkrit memberikan manfaat nyata bagi mereka. Pelatihan para pelaku usaha bengkel motor di daerah Bitung selain dilakukan oleh mitra CSR PT PII, juga melibatkan Balai Latihan dan Keterampilan (BLK) setempat. dengan demikian, Pemda Bitung pun sebagai salah satu stakeholders juga turut aktif merawat program ini melalui Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) – nya.

Program UKM Mandalika, setelah mereka mulai berhasil menjual produk snacks UKM-nya keluar desa, di tahun 2020 ini program dilanjutkan dengan pengujian produk UKM tersebut ke BPOM guna memperoleh lisensi BPOM saat nantinya akan mulai diproduksi dengan lebih banyak lagi.

Transformasi yang kami lakukan dalam upaya meningkatkan kualitas serta efektifitas program CSR tidak terlepas dari dukungan penuh bahkan turun tangan secara langsung dari para top management dalam perusahaan sendiri. Mereka memiliki visi misi yang sama dalam melihat CSR perusahaan.

CSR merupakan satu kesatuan yang melekat dalam setiap kegiatan perusahaan dalam menjamin proyek-proyek infrastruktur di daerah. Secara ringkas, kesuksesan program CSR perusahaan yang ditandai dengan diperolehnya Top CSR Award 2019 dapat diraih oleh terobosan-terobosan berikut (La Tofi, 2014).

Berawal dari Top Level

CSR Plan tahunan dibuat dan disepakati dengan melibatkan seluruh elemen perusahaan. Mulai dari level CEO sampai dengan staf lintas divisi. Divisi CSR sendiri hingga divisi yang terkait langsung dengan proyek-proyek yang dijamin oleh perusahaan. Dengan adanya approval dari top management terhadap CSR Plan, program CSR menjadi lebih lancar secara administrasi, lebih efektif secara results dan lebih terukur karena BoD pun turut serta mengawal dan menjaga program-program CSR perusahaan.

Indra Pradana Singawinata

CSR selalu harus mengacu kepada KPI tahunan dari perusahaan. Program selalu berdasarkan kepada fokus proyek mana yang sedang disasar atau telah dijamin oleh perusahaan pada tahun berjalan. Hal inilah yang menciptakan juga kerjasama/hubungan antar divisi perusahaan lebih efektif dan komunikatif. Pada akhirnya, setiap divisi memiliki peran penting dalam setiap program CSR yang diimplementasikan. Bersama-sama dengan divisi operasional, calon lokasi program CSR serta bentuk program CSR itu sendiri dibuat dan disepakati berdasarkan masukan dari divisi operasional yang memang lebih berinteraksi banyak dengan kegiatan proyek.

Stakeholders setempat yang menjadi lokasi program CSR adalah tuan rumah. Mereka adalah masyarakat terdampak dari proyek infrastruktur yang tengah dibangun atau mungkin sudah beroperasi. Kemitraan/kerjasama dengan seluruh unsur di level grass roots sampai dengan Pemda setempat adalah sebuah keharusan.

Program CSR selalu dimulai dengan konsultasi publik yang dihadiri oleh pemda, LSM, aparat keamanan, tokoh-tokoh masyarakat dan masyarakat terdampak langsung proyek. Merekalah yang berhak menentukan program CSR seperti apa yang diinginkan.

Bangun standard

PT PII terus melakukan inovasi dan improvisasi untuk membangun sebuah standard CSR perusahaan yang mengacu pada standard bidang tertentu (standard nasional). Kami bekerja sama dengan divisi Internal Audit terus menyempurnakan sistem, serta prosedur CSR guna menciptakan tertib administrasi dan transparansi yang lebih baik serta tidak lupa pendokumentasian yang lebih detail dalam setiap kegiatan.

Kegiatan CSR PT PII

Setidaknya sudah ada standard untuk Program Pendidikan dan Pemberdayaan UKM. Misalnya, menjadikan standard kelulusan dan peningkatan income dari anggota UKM sebagai salah satu KPI program CSR. Standard program CSR yang telah terbangun selalu dikomunikasikan dengan pihak penerima manfaat agar mereka pun secara gradual dapat mengikuti dan memenuhi standard yang telah perusahaan tetapkan. Hal ini secara tidak langsung ikut mendidik penerima manfaat untuk bekerja dalam sebuah standard tersebut.

Lalu, program-program ini dikomunikasian melalui media massa guna membangun sebuah resonansi positif terhadap program CSR yang telah atau sedang dijalankan. Ujungnya adalah sosialisasi terhadap proyek infrastruktur pemerintah yang tengah dibangun kepada public, baik di pusat maupun di daerah. Kembali lagi, peran Top Management untuk memberikan penjelasan mengenai program CSR kepada public sangatlah penting. Tidaklah menyulitkan bagi mereka untuk menjelaskan, karena telah memberi approval sejak awal.

Jadi, CSR dengan berbagai definisinya, pada intinya adalah bentuk nyata dari sebuah niat baik perusahaan untuk dapat ikut berkontribusi secara langsung terhadap pembangunan kesejahteraan masyarakat yang terkena dampak dari proyek pembangunan yang telah atau sedang dibangun. Meminjam kalimat La Tofi, “Perusahaan memiliki visi/misi, dan masyarakat memiliki harapan”. Tinggal bagaimana mensinergikan keduanya menjadi sebuah kekuatan pembangunan berkesinambungan.

Indra Pradana Singawinata Ph.D, Senior Vice President Divisi CEO Office – PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia –Persero