Desa Agrowisata Payo Kembangkan berbagai Jenis Bunga Krisan

Desa Agrowisata Payo Kembangkan berbagai Jenis Bunga Krisan

SHNet, Jakarta – Kawasan agrowisata Desa Payo yang dilatarbelakangi oleh kawasan Bukit Barisan sangat indah dan alami serta mampu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang berkunjung. Bahkan, kawasan agrowisata ini dibentuk guna mendorong Desa  Payo sebagai salah satu kawasan wisata di Kota Solok, Sumatera Barat.

Kawasan agrowisata Payo dikembangkan berbagai jenis krisan bunga potong di antaranya varietas Yulita, Sintanur, Dewi Ratih, Arosuka Pelangi, Trissa, Socakawani, Velma, Vania, Cintamani, Marimar, Irana, Cayapati dan Sabiya. Sedangkan untuk krisan pot terdiri dari varietas Avanthe Agrihorti, Armita Agrihorti, Naura serta Zwena.

Ketua Gapoktan Payo Sepakat Yusrizal menyatakan awalnya melihat perkembangan bunga krisan yang sepertinya cocok untuk ditanam di kawasan Payo dan setelah dilakukan uji coba ternyata hasilnya memuaskan, selanjutnya dikembangkan dalam skala besar.

Ia menyatakan pada Maret 2020 telah dilakukan kembali penanaman Krisan Pot di Payo dengan menggunakan varietas-varietas unggul hasil penelitian Balitbangtan dengan memberdayakan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Barat tahun 2019, tidak kurang dari 60 persen wilayah Provinsi Sumatera Barat merupakan sentra pertanian. Beberapa wilayah telah menjadikan tanaman hias sebagai komoditas utama penggerak roda perekonomian masyarakatnya seperti Kota Padang yang terkenal dengan kampung flori Lubuk Minturun, Kota Padang Panjang, Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Solok dan Solok Selatan.

Kebutuhan akan tanaman hias yang terus meningkat untuk berbagai keperluan terutama dekorasi hingga bahan baku obat telah mendorong pengembangan  tanaman hias Krisan Pot dan Impatiens. Tanaman hias tersebut berpotensi dalam meningkatkan tambahan pendapatan petani dikarenakan pasarnya jelas dan bahkan sudah ada permintaan ekspor.

Untuk Krisan Pot, banyak digunakan untuk hiasan pengantin, ruangan, panggung dekorasi, karangan bunga, ucapan selamat/duka serta hiasan unit bisa dirangkai dengan bunga lain.

Nilai jualnya cukup menarik dalam satu rangkai yang berisi 10 batang dijual dikisaran harga Rp5.000-8.000 dan tentunya sangat membantu ekonomi petani.


Saat ini petani krisan mulai kewalahan dari banyaknya pesanan bunga krisan. Misalnya baru dikirim 60 pot krisan ke Payakumbuh, sebelumnya juga ke Padang, Padang Panjang, Bangkinang (Riau) dan Pekanbaru.

Pengembangan tanaman hias jenis Krisan pot dan Impatiens (pacar air) ini juga bisa menjadi daya tarik untuk keperluan wisata agro.

Pemerintah setempat dan petani lebih mendorong dan mendukung dalam mendiseminasikan tanaman hias mengingat komoditas ini punya nilai yang sangat besar.  Krisan pot memiliki beragam warna dan bentuk bunga yang sangat menarik untuk dijadikan sebagai hiasan.

Untuk Impatien pengembangannya sudah memperlihatkan hasil. Dari pengembangan impatient di Cianjur sudah dipasarkan secara global oleh Sakata Seed Corporation Jepang dan Indonesia memperoleh royalti atas hasil penjualannya.

Saat ini budidaya krisan pot tengah dilakukan di lokasi TSP Sukarami yang merupakan bagian dari BPTP Sumatera Barat dan sebanyak 5700 benih krisan pot telah didistribusikan Balai Penelitian Tanaman Hias pada Maret 2020 untuk pengembangan yang terdiri dari varietas Armitha Agrihorti, Avanthe Agrihorti, Khanza Agrihorti, Naura Agrihorti, dan Zweena Agrihorti. 

Selain itu, kontinuitas produksi yang dapat dilakukan tanpa mengenal musim serta harga yang relatif terjangkau juga menjadikan kelebihan dari komoditas ini. (Victor)